Maaf bila berulang tahun itu salah

9 Februari 2017 ini tepat kamu berusia 29 tahun.

Maaf, saya sedang tidak mengucapkan doa “panjang umur” padamu, karena dulu sebelum kami menikah, kamu pernah bercerita untuk memiliki cita-cita meninggal di usia muda. Alasannya karena di dunia terlalu banyak ketidak idealan, jadi mending di surga. Walaupun kamu juga berkata, “meski mungkin kita harus menikmati siksa neraka dulu sebelum masuk surga, tapi gapapalah”. Tapi katamu cita-citamu berubah setelah memiliki sawaii, kamu ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama kami. Amin untuk apapun Takdir-Nya, karena Dia Maha Mengetahui.

Maaf, sekarang saya jadi takut sama yang namanya ulang tahun, apalagi ulang tahun kamu. Karena kontroversi ulang tahun itu sendiri yang masih dalam bahan diskusi panjang antara kita. Saya sudah sering mendengar berkali-kali mengenai pandangan Islam mengenai ulang tahun dan saya sudah sangat hatam atas apa isi diskusi dan alasan-alasanmu  untuk menghindar dari kata ulang tahun sejak kita berteman baik. Sebenarnya pada dasarnya saya sudah pada tahap sepakat untuk tidak “berulang tahun”, tapi ada hati kecil yang selalu ingin menunjukan bahwa kamu sangat spesial buat saya, saya ingin memperlihatkan itu, saya ingin kamu tahu bahwa kamu sangat berarti dan saya tahu bahwa itu tidak harus di hari ulang tahun.

Maaf, saya sendiri sebenarnya tidak lahir pada keluarga yang suka merayakan ulang tahun, waktu kecil saya bahkan tidak pernah merayakan ulang tahun karena kata papap “ngapain sih ulang tahun-ulang tahun?” tanpa mendapatkan penjelasan lebih, atau sebenarnya dulu papap pernah memberi penjelasan tapi saya skip ya? hahaha.. Oleh karena saya tidak pernah merasakan euforia ulang tahun, saya ingat betul saya yang akhirnya membuatkan ulang tahun untuk papap. Sepulang sekolah waktu SD, saya pernah menghias kamar papap dengan balon, lengkap dengan kertas krep berwarna-warni. Tak lupa saya siapkan hadiah berupa pulpen tinta yang saya beli dari tabungan. Saya lupa sih apa tanggapan papap detailnya, yang pasti memori saya tidak mengingat adanya kemarahan, yang saya ingat hanya ada ucapan terima kasih dan haru saat itu. Setelah itu, saya terbiasa merayakan ulang tahun anggota keluarga lainnya hanya untuk kita-kita kalangan terbatas saja sampai dengan saat ini dan menjadi semacam ritual keluarga.

Maaf, bagi saya hari kelahiran cukup memiliki makna spesial tersendiri. Saat belum ada media sosial, kita akan mengetahui siapa saja yang akan ingat hari spesial kita tanpa diingatkan oleh fitur kalendernya walau hanya memberikan ucapan selamat tanpa ada perayaan apapun. Tapi itu sudah cukup membahagiakan, diingat membuat saya sangat berarti (anaknya teh sudah butuh pengakuan dari kecil). Selain itu, saya suka memberikan resolusi-resolusi disetiap ulang tahun, umur baru seolah memacu saya untuk selalu jadi pribadi yang lebih baik. Seperti saat berulang tahun ke 20 saya memutuskan untuk berkerudung, ataupun pernah beberapa kali ulang tahun saya membuat resolusi MOVE ON pada beberapa nama. LOL. hahaha..

Dan Maaf, kebahagian kecil ini juga yang ingin saya sampaikan pada kamu, kebahagian-kebahagian kecil yang pernah saya berikan pada orang-orang disekililing saya, kini ingin saya berikan kepada kamu, saya tahu ini sangat membuat tidak nyaman untuk kamu. Saya sangat mengerti, tapi bantu saya untuk berproses. Ini tahun ke 3 dia berulang tahun setelah kita menikah, 3 tahun ini kita berhasil melewati tanpa ada kue, tanpa ada lilin, walau masih ada kado-kado kecil atau perlakuan-perlakuan spesial lainnya. Anggap saja hadiah yang saya berikan bukan hadiah ulang tahun, ini rezeki yang kebetulan ada dan bertepatan dengan diskon barang yang kamu inginkan atau butuhkan sebenarnya? Lagian gak dikasih pas tanggal 9 Februari kan ya? hanya bulan Februari. hahaha.. Dan Spaghetti tadi hanya karena sudah lama ibu tidak buat spaghetti buat bapa yang jadwal ngajarnya 2 hari ini padat, ini mah biar semangat aja. Hahaha..

