Ibu Atas Segala Dramanya

Minggu ini, minggu yang cukup berat saya lalui bersama Sawaii, anak kecil yang kini berusia 15 bulan 2 minggu. Bermula dari Sabtu lalu sepulang kami bertiga lari pagi keliling komplek, kami mampir ke warung yang kami lewati untuk sekedar membeli cemilan yang akan kami makan sebelum pulang kerumah. Ketika saya sedang mengantri untuk membayar, Sawaii tejatuh dari sepedahnya. Dia jatuh dari sepedahnya saat mencoba turun sendiri dan jatuh tepat pada tembok warung. Lalu Bapaknya kemana? ada, disebelahnya. Dalam hitungan detik, saat Bapaknya berbalik badan, seketika itu juga Sawaii jatuh tak tertahan. Kami semua kaget, ditambah ada darah bercucuran dari mulutnya. Saya panik, sangat! Ibu mana yang tidak panik melihat anaknya bercucuran darah. Tapi Bapaknya selalu meyakinkan saya untuk tidak panik, saat orang dewasa disekitarnya terutama ibu bapaknya panik, anak akan lebih panik. Saya panik dalam hati, walau masih terlihat gelagapan tapi saya mencoba cepat mencari solusi, membeli air mineral untuk mencuci lukanya tanpa harus langsung membayar, dan  bapaknya terus mencoba meyakinkan sawaii yang terus menangis “Gak apa-apa wai, gak apa-apa yaa”. Selesai membersihkan dan memberi dia minum, saat itu juga saya langsung menyusuinya di kursi depan warung. Saya kala itu menggunakan kerudung cukup panjang, makannya saya memberanikan diri untuk menyusuinya langsung. Karena itu cara ampuh membuat dia tenang, berdekapan, skin to skin. Saat itu juga dia tenang dan kembali ceria (Anak-anak itu makhluk paling luar biasa, dia bisa nangis kencang dan dalam hitungan detik dia bisa berhenti kemudian bermain dan tertawa seolah tidak ada apa-apa) walaupun masih ada darah yang keluar dari mulutnya. Saat itu kami tidak langsung memeriksa apa yang luka, yang kami fikirkan dia tenang dan kita pulang, dirumah baru kita lihat dan apa yang kita lakukan. Kami pun segera membayar belanjaan kami lalu pulang dengan seolah-olah semua baik-baik saja.

Di rumah kami melakukan aktifitas seperti biasa sambil melihat separah apa dan dimana saja luka Sawaii dengan lebih jelas, kami bersikap biasa saja agar Sawaii tidak panik dan rewel, beruntungnya dia memang tidak rewel. Walaupun setelah kami lihat, Sawaii memiliki 3 luka di bagian dagu terdapat baret seperti jenggot kalau dilihat dari jauh kalau Bapaknya bilang, luka di lidah yang cukup lumayan karena mungkin dia kena gigi atau dalam basa sundanya ticatrok, dan gusi yang robek di sekeliling 2 gigi seri bawah. Rasa khawatir saya saat itu membuat saya tidak bisa menangis. Hanya berfikir apa yang perlu saya lakukan, harus langsung ke IGD dokter kah? ini gimana? gak harus dijahit kah? Tapi langkah awal yang saya lakukan saat itu membeli eskrim, iya Sawaii senang eskrim dan kami butuh es itu untuk membuat pendarahan berhenti. Beruntungnya tidak ada tanda demam, tidak rewel dan semua nampak baik-baik saja, maka kami putuskan untuk tidak membawanya ke dokter, kami akan rawat dirumah, genjot asi, makan buah-buahan dan luka luarnya sesekali kami beri betadine. Dalam waktu 3 hari semua luka membaik, luka dagu mengering bahkan sudah lepas kulit keringnya, luka dilidah sudah mengering dan sobekan gusi sudah tertutup alhamdulilah. Proses pemulihan anak balita dari luka itu cepat banget emang :’)

