Naik Damri Yuk!

Minggu lalu Ibu harus pergi meeting di daerah gasibu, karena bapaknya ada jadwal mengajar maka Ibu memutuskan untuk pergi menggunakan Damri berdua bersama sawaii, anak perempuannya yang kini beranjak 21 bulan.

Kenapa harus Damri diantara sekian banyak pilihan trasnportasi publik lainnya? Ya karena pertama si Ibu itu mantan Ceri alias Cewek Damri ketika kuliah, jadi kudu pisan ya melestarikan Damri. hahaha.. Kangen juga kali sama Damri setelah jaman kuliah hampir tiap hari pakai Damri sampai punya tiket terusan yang khusus dibelikan papapnya. Selain itu, kini Damri  jauh lebih baik dibanding jaman dulu.

Sebelum kita cerita tentang Damri sekarang, masih ingat dengan Damri jaman dulu? Beberapa hal yang saya ingat tentang Damri jaman dulu adalah asap knalpot hitam, yang mana artinya Busnya tidak begitu bagus, jika hujan tak jarang bocor dari atapnya, banyak pedagang asongan dan pengamen jalanan silih berganti layaknya radio ya tak berhenti mengudara, harganya jauh dekat Rp.1500-1800an (seinget saya ketika terakhir kali saya naik Damri yang non AC), namanya non AC pasti panas sehingga paling enak duduk di pinggir jendela, ngetem lama sampai sekalinya datang Damri itu rebutan, penuh sehingga tak jarang kalau tidak naik dari terminal harus berdiri atau duduk di kursi kayu tambahan, selain itu kepadatan membuat Damri menjadi rawan akan copet.

Lalu bagaimana dengan Damri sekarang? Damri sekarang tidak ada yang non AC, semua ber-AC walau sekarang harganya Rp. 5000,- jauh dekat tapi sepadan dengan kondisi Damri saat ini. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya naik Damri bersama Sawaii, ini sudah ketiga kalinya, tapi bisa dibilang ini jarak terjauh saya bersama Sawaii menggunakan Damri. Dari terminal Leuwih panjang sampai Pemberhentian di Dago. Sebenarnya pengennya Damrinya bertiga sama Bapaknya, tapi sayang kesibukan tidak memungkinkan kami Da-Damri-an bersama.

Kembali kepada kondisi Damri saat ini, selain semua Damri sekarang ber-AC, kondisi bus nya pun bagus-bagus banget, udah tidak ada lagi tuh asap hitam keluar dari knalpot Damri, penempatan kursinya pun mirip-mirip Trans Jakarta, bikin betah deh dan bagus buat foto-foto (tetep harus. hahaha..) Beberapa kali ini menggunakan Damri, kami tidak pernah merasakan Damri sepenuh jaman dulu, mungkin selain peminatnya mulai berkurang, Damri sekarang katanya tidak boleh ngetem juga, jadi penuh atau tidak jika sudah waktunya berangkat, Damri harus tetap berangkat. Sehingga jarang kami melihat penumpang berdiri dari awal sampai akhir, kalaupun harus berdiri biasanya tidak terlalu lama. Harusnya dengan kondisi seperti ini, kasus pencopetan di Damri juga berkurang drastis ya..

IMG_9795Lalu bagaimana dengan pedagang asongan dan pengamen jalanan? Setelah menjadi Ibu, saya baru sadar kalau anak kecil sasaran empuk tukang dagang asongan. Begitu masuk Damri di Terminal, kami langsung di kerubuni tukang jualan dari mulai makanan ringan, minuman segar, makanan basah sampe mainan. Mereka tak segan-segan menawarkan langsung ke depan muka sawaii atau menyimpan jualannya tepat di samping sawaii. Mereka gak nawarin ke Ibunya tapi langsung ke anaknya sebagai potensi terbesar untuk jajan. Sejujurnya bagian ini agak mengganggu sih, tapi alhamdulilah sawaii tak tergoda karena dia udah aku bekali sebelumnya. Tapi tenang saja, mereka cuma akan mengasongkan dagangannya selama bus ngetem di terminal, ketika jalan tak ada pedangan asongan/pengamen berkeliaran di bus.

IMG_9800Selain itu pengalaman menarik lainnya selama kami menggunakan Damri kemarin adalah adalah sawaii gak mau di pangku! Yang membuat si ibu bayar 2 kursi, sebenernya sih gak perlu juga gak apa-apa, tapi gak enak sama yang berdiri. Yang berdiri aja tetap bayar, masa ini bocah mau duduk sendiri gak bayar? akhirnya kami pun membayar 2 tiket. Tapi karena semakin lama, semakin banyak (sekitar 5-8 orang) yang berdiri, saya pun coba berbicara pada sawaii.

Ibu : Wai, duduk dipangku ibu yu!

Sawaii : Enggak, duduk sini aja (dengan bahasa sawaii)

Ibu : Iya nanti Sawaii duduk lagi kalau udah mulai sepi, sekarang duduk sama ibu. Itu ada nenek, teteh sama tante kasian berdiri, nanti neneknya duduk sini, sawaii sama ibu ya sambil makan Pocky (cemilan dia yang sudah saya siapkan).

Sawaii : Duduk sama ibu aja

Alhamdulilah, Sawaii mau dipangku dan kami pun meminta salah satu penumpang untuk duduk dikursi kosong sebelah kami. Tak lama setelah kursi sebelah terisi, kondektur datang memberikan uang Rp. 5000,- kepada kami tanpa berkata apa-apa.

Ibu : Ha? sudah pak, gak apa-apa.

Kondektur : gak apa-apa (jawabnya singkat)

Saya kaget, kondekturnya baik banget. Dia mengembalikan uang Rp. 5000,- kami karena sawaii jadinya dipangku, padahal saya sendiri gak keberatan sama sekali kalau harus bayar, toh kalau udah sepi juga Sawaii akan duduk sendiri lagi ya di kursi. hahaha..

Ini kali kedua seingat saya, saya dibantu oleh kondektur Damri setelah dulu saya pernah melihat kasus eksibiosionis (ini perlu 1 judul baru untuk bahas kejadian ini nih) di Damri dan saya dibantu oleh seorang Kondektur dengan cara dia selalu berusaha berada dekat saya selama perjalanan dari terminal ledeng ke terminal leuwih panjang. Lah kenapa si kondekturnya gak melakukan apa pun? karena mungkin dia juga takut, tapi dia tetap berusaha untuk membantu dan sesekali kami mengobrol untuk mengalihkan perhatian selama perjalanan.

Walaupun secara fisik Damri telah banyak berubah, tapi satu yang tidak berubah dari Damri, rasa yang ada di dalamnya. Tapi kamu tidak akan pernah tahu sampai kamu berkenalan dengan dia dan semua dimulai dengan hal sederhana “Naik Damri yuk!”

unnamed

Iklan

5 thoughts on “Naik Damri Yuk!”

  1. Pengalaman paling di inget ketika naik damri pertama kali di bandung adalah, keliru naik jurusan antara cibeureum dan cibiru, padahal itu bedanya jauh banget hahahah.

    Dan sekarang ikut seneng dengan damri yang semakin bagus serta menarik dari segi penampilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s