Seperti kata-katamu “aku tidak ingin mendoakanmu hanya dalam satu hari ini saja, tapi 364 hari lainnya”. Sebenarnya di tanggal 9 Februari ini ada seseorang yang ingin saya perlakukan sangat istimewa, tapi nyali saya belum seberani itu. Mamah, iya mamah mertua. Orang yang melahirkan kamu, mempertaruhkan hidup dan mati untuk membawamu ke dunia, orang yang membesarkanmu dengan suka cita, orang yang rela melepaskanmu untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Terima kasih Mamah, engkau telah melahirkan laki-laki yang luar biasa yang kini ada disampingku. Maaf, nyaliku sangat kecil untuk berkata langsung padamu. Maaf, aku belum bisa menjadi isteri yang baik buatnya, ibu yang baik untuk cucumu dan kami belum menjadi anak yang berbakti untukmu. Kami hanya bisa berkata Maaf dan Doakan kami ya mah, karena ridho mu adalah ridho-Nya.

Dan Maaf Spaghettinya sudah habis disaat bila berulang tahun itu salah..

unnamed
#1minggu1cerita dalam Tema FORGIVENESS

#1bulan1museum : Museum Pos Indonesia

Januari 2017

Dengan datangnya kami ke Museum Pos, itu tanda bahwa kami menerima tantangan #1bulan1museum yang diberikan oleh indri guli di akhir tahun 2016 lalu. Kalau kata bu anil mah, apalah hidup kami mah banyak ekskulnya. Iya, setelah #1minggu1cerita yang sudah berjalan dari pertengahan tahun 2014 sampai dengan saat ini di shellyasmauliyah.wordpress.com ini, #30haribercerita sebuah program selama 30 hari penuh untuk rutin menulis ngeblog di Instagram @asmauliyah di setiap bulan Januari sejak tahun 2016 dan 2017, dan sekarang saya menerima tantangan #1bulan1museum selama Tahun 2017. Hahahaha..

Lalu kenapa saya tertarik menerima #1bulan1museum? Sebenarnya ketika hamil 2 tahun lalu saya dan pak suami pernah menyengaja jalan-jalan ke Museum Geologi, kami fikir ini merupakan alternatif nge-date yang seru dan murah meriah, dulu harga tiketnya Rp. 4.000,- untuk umum, entah sekarang, semoga belum naik lagi ya. Ditambah sebagai orang kabupaten Bandung, kami sendiri belum pernah datang ke semua Museum, bahkan tidak tahu ada Museum apa saja di Bandung. Padahal sejujurnya saya sendiri gak ngerti-ngerti amat tentang sejarah sih atau apa yang ada di dalam Museum itu, bahkan tak jarang saya sering mengkerutkan kening tentang apa yang ada disana seolah berkata “naon sih ini? aku kan anaknya IPA banget”, sudah abaikan. Tapi sebenarnya seru juga loh melihat hal-hal yang ada di Museum itu. Belajar mengenai masa lalu, dan katanya masa lalu bisa mengajarkan kita tentang masa depan. Jadi baik-baiklah sama mantan ya :p Museum bisa menjadi alternatif liburan yang seru, selain jalan-jalan di Ruang Publik yang lagi HITS di Bandung sendiri saat ini. Ditambah saat ini kami tidak lagi berdua, ada Sawaii si anak kumincir berusia 18 bulan, sehingga kami harus lebih selektif lagi dan memilih tempat berlibur bersama dia sekaligus harus memberikan banyak alternatif untuk dia. Jadi begitu Guli mengajak gerakan #1bulan1museum, saya dan pak suami langsung sepakat untuk menerimanya. 