Baru selesai menghela napas sebentar, selasa malam saya merasa suhu badan Sawaii lebih hangat dari biasanya. Jam 22:35 saya cek suhunya 36,5 °C (ketek kanan) dan 37,4 °C (ketek kiri) – kami menggunakan thermometer manual lewat ketek, klasik dan cukup gak efisien sebenernya. hahaha..- Itu pertanda saya harus siaga, dan bersiap genjot pakai asi lagi. Rabu saya gak cek suhu secara khusus tapi intinya masih hangat, yang akhirnya saya putuskan membalur Sawaii menggunakan parutan bawang merah dicampur minyak zaitun + minyak telon (ini cara tradisional yang selama ini cukup ampuh menurunkan demam Sawaii, saya menghindari memberikan obat demam pada Sawaii karena yang kami tahu demam ada reaksi normal saat tubuhnya sedang melawan virus yang masuk, tapi ada batasan sampai suhu berapa sih), namun sayangnya kali ini tidak terlalu membantu, suhunya tetap panas. Kamis saya cek ternyata sudah sampai 38,6 °C. Untuk pertama kalinya saya putuskan memberi obat panas kepada Sawaii, setelah konsul dengan beberapa ibu di grup whatsapp, saya putuskan memberikan sanmol. Sawaii mulai terlihat rewel, maunya nenen (kalau kata Sawaii mah) terus, tidur pun sambil enen. Kalau sampai saya bangun, dia akan ikut bangun.

IMG_4669
Ketika dekapan Ibu menjadi tempar paling nyaman untuk si kecil

 

Alhamdulilah setelah diberi obat, dia mau makan, main mulai ceria dan tidur lebih pulas tapi ketika saya cek lagi demamnya makin tinggi.  Jam 20:00 suhunya sudah mencapai 39,2-39,6°C, ini panas tertinggi Sawaii. Saya tetap susui dia, karena dia yang minta, dia ingin tidur sambil nenen. Jum’at jam 02:00 dia terbangun, lagi-lagi muntah namun kali ini muntahnya tidak keluar semua, kesalahan posisi membuat dia menelan lagi sebagian besar muntahannya, sehingga yang keluar hanya sedikit. Kebayangkan ya rasanya gak eneg banget, dan si anak teh gak bisa muntahinnya lagi 😦 itu sedih banget, saya cek suhunya ternyata mulai turun 37-38°C. Suhu tubuh memang secara berangsur mulai turun, tapi ternyata itu terakhir kalinya dia nenen secara sadar. Iya, setelah muntah itu, Sawaii selalu menolak untuk nenen. Pertama-tama saya tidak merasa curiga, sesekali saya tawari dia nenen tapi dia menolak, saya fikir dia gak enak aja karena lagi demam, tapi ekspresinya sedih dan tidak bergairah, dia menolak nenen tapi sesekali dia ngomong seolah minta nenen.

 

Sampai akhirnya saya merasa ada yang tidak beres, saya merasakan patah hati dan sedih. Iya kali ini saya tidak bisa menahan air mata saya, saya menangis saat bersama Sawaii. Saya takut dia weaning self (menyapih sendiri), saya belum siap dan saya yakin Sawaii juga belum siap, kami belum siap. Saya butuh teman berbagi dengan mereka yang paham betapa sulitnya fase sapih bagi seorang ibu. Saya pun chat mereka, tentunya menulisnya pun dengan berurai air mata.

12 jam Sawaii gak mau nenen dong!!
 Ibu : wai mau nenen?
 Sawaii: na (enggak)

 Ibu : wai mau nenen?
 Sawaii : mmm (manggut-manggut)
 Ibu *buka kutang*
 Sawaii : tutup *sambil tangannya menarik bajuku untuk menutup*

 Ibu : wai nenen?
 Sawaii : na
 Ibu : nenennya buat boboboy aja atuh ya?
 Sawaii : mmm (manggut-manggut)
 lalu dia bawa bonekanya, dia kasiin ke nenenku, dan mengambil boneka lainnya suruh nenen lagi

Terus aku pompalah secara udah mulai bengkak, yang pertama aku simpen ke dalam gelas
 Ibu : enum? (minum)
 Sawaii : mmm (manggut-manggut)
 kemudian dia minum sampe habis, karena habis aku pompa lagi, tapi kali ini kelihatan Sawaii. Beres pompa, aku tawarin lagi, dia malah nolak

Terakhir aku pompa lagi, aku simpen ditempat minumnya, dia mau, tetapi sedikit. Lalu gak mau lagi. Aku merasa ditolak, patah hati!

Tadi aku juga sempat ngomong sama dia,  "wai, maaf kalau kemaren-kemaren Ibu suka ngomong sakit kalau Sawaii enenin (karena dia mulai suka gigit-gigit). Sawaii skrg gamau nenen? kalau mau ngomong ya."

