Kopo I’m in Love

Dengan ini saya terima segala kelebihan dan kekurangan Kopo, baik dalam suka maupun duka karena dengan segala isi dan cerita perjalanannya, saya jatuh cinta padanya. Kopo.

Berbicara kampung halaman itu berbicara mengenai Kopo. Karena Kopo merupakan satu daerah tersendiri dari Bandung. Iyalah, sebagai orang Bandung dan sekitarnya pasti gak asing ya mendengar kata KOPO. Daerah di jalur selatan yang terkenal dengan jauh dan macetnya, daerah yang tidak pernah sepi. Gimana mau sepi, angkot aja 24 jam Kopo mah, kamu pulang jam berapapun, pasti akan ada mamang-mamang baik hati menanti kita di perempatan Kopo siap mengantarkan kita pulang menggunakan angkotnya. so sweet banget kan..

Kalau ngomongin macetnya Kopo, gak akan ada habisnya kayak macetnya yang gak selesai-selesai. Jadi mari siapkan cemilan sambil menikmati perjalanan kita ke Kopo, SIAP?

Waktu kuliah saya pernah terjebak macet Kopo selama hampir 2 jam, macet di Kopo nya doang ya. Kala itu saya berangkat dari rumah jam 7, karena ada ujian jam 9. Entah mengapa kali itu Kopo macet luar biasa, sampai 2 jam saya baru jalan kira-kira 2 KM, sedangkan perjalanan saya ke UPI (Universitas Padahal IKIP). Masih ada belasan kilometer yang harus saya lalui menggunakan angkutan umum, padahal biasanya hanya perlu 1,5 – 2 jam untuk sampai ke UPI dari Kopo. Karena sudah jam 9 juga dan waktu itu saya hanya akan ujian 1 mata kuliah saja, lalu saya pulang lagi lah, percuma juga dilanjutin karena gak akan keburu juga. Ditambah dosennya terkenal kurang ramah terhadap alasan mahasiswa, kalau saya datang hari itu terlambat dan dimarahi, kalau saya datang besok juga tetap dimarahi, jadi saya memilih besok sekalian, sebagai prinsip efisiensi waktu dan perjalanan juga. Lagian udah keburu lelah dijalan juga sih. Lalu besoknya saya menghadap dosen tersebut, minta susulan ujian dan menceritakan alasannya, dan si dosen ngomong “Kalau tau rumahnya daerah Kopo, harusnya berangkat dari rumah setelah adzan shubuh biar gak terlambat datang ke kampus”, terus udah dikometari gitu, diijinkan ujian susulan? Ya enggaklah! You fikir ha? Dia suruh saya ujian susulan setelah keluar nilai ujian yang lain, jadi saya bareng sama yang remed. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali, percayalah gaes~

Selain itu buat para perempuan yang berasal dari Kopo, Kopo itu punya cara tersendiri mengetes seberapa cinta pasangan kamu yang berada diluar Kopo. Sebagai orang Kopo, kita aja males keluar rumah buat macet-macetan, ini pasangan kamu datang menembus panas dan macet atau kadang hujan dan banjir cuma buat menjemput atau mengantar kamu pulang. Atau bahkan perginya dijemput, pulangnya diantar? GILA. kalau gak cinta-cinta banget, udah putus kali kalian karena alesan “sayang, aku udah gak sanggup lagi menghadapi Kopo. Aku bisa tua dijalan kalau kayak gini terus”. Makannya kami para perempuan Kopo sangat menghargai mereka yang mau bertahan menghadapi Kopo bersama-sama, kami mah mudah terenyuh euy kalau ada yang baik mau nganter jemput gitu teh, baperan. Dan karena itu Allah menganugerahkan orang Kopo manis-manis sehingga bikin susah move on. HAHAHAHA..

Kalau buat para laki-laki warga Kopo mah udah pasti setia dan penyabar. Udah tahu Kopo macet, tapi tetap aja tinggal di Kopo, kurang setia apa coba? menghadapi macetnya kopo aja sanggup, apalagi pasangannya? secara setiap hari, orang Kopo mah menghadapi ujian kesabaran.

Sebenarnya saya sendiri lahir dan besar di kopo ke sebelah sananya, lebih tepatnya Komplek Margahayu Permai. Komplek yang membuat saya jatuh cinta skaligus patah hati. Komplek yang menemani saya dari masa alay sampe punya anak alay. Komplek yang menemani perjalanan remaja saya, sampai saya memiliki keluarga kecil. Iya, kalau ngomongin Komplek itu pasti ngomongin sahabat yang luar biasa, teman-teman seperjuangan menghadapi kamecetan Kopo dengan suka cita. Teman yang Siaga memberikan tebengan untuk pulang atau pergi. Pernah saat hujan tiba Kopo macet parah karena banjir dimana-mana, saya dijemput oleh salah satu sahabat (sekomplek) saya yang menyengaja pergi dari rumah, hujan-hujan. Itu juga karena dimintain tolong sih dan di rumah sedang tidak ada papap atau adik. Selain itu, dulu waktu kuliah papap cukup selektif memberikan ijin dengan siapa saya bisa main/sekedar nonton bioskop. Mereka adalah jawaban, kalau sama mereka pasti diijinin, alasannya karena papap tau siapa orang tuanya dan dimana rumahnya. Jadi kalau sama mereka aman hidup gue. hahaha..

