#1bulan1museum : Museum Sri Baduga

Museum Sri Baduga adalah museum keempat yang kami kunjungi di tahun 2017 ini. Sebenarnya kami mengunjungi museum ini pada bulan April lalu, namun karena satu dan lain hal, kami baru bisa menuliskannya sekarang. Begitu juga beberapa museum setelahnya yang sudah kami kunjungi namun belum sempat kami tuliskan, semoga secepatnya kami dapat melunasi komitmen #1bulan1museum yang tertunda. Semangat!

Untuk saya pribadi museum ini mempunyai cerita tersendiri; bisa dibilang ini museum yang paling sering saya kunjungi dulu; ketika saya masih duduk di bangku SMA sampai masa-masa awal perkuliahan. Karena museum Sri Baduga ini merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat ospek outdoor ekstrakulikuler Sang Sekar Tubles (Sanggar Seni Karya Jeung Budaya Tujuh Belas) yang diberi nama “Napak Tilas”. Museum Sri Baduga ini merupakan tempat pertama yang dikunjungi sebelum akhirnya kami berjalan kaki menggunakan pakaian Baduy ala kadarnya untuk keliling Bandung dan berakhir di studio foto di jalan Banda. Mengingatnya membuat saya rindu; haruskah saya mengadakan reuni dengan berjalan kaki kembali bersama mereka? pertanyaan pentingnya sih adalah masih kuat gak ya kaki ini dan kaki teman-teman lainnya, yang mana mungkin kini banyak diantara mereka yang sudah jadi om-om berperut besar? Hahahahaha..

IMG_0560Museum Sri Baduga sendiri terletak disebrang Tegalega, lebih tepatnya di jalan BKR No. 185. Tiket masuknya sangat terjangkau, yakni Rp. 3.000,- untuk dewasa dan Rp. 2.500,- untuk anak-anak. Tak banyak yang berubah pada bagian depan museum, hanya beberapa letak koleksi yang berpindah tempat. Lain halnya begitu kamu masuk, kamu akan melihat perubahan; yang paling jelas ada di lantai satu yaitu bagian pameran koleksi prasasti. Kami cukup menikmati lantai pertama, namun tidak ketika kami mulai masuk di lantai kedua.

IMG_0562Sawaii, yang saat itu berusia 19 bulan, menolak untuk ke atas entah karena apa. Katanya sih takut. Kami berfikir mungkin karena terdapat banyak patung menggunakan pakaian pengantin dari berbagai latar belakang; walau kalau difikir-fikir ini bukan pertama kalinya dia melihat banyak patung seperti ini. Ketika di museum Pendidikan (UPI) juga banyak patung berpakaian bermacam-macam seragam sekolah bahkan lebih banyak dari pada di sini. Atau mungkin karena gelap juga kali ya? Saya merasa pencahayaannya kurang pada beberapa bagian. Apapun alasannya kami mencoba merayunya; mengajaknya ke atas dengan menggendongnya sambil terus menguatkannya. “Gapapa Waii, kan sama ibu sama bapak”. “Tuh lihat ada ini/ada itu”. Tapi usaha kami ternyata tidak berlangsung lama, begitu kami mengajaknya lebih dalam masuk ke lantai dua, dia menolak dengan lebih keras dari sebelumnya. Kami pun mengganti rute untuk langsung naik ke lantai tiga tapi justru penolakannya semakin keras. Tanpa sempat kami lihat ada apa di lantai tiga, dia meminta turun dan keluar. Karena kami tidak ingin membuatnya trauma, kami akhirnya memilih turun dan keluar sambil terus meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dia takutkan karena kami selalu bersamanya.

IMG_0566 (2)Kami pun keluar dan memilih untuk melihat ikan sambil terus menenangkan Sawaii. Pada bagian samping luar museum sendiri terdapat sebuah kolam ikan yang cukup besar, Sawaii memilih untuk bermain di sana dan seketika itu pula mood dia membaik; dia kembali ceria dan bermain. Karena mood dia sudah membaik, maka saya mencoba menanyakan apa yang terjadi secara perlahan, “Waii kenapa gak mau masuk?” “Ada aa, ada teteh.” “Patung?” “Ada aa, ada teteh takut.” “Di mana aa sama tetehnya?” “Di sana (sambil menunjuk ke arah museum), takut.” jawabnya. Oke sip, seketika itu juga nyali saya menciut padahal mungkin yang dimaksudkan Sawaii benar-benar patung ya. Perlu saya akui, nyali saya juga payah dan itu yang dibilang oleh Pak Reza; bahwa apa yang ditakutkan oleh Sawaii itu berasal dari ibunya. Ketidaknyamanan saya terbaca oleh Sawaii padahal saya berusaha untuk biasa saja. Iya,  katanya anak merupakan pembaca emosi terbaik, terutama emosi ibunya.