Tapi dia jadi lumayan rungsing, sedikit-sedikit minta gendong. Gimana inih?! dari pas dia jatoh sampe gusi sobek gak nangis, sekarang mah nangis aslinya.

Berbagai tanggapan saya terima dari mereka, berempati dengan menyemangati, memberi doa, ikut menangis dengan memberikan emoticon, bahkan memberi saran. Itu cukup membantu, membantu saya membuat tambah menangis tetapi menjadi lebih tenang, mengetahui bahwa saya tidak sendiri, dan merasa ada yang memahami apa yang saya alami. Kayaknya ini perlu banget bagi seorang ibu baru, berbagi cerita dengan mereka yang tetap membuat kita lebih lega dan dapat menjauhi stres berlebihan.

Malam sepulang bapaknya kerja, kami pergi ke dokter spesialis anak terdekat, kami mengkonsultasikan terkait ini. Ternyata Sawaii terkena radang tenggorokan dan perut kembung, dan akhirnya dia memberikan kami beberapa resep obat. Mengenai menolak menyusu, beliau hanya berkata “Setelah sembuh, ada kemungkinan dia mau menyusu dengan normal kembali, tapi bisa saja tidak karena memang anak 1 tahun itu nutrisinya tidak bisa hanya mengandalkan ASI” sumpahnya ini dokter gak peka, rasanya ingin bilang jawab “TAPI DOK, SAYA GAK BISA DIGINIIN! SAYA BELUM SIAP DOK!” Tapi udahlah, sekarang fokus Sawaii sembuh dulu, mengenai menyusui kita bahas nanti (rencananya).

Faktanya, saya selalu mencoba berbicara pada Sawaii, saya meminta maaf sama Sawaii kalau terakhir2 setelah kejadian dia jatuh saya sering mengeluh sakit saat dia nenen, saya merasa dia jadi lebih sering menggigit saat menyusu yang membuat saya kesal, saya juga memberi tahunya bahwa semua akan baik-baik saja, kita hanya perlu menjalaninya karena cepat atau lambat ini akan terlewati, sawaii akan sembuh dan bisa nenen kembali.

Oia seperti yang saya bilang sebelumnya, Sawaii menolak susu dalam keadaan sadar, saat tidak sadar seperti tidur, dia tetap mau nenen. Tapi sampai tahap dia tidur itu perlu perjuangan karena biasanya dia tidur sambil nenen. Ada drama yang gak kalah kayak sinetron yang sulit tamat dan terus-terusan nambah pemeran. Drama itu membuat kekhawatiran seluruh penghuni rumah (Yaitu kakek dan Neneknya). Tapi percayalah gaes kekhawatiran dan kepanikan yang katanya tanda sayang itu tidak membuat keadaan semakin membaik, yang ada membuat si Ibu makin stres dan ketika Ibu stres, anak jadi makin rewel. So, please gaes kalau kalian ada di sekeliling mereka yang sedang pada fase itu, bantu mereka untuk tidak ikutan riweuh, biarkan mereka menikmati waktu itu untuk menemukan jawabannya sendiri. Karena kadang yang mereka perlukan hanya bertahan, membiarkan mereka menikmati fase itu berlalu dan mereka akan belajar dengan sendirinya. Tuhan aja udah percaya nitipin makhluknya sama orang tuanya, masa kakek neneknya gak percaya. Percayalah sang ibu dan bapak bisa melaluinya, ya kecuali kalau dimintain tolong ya. Kadang inisiatip berlebih dengan maksud baik, gak selalu sampai dengan baik.

Sabtu, demam sudah membaik, nenen secara tidak sadar lancar, sarapan bubur pun lahap, namun dia tak kunjung membaik, semenjak dia menolak nenen secara sadar, dia semakin menjadi rewel, serta galak termasuk kepada bapaknya sendiri padahal biasanya best friends banget sama bapaknya. Maunya digendong, main apapun cepat bosan, semua serba salah. Dan saya tetap mencoba memberi dia enen walau hasilnya di tolak dan tetap diajak ngobrol walau jawabannya tetap “na”

Hari minggu pagi, mulai terlihat bintik merah pada pada tubuh Sawaii bahkan sampai sebagian wajah. Apa ini? Bukan Campak kan? harus ke dokter lagi? Rasanya lelah luar biasa, belum selesai sudah ada lagi yang lain. Alhamdulilah, ternyata bintik itu adalah Roseola Infantum, penyakit infeksi virus yang cukup ringan dan umum terjadi yang biasanya menyerang bayi atau anak-anak usia antara 6 bulan sampai 3 tahun, itu terjadi setelah si anak mengalami demam tinggi.

