Yoga, ku labuhkan hatiku padamu

Yoga? Siapa yoga shel?

Saya berkenalan dengan Yoga pada tahun 2012 lupa tepatnya kapan. Yang saya ingat, dulu Bubu Ami yang merekomendasikan saya berkenalan dengan Yoga setelah saya cerita cukup banyak mengenai apa yang saya alami dari kecil, mulai dari kondisi fisik yang lemah sehingga mudah sakit mulai dari alergi flu menahun, asma, dan terakhir gastritis akut sampai ketergantungan saya terhadap dokter kulit. Yang mana sebenarnya itu semua juga bisa karena stres atau malah membuat saya semakin stres dengan kondisi itu semua. Jadi bersyukurlah wahai kalian yang dianugerahkan kesehatan dan fisik yang kuat, gak semua orang mudah mendapatkannya, banyak diantaranya yang harus memperjuangkan itu semua, salah satunya saya.

“Kamu gak coba olahraga rutin shel?” Pengen bangeeettt, tapi sejujurnya -entah ini hanya alasan- semenjak saya memutuskan menggunakan kerudung, saya jarang berolahraga karena diantara banyak pilihan olahraga, saya lebih memilih olahraga berenang, yang mana sudah saya tekuni sejak SMP dengan mengikuti les tambahan diluar sekolah. Selain itu juga ketika SMP saya pernah mengikuti klub Voli sih, tapi kandas ditengah jalan karena tidak kuat latihan fisiknya. hahaha.. Akhirnya saya memilih renang karena renang itu sangat ramah asma dan bagus untuk terapi asma, tapi apa daya semenjak memutuskan menggunakan kerudung di Tahun 2006 saya jadi malas untuk berenang, sesekali sih suka tapi tidak rutin.

Lalu Tahun 2012 saya mencoba Yoga, saya lupa saya dulu yoga pertama itu sama Ami di Rumahnya apa di Galenia dulu ya? Yang pasti kayaknya saya pertama berkenalan sama Yoga itu bareng kulawarGI, sepulang kerja kami yoga bersama.

Untuk orang pecicilan dan memiliki banyak energi berlebihan -tapi kondisi fisik minimalis- pada awalnya yoga itu cukup sulit. Tenang, Fokus, Konsentrasi sesuatu hal yang bukan saya banget sebenarnya, mamah bilang kalau saya diibaratkan olahraga saya mah cocoknya aerobik atau zumba. Tapi ternyata perbedaan itu yang membuat saya nyaman, dan saya butuhkan untuk memperoleh keseimbangan, sama kayak saya yang butuh bapak Reza  yang kalem, sabar, dan terorganisir untuk menjaga keseimbangan hidup saya. *uhuk*

Selain itu juga, Yoga membantu saya mengenali tubuh saya lebih dalam. Yoga mengajarkan saya untuk mengenali tubuh saya sendiri dan menerimanya, yang mana sebelumnya saya tidak tau loh. Dalam Yoga, tidak ada yang lebih hebat, jago atau apapun, mereka yang lebih lentur bukan berarti yang terbaik, kita hanya perlu melakukan gerakan sesuai kemampuan tubuh kita, walaupun sesekali kita perlu memberikan tantangan lebih tapi tetap sesuai kemampuan kita, bertahap. Awalnya saya sendiri pernah merasa, “Kok saya gak bisa, dia bisa” dan perasaan itu yang akhirnya membuat saya semakin tidak bisa. Saya ingat, dulu saya sangat kesulitan pada gerakan-gerakan yang berfokus pada lutut, seperti saat meluruskan kaki, lutut saya akan gemetaran berlebihan, selain itu saya juga sulit sekali menjaga keseimbangan, padahal teman-teman saya terlihat mudah melakukan itu semua.

Tahun berganti dan ternyata saya belum bisa konsisten melakukan Yoga, khususnya sih terkait dengan waktu dan beberapa karena pemilih instruktur. Iya memilih instruktur juga kayak nyari jodoh ya, harus yang klik, karena gak semua instruktur -menurut saya- enak. Dulu saya pernah mengikuti kelas Yoga di salah satu studio dan itu enggak enak bangeeet, susah buat dijelasinnya dengan kata-kata. Yang pasti yang saya yakini, yoga itu bukan hanya sebuah gerakan, ada perasaan disana, ada ketenangan, ada energi positif yang mana itu yang selalu saya suka. Ditambah yang lebih menyenangkan, untuk orang extrovert seperti saya Yoga memberikan energi lebih karena saya bisa bertemu dengan teman-teman yang selalu memberikan semangat dan energi positif untuk selalu beryoga. Walaupun 1 grup whatsapp yoga ceria bubar, tapi kita akan selalu bisa bertemu di event-event yoga lainnya yang tak terduga ya gaes..

Sampai akhirnya saya hamil dan saya tetap memilih yoga prenatal untuk membantu proses lahiran saya, dan ternyata lagi-lagi Yoga membuat saya semakin cinta. Yoga Prenatal juga bukan hanya sekedar olahraga, disana saya bertemu banyak ibu hamil lainnya. Ada banyak semangat disana dari para pujuang gentle birth dan kami saling berbagi pengalaman. Selain itu yang paling terasa adalah saya tidak sendiri. Ternyata apa yang saya rasakan, mereka juga merasakannya dan itu membantu menguatkan saya.  Jadi pengen Yoga Prenatal lagi. Mmmmm..

Ini sudah Tahun ke 5 saya berkenalan dengan Yoga, saya memang belum bisa headstand atau pose-pose ekstrim lainnya, tapi dengan segala ketidak rajinan ini minimal saya sudah bisa lebih mengenal tubuh saya, bisa lebih fokus, sedikit lebih calm –mungkin-, dan lutut juga tidak gemeteran berlebihan saat sedang yoga. Karena katanya seperti halnya sebuah Perubahan

“Ini bukan tentang lebih baik dari dari orang lain, tapi cukuplah lebih baik dari diri kamu sebelumnya”

Namaste

unnamed

Iklan