Sebenarnya ketika saya bertanya mengapa dia tidak mau masuk, saya mengambil video yang kemudian saya unggah di instastory milik saya dan berbagai tanggapan pun masuk, di antaranya “museum itu kan emang terkenal spooky” atau “di sana kan banyak cerita aneh-aneh” dan tanggapan lainnya dengan nada serupa. Tapi saya dan Pak Reza sepakat bahwa apa yang terjadi di sana murni karena pencahayaan yang kurang, aura saya yang kurang nyaman, serta ditambah memang ketika itu pengunjung museum sendiri hanya kami bertiga dan ada satu orang selain kami. Jadi terlalu banyak alasan masuk akal lainnya kenapa akhirnya dia takut.

Tidak mau larut dalam ketakutan, kami memutuskan untuk menikmati aktifitas kami di luar museum mulai dari berlarian di parkiran, makan buah potong yang kami beli dari mamang-mamang gerobak yang mangkal di sekitaran museum, sampai berfoto ria bersama sambil menikmati sore yang cerah ceria di kala itu.

Iklan

#1bulan1museum : Museum Pos Indonesia

Januari 2017

Dengan datangnya kami ke Museum Pos, itu tanda bahwa kami menerima tantangan #1bulan1museum yang diberikan oleh indri guli di akhir tahun 2016 lalu. Kalau kata bu anil mah, apalah hidup kami mah banyak ekskulnya. Iya, setelah #1minggu1cerita yang sudah berjalan dari pertengahan tahun 2014 sampai dengan saat ini di shellyasmauliyah.wordpress.com ini, #30haribercerita sebuah program selama 30 hari penuh untuk rutin menulis ngeblog di Instagram @asmauliyah di setiap bulan Januari sejak tahun 2016 dan 2017, dan sekarang saya menerima tantangan #1bulan1museum selama Tahun 2017. Hahahaha..

Lalu kenapa saya tertarik menerima #1bulan1museum? Sebenarnya ketika hamil 2 tahun lalu saya dan pak suami pernah menyengaja jalan-jalan ke Museum Geologi, kami fikir ini merupakan alternatif nge-date yang seru dan murah meriah, dulu harga tiketnya Rp. 4.000,- untuk umum, entah sekarang, semoga belum naik lagi ya. Ditambah sebagai orang kabupaten Bandung, kami sendiri belum pernah datang ke semua Museum, bahkan tidak tahu ada Museum apa saja di Bandung. Padahal sejujurnya saya sendiri gak ngerti-ngerti amat tentang sejarah sih atau apa yang ada di dalam Museum itu, bahkan tak jarang saya sering mengkerutkan kening tentang apa yang ada disana seolah berkata “naon sih ini? aku kan anaknya IPA banget”, sudah abaikan. Tapi sebenarnya seru juga loh melihat hal-hal yang ada di Museum itu. Belajar mengenai masa lalu, dan katanya masa lalu bisa mengajarkan kita tentang masa depan. Jadi baik-baiklah sama mantan ya :p Museum bisa menjadi alternatif liburan yang seru, selain jalan-jalan di Ruang Publik yang lagi HITS di Bandung sendiri saat ini. Ditambah saat ini kami tidak lagi berdua, ada Sawaii si anak kumincir berusia 18 bulan, sehingga kami harus lebih selektif lagi dan memilih tempat berlibur bersama dia sekaligus harus memberikan banyak alternatif untuk dia. Jadi begitu Guli mengajak gerakan #1bulan1museum, saya dan pak suami langsung sepakat untuk menerimanya. 