Begitu mengetahui tantangan ini, hal pertama yang dilakukan adalah mencari data Museum apa saja yang ada di Bandung, karena kami membutuhkan 12 Museum selama 1 Tahun ini. Sebenarnya tidak mesti di Bandung/tempat kamu tinggal saat ini, kalau kamu mau datang ke Museum di  Kota lain/di Negara lain untuk berburu Museum juga boleh, tapi berkomitmen untuk menjadikan program ini semudah mungkin, yang paling mudah dan gampang yaudah yang ada di Bandung aja. Kalau nantinya ada rezeki/kerjaan untuk ke Kota/Negara lain ya anggap saja itu bonus yang bisa dipergunakan sekalian berburu Museum. Hahaha.. Amin! Ternyata di Bandung sendiri lumayan ada banyak, dari mulai Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, Museum Sribaduga, Museum Pos Indonesia, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Barli, Museum Zoologi, Gedung Indonesia Menggugat, Museum Pendidikan Nasional UPI, Bandung Planning Galery, Ex-LP Banceuy Bandung dan bahkan di Bandung ada juga Museum Nike Ardila loh. Sebenarnya kalau kita searching katanya ada juga Upside Down World Bandung yang katanya ini termasuk kategori Museum dengan harga tiket Dewasa 100K dan anak 50K. Wow.

Dari semua daftar tersebut, Museum yang pertama kami pilih adalah Museum Pos Indonesia, kenapa Museum Pos? karena Pak Suami dan saya sendiri belum pernah ke Museum Pos Indonesia, bahkan lebih tepatnya baru tahu beberapa tahun terakhir. Padahal ternyata si Museum ini udah ada dari Tahun 1931 dengan nama Museum PTT (Pos, Telepon, Telegram), lalu Tahun 1983 berganti nama lagi menjadi Museum Pos dan Giro dan 20 Juni 1995 (Tanggal ulang tahun saya tuh. Lah terus?! abaikan) berganti nama kembali menjadi Museum Pos Indonesia sampai dengan saat ini. Museum ini sendiri terletak di kantor pusat pos indonesia, Jalan Cilaki No 73 – Bandung yang mana masuknya gratis,  kamu hanya perlu mengisi buku tamu. Jam bukanya sendiri di hari Senin – Jum’at buka dari jam 09:00-16:00, Sabtu jam 09:00-13:00 dan Minggu Tutup.

Dibanding beberapa Museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya, Museum Pos Indonesia ini terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Membuat kita nostalgia, mengingat-ngingat masa berkirim surat, mengirim kartu pos atau yang paling diingat adalah mengingat pada masa saling mengirim kartu lebaran, rasanya dulu setiap Ramadhan datang, hal yang paling seru adalah berburu kartu lebaran yang lucu-lucu, kita tulis tangan untuk mereka yang spesial. Kalau sekarang sih tinggal mengirim pesan singkat yang mana kita bisa copy-paste dari ucapan yang kita dapat dari orang lain juga. Dan sejujurnya, semakin tahun, semakin terasa hambar setiap kali ucapan itu datang, seolah hanya basa-basi tidak terasa personal apalagi spesial.

Di sana kami juga mengingat-ngingat barang-barang mana saja yang kita alami dari apa saja yang ditampilkan, seperti salah satu kotak pos yang mengingatkan saya pada jamannya,”Kotak pos ini dulu ada di depan TK Aditya pak, dan dulu ibu suka masukin suratnya disana”. hahaha.. Iya, selain menampilkan berbagai macam koleski perangko Indonesia yang disusun berdasarkan periode, perangko pertama di Dunia, disana juga ada bermacam-macam kotak pos dan peralatan penunjang lainnya seperti timbangan paket, gerobak angkut pos, timbangan surat manual, sampai motor serta tas yang dipergunakan pada masa itu. Namun menurut saya pribadi, tampilannya kurang menarik, terutama bagian macam-macam kotak pos, kotak pos itu berjejer disalah satu lorong museum. Yang mana akan lebih seru kalau setiap kotak pos dipasang dengan suasana tahun kala itu, pasti itu akan menjadi lebih bisa membuat kita kembali ke masa itu. Mungkin kendalanya adalah tempat yang tidak begitu besar, Museumnya itu sendiri terletak di lantai basement Kantor Pusat Pos Indonesia.

Selain itu ketika kami datang, sedang ada kunjungan dari anak SMP Padalarang sekitar 100an orang membuat tempat semakin tidak kondusif untuk menikmati Museumnya. Yang mana mereka ditugaskan mengisi pertanyaan yang disediakan, jadi mereka sibuk berlari sana-sini untuk menjawabnya. Tidak butuh waktu banyak untuk berkeliling Museum itu, dalam waktu 30-60 menit maksimal kamu sudah bisa menikmati seluruh Museum itu sendiri dengan metode jalan santai sambil baca sana-sini dan sambil berfoto tentunya.