Saya tahu semua akan berlalu, saya sadar yang saya harus lakukan adalah bertahan dan ikhtiar semampu kita berikhtiar. Yang saya tidak tahu, sampai kapan? Rasanya akan jauh lebih mudah bila kita tahu sampai kapan kita harus bertahan. Beruntungnya, saya memiliki partner yang luar biasa. Iya bapaknya Sawaii, dari jaman sahabatan sampai sekarang, saya tahu dia akan selalu ada, dia akan selalu sabar dan siap bergantian bertahan saat saya kelelahan berjalan untuk terus bertahan. Menemani bangun malam untuk sekedar mengelap muntah Sawaii, menyiapkan air minum hangatnya saat saya harus terus memeluk Sawaii, bergantian bermain bersama Sawaii, menyemangati dan memberikan apresiasi setiap peningkatan dari kondisi Sawaii. Iya saya yakin kita bisa melewatinya dengan baik, ayo bertahan.

Dan dengan segala suka cita atas minggu ini, kami sangat bersyukur. Hari ini saya bisa berkata, semua mulai membaik sedikit demi sedikit. Sawaii mau nenen kembali secara sadar tanpa berkata “na” dengan usaha pendekatan pelan-pelan, menumbuhkan kembali kepercayaannya bahwa dengan mengatakan salah satunya “Sawaii jangan takut, gakan muntah lagi, muntah kemarin karena Sawaii sedang tidak enak badan, perut kembung dan tenggorokannya sakit, sekarang sudah membaik dan Sawaii bisa nenen enak lagi”. Demam sudah hilang, bintik merah mulai memudar, napsu makan baik, yang paling penting dia sudah kembali ceria dan bawel. Alhamdulilah ya Allah. Terima kasih! Kami belajar semakin banyak, sangat banyak bahkan. Dan Terima kasih luar biasa kepada para sahabat yang telah turut mendoakan serta rela diruntahin kegalauan ibu satu anak ini. Baru satu anak aja gini shel, yakin mau banyak? Etapi katanya kalau anaknya makin banyak makin selow sih. Jadi gimana nih? Hahaha..

IMG_4734
Pagi ini, ketika keadaan berangsur-angsur membaik dan si kecil mau makan sendiri

unnamed

Manusia Penikmat Rindu

Kami manusia penikmat rindu, rindu itu hadir karena jarak. Jarak yang sesungguhnya atau jarak secara artifisial. Hati yang berjarak membuat rindu, rindu yang tak terselesaikan membuat rasa tak menentu.

Rindu tak melulu hanya untuk mereka yang seharusnya dirindukan, kadang rindu ada untuk mereka yang ingin kamu tinggalkan bersama kenangannya, bukan berarti dia tak berarti tapi karena kamu tau artinya terlalu besar sehingga kamu perlu membiarkan dia pergi bersama kehidupannya sendiri menjauh dari kehidupanmu.

Rindu yang harusnya tidak pernah ada karena dari dulu memang tidak pernah ada kata KITA dalam perjalanannya. Rindu yang tidak pernah kamu tunggu tapi hadir mengisi hari-harimu. Atau sebenarnya dia yang rindu kamu?

Rindu ini hadir tanpa diminta, dia datang tanpa bicara, dia datang begitu saja dan bersemayam di dalam sebuah kebimbangan, kebimbangan atas apa yang sudah terlewati bersama, dia datang membuka memori lama yang sudah kamu tinggalkan, berdebu atau justru kamu simpan dalam tempat istimewa?

Apakah setiap rindu perlu diselesaikan? atau biarkan dia menikmati caranya sendiri sampai dia lelah dan menguap begitu saja?

Ya, Tuhan selalu pintar membuat kita berdoa, berdoa dan memohon melepaskan rindu dengan cara yang terbaik.

tumblr_mm4femLb7v1qlcjtvo1_500
Kamu inget aku gak? Aku kangen nih..

unnamed