Karena terlalu aman, dulu sebelum nikah saya suka nongkrong di Kios Rokok depan mesjid  bersama mereka sampai tengah malam. Saya satu-satunya cewek yang hadir diantara mereka, yang mereka jaga atau lebih tepatnya karena mereka gak menganggap saya cewek sih. hahaha.. Bahkan sampai detik-detik stres persiapan pernikahan, saya masih nongkrong sama mereka, menangis tersedu-sedu karena stres. Dan selama saya nangis mereka tetap merokok sambil ngobrol, ya saya mah nangis aja duduk diantara mereka, lalu sesekali tertawa bersama menertawakan tangisan saya. Satu lagi yang membuat saya sangat nyaman bersama mereka, saya bisa bebas menangis tanpa harus cerita apapun pada mereka, walau mereka kepo atau khawatir tapi mereka memberikan saya ruang untuk bebas memilih antara bercerita atau tidak. Mereka sangat tahu, saya pasti akan cerita jika memang bisa diceritakan. Ah rindu rasanya hadir diantara mereka..

Mereka juga yang membuat saya bertahan jomblo sampai umurnya 23 tahun. hahahaha.. Karena hidup saya tidak pernah sepi, status boleh single, tapi selalu ada gandengan yang mana gandengannya pun tergantung suasana hati, mau jalan sama siapa aja bisa, yang penting available. Hahahaha.. Bahkan kadang kami jalan bareng bersama, sekedar nonton bareng, buka puasa bareng atau liburan. Mereka juga tahu, rumah saya selalu terbuka 24 jam. Saat mereka patah hati, butuh teman cerita atau teman tertawa, mereka tahu saya selalu siap mendengarkan dan menertawakan cerita mereka. Atau saat mereka butuh seseorang buat bangunin nonton bola atau kuliah pagi, mereka juga tahu saya akan siap melakukannya walau tetap dengan ngomel-ngomel ya. Bahkan pernah salah satu diantara mereka akan mengikuti ujian penerimaan pekerjaan, dia minta dibangunin jam 6 (artinya saya harus terus menelpon dia dari 1 jam sebelum nonstop, karena doski kebluk parah) dan begitu udah bangun, dia minta dibikinin bekel makan dan disiapkan alat tulisnya coba! Jadi begitu selesai mandi dia akan berangkat dan mampir ke rumah untuk ambil semua perlengkapannya, kurang baik apa saya jadi sahabat mereka? Tapi kalau saya gak melalukan itu, besok-besok yang traktir nonton, coklat, es krim atau jemput malem-malem siapa? Hahahaha.. Iya, saya menganggap mereka seperti kakak laki-laki saya yang menyebalkan.

Sampai akhirnya saya memiliki pasangan, jarak hadir diantara kami walau bukan kami yang membuat jaraknya, saya mungkin memang tidak bisa lagi hadir diantara mereka ketika tengah malam tiba untuk bersenda gurau di Kios. Tapi mereka tahu, saya tetap ada untuk mereka saat matahari bersinar. Satu demi satu diantara kami menikah, dulu rasanya ini hanya sebuah candaan saat kami semua single, tapi kini benar adanya, kini kami sudah memiliki anak (walau belum semua, karena belum semua juga nikah) dan kini persahabatan kami berubah menjadi keluarga, keluarga yang semakin besar. Layaknya keluarga besar, kami tahu kami akan selalu berkumpul saat Lebaran tiba, di salah satu sisi tempat kami biasa janjian dulu, untuk berkumpul sebelum atau setelah sholat ied berlangsung. Kini tak perlu janjian, kami tahu dimana kami akan saling menemukan.

Teringat salah satu candaan malam kami di teras rumah saya beberapa tahun yang lalu.

“Pokokna mun anak urang bobogohan dengan jeung nu ngaran tukangna mahmud, ku urang rek titah putuskeun!” (Kalau anak saya pacaran sama yang nama belakangnya mahmud, sama saya akan disuruh putusin)

“Pah kenalin pacar aku, namanya Roberto Erlangga”, “Nama bapak kamu dilly erlangga?”, “Iya om, om kenal?”, “Sekarang juga kalian putus! tak sudi papah punya besan dia”

Lalu berakhir dengan “Mun anak si shelly kumaha? kan pasti ngaran salakina. Tingali we mun anak awewe, cerewet siga si shelly pasti anakna” (Kalau anaknya si shelly gimana? nanti kan nama belakangnya nama suaminya. Lihat aja kalau anak perempuan cerewet kayak si shelly, itu pasti anaknya) Mereka semua tertawa, kalau saya ya cemberut. hahahaha..