Begitu mengetahui tantangan ini, hal pertama yang dilakukan adalah mencari data Museum apa saja yang ada di Bandung, karena kami membutuhkan 12 Museum selama 1 Tahun ini. Sebenarnya tidak mesti di Bandung/tempat kamu tinggal saat ini, kalau kamu mau datang ke Museum di  Kota lain/di Negara lain untuk berburu Museum juga boleh, tapi berkomitmen untuk menjadikan program ini semudah mungkin, yang paling mudah dan gampang yaudah yang ada di Bandung aja. Kalau nantinya ada rezeki/kerjaan untuk ke Kota/Negara lain ya anggap saja itu bonus yang bisa dipergunakan sekalian berburu Museum. Hahaha.. Amin! Ternyata di Bandung sendiri lumayan ada banyak, dari mulai Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, Museum Sribaduga, Museum Pos Indonesia, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Barli, Museum Zoologi, Gedung Indonesia Menggugat, Museum Pendidikan Nasional UPI, Bandung Planning Galery, Ex-LP Banceuy Bandung dan bahkan di Bandung ada juga Museum Nike Ardila loh. Sebenarnya kalau kita searching katanya ada juga Upside Down World Bandung yang katanya ini termasuk kategori Museum dengan harga tiket Dewasa 100K dan anak 50K. Wow.

Dari semua daftar tersebut, Museum yang pertama kami pilih adalah Museum Pos Indonesia, kenapa Museum Pos? karena Pak Suami dan saya sendiri belum pernah ke Museum Pos Indonesia, bahkan lebih tepatnya baru tahu beberapa tahun terakhir. Padahal ternyata si Museum ini udah ada dari Tahun 1931 dengan nama Museum PTT (Pos, Telepon, Telegram), lalu Tahun 1983 berganti nama lagi menjadi Museum Pos dan Giro dan 20 Juni 1995 (Tanggal ulang tahun saya tuh. Lah terus?! abaikan) berganti nama kembali menjadi Museum Pos Indonesia sampai dengan saat ini. Museum ini sendiri terletak di kantor pusat pos indonesia, Jalan Cilaki No 73 – Bandung yang mana masuknya gratis,  kamu hanya perlu mengisi buku tamu. Jam bukanya sendiri di hari Senin – Jum’at buka dari jam 09:00-16:00, Sabtu jam 09:00-13:00 dan Minggu Tutup.

Dibanding beberapa Museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya, Museum Pos Indonesia ini terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Membuat kita nostalgia, mengingat-ngingat masa berkirim surat, mengirim kartu pos atau yang paling diingat adalah mengingat pada masa saling mengirim kartu lebaran, rasanya dulu setiap Ramadhan datang, hal yang paling seru adalah berburu kartu lebaran yang lucu-lucu, kita tulis tangan untuk mereka yang spesial. Kalau sekarang sih tinggal mengirim pesan singkat yang mana kita bisa copy-paste dari ucapan yang kita dapat dari orang lain juga. Dan sejujurnya, semakin tahun, semakin terasa hambar setiap kali ucapan itu datang, seolah hanya basa-basi tidak terasa personal apalagi spesial.

Di sana kami juga mengingat-ngingat barang-barang mana saja yang kita alami dari apa saja yang ditampilkan, seperti salah satu kotak pos yang mengingatkan saya pada jamannya,”Kotak pos ini dulu ada di depan TK Aditya pak, dan dulu ibu suka masukin suratnya disana”. hahaha.. Iya, selain menampilkan berbagai macam koleski perangko Indonesia yang disusun berdasarkan periode, perangko pertama di Dunia, disana juga ada bermacam-macam kotak pos dan peralatan penunjang lainnya seperti timbangan paket, gerobak angkut pos, timbangan surat manual, sampai motor serta tas yang dipergunakan pada masa itu. Namun menurut saya pribadi, tampilannya kurang menarik, terutama bagian macam-macam kotak pos, kotak pos itu berjejer disalah satu lorong museum. Yang mana akan lebih seru kalau setiap kotak pos dipasang dengan suasana tahun kala itu, pasti itu akan menjadi lebih bisa membuat kita kembali ke masa itu. Mungkin kendalanya adalah tempat yang tidak begitu besar, Museumnya itu sendiri terletak di lantai basement Kantor Pusat Pos Indonesia.

Selain itu ketika kami datang, sedang ada kunjungan dari anak SMP Padalarang sekitar 100an orang membuat tempat semakin tidak kondusif untuk menikmati Museumnya. Yang mana mereka ditugaskan mengisi pertanyaan yang disediakan, jadi mereka sibuk berlari sana-sini untuk menjawabnya. Tidak butuh waktu banyak untuk berkeliling Museum itu, dalam waktu 30-60 menit maksimal kamu sudah bisa menikmati seluruh Museum itu sendiri dengan metode jalan santai sambil baca sana-sini dan sambil berfoto tentunya.