Selamat 1 Tahun!

28 Juli 2015

Jam 06:00 seperti yang direkomendasikan Teh Okke (bidan yang membantu kami lahiran) untuk jalan cepat setiap hari,  kurang lebih 30 menit sampai 1 jam setiap harinya. Tapi kali ini saya sendiri, suami tidak ikut karena harus mencuci mobil. Selesai jalan cepat ditemani playlist, saya membantu suami menyuci mobil dan kemudian (entah mendadak rajin) saya mencuci bed set tulamidut (nama yang kami berikan untuk makhluk yang masih asik nongkrong diperut). Sebenarnya karena saya ingin, ketika (yang entah itu kapan) tulamidut lahir semua sudah siap, bersih dan wangi. Setelah semua selesai, kami pun bersantai merebah lelah ditemani Padi dengan Harmoni nya yang suami saya pilih untuk membuat kita lebih nyaman serta kemudian tertidur.

Dzuhur tiba, kami pun bangun untuk sholat dzuhur. Saat saya membersihkan diri untuk sholat, ada yang berbeda dari biasanya, ada air yang keluar cukup banyak ketika saya buang air kecil, tapi bukan pipis. Sebenarnya itu agak membuat panik sih, tapi saya berusaha tenang. “Coba tanya Teh Okke” sarannya. Sambil chat Teh Okke, saya berinisiatif bertanya pada grup whatsapp sebelah yang isinya ibu-ibu semua, bahkan sebagian besar lahiran dibantu oleh Teh Okke juga. hahahaha.. (Kita mah apa atuh, lahirannya aja di bidan yang sama) Dibuka dengan pertanyaan “Gaes, kalian sebelum lahiran keluar air banyak gitu gak sih? apaan sih ini?” jawabannya dari grup itu beragam, yang pasti mereka merekomendasikan untuk langsung hubungi Teh Okke, takut ketuban pecah kata mereka.

“Teteh di deket rumah ada bidan gak karena takutnya pecah ketuban” Teh Okke membalas chat saya. Teh Okke merekomendasikan bidan terdekat karena waktu tempuh dari rumah ke kliniknya Teh Okke itu kira-kira 1 sampai 1,5 jam. Saya pun bersiap mengunjungi bidan terdekat, tapi sebelumnya saya memilih untuk mengambil jemuran, menyetrika dan kemudian mandi dululah biar segeran, gak usah terlalu terburu-buru. Toh biasanya juga berdasarkan yang udah-udah pengalaman orang lain, kalau mau lahiran gak langsung. Ada proses mules berjam-jamnya, jadi daripada nunggu ditempat yang mana malah mancing kerasa mulesnya, mendingan santai dulu lagian belum kerasa mules juga. Selain itu kalau bener ternyata mau lahiran, saya pengen ketika pulang ke rumah itu dalam keadaan baik dan semua pekerjaan rumah sudah terselesaikan, jadi ninggalinnya tenang juga. Kan mau melahirkan yang menyenangkan, jadi harus mengurangi hal-hal yang bisa memicu stressor dong yak!

Jam 14:00 kami pergi ke Bidan pertama, yang ternyata tutup karena sedang bobo siang (kita gak usah bahas panjang ya), bidan yang kedua baru buka jam 16:00 dan mungkin sebenarnya kami bisa mengetuk rumahnya, tapi saya gak mau. Kenapa? karena takut. Hahaha.. Mamah pernah cerita, dulu waktu mau melahirkan tengah malem ke sana dan malah dimarahin sama bidannya dibilang “ibu, ke sininya kalau udah kerasa mau ee. kalau belum berarti masih lama”. Terus disuruh pulang lagi padahalkan lagi mules.  Kasian. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumah dan menelpon teh okke untuk mengkonsultasikan kembali

“Teh Okke, gimana? mending kita tunggu bidannya buka jam 4 atau sekarang ke bumi ambu? nyampe sana juga paling jam4an.”

“Teh Shelly, sekarang minggu ke berapa gitu? udah ada kontraksi ga rutin?”

“38 teh. Kontraksi? (sambil pegang perut) mmm.. biasa aja ah, kontraksi sesekali doang”

“Minggu 38? Oh yaudah ke sini ajaa”

Dan saat itu juga, kami langsung masukan tas siaga ke dalam mobil dan bersiap pergi. Sebelumnya saya live report dulu ke grup sebelah, ada beberapa petuah dari mereka selain mendoakan lancar jaya prosesnya, salah satunya, bawa gunting kuku (diperuntukan, agar saat menunggu lahiran itu bisa sambil gunting kuku. Itu juga kalau bisa ya..), Daaann katanya kalau kontraksi datang cipokan aja sama suami biar gak kerasa teuing. Mmmm.. menarik buat dicoba, biar kelihatan pasangan romantis juga lah ya B-)

Selama perjalanan saya sempat bertanya sotoy pada suami “Za, katanya kontraksi itu kayak mules mens berkali-kali lipat bahkan ada yang bilang sakitnya luar biasa. tapi aku mah ngerasa baik-baik aja, ada sih kontraksi sesekali tapi masih bisa ditahan” bahas ituu begitu teruss sampai akhirnya mobil kami diserempet angkot (hidup gue itu harus selalu ada drama dulu kayaknya ya, biar makin seru), tapi berhubung kami buru-buru dan suami saya berhati malaikat (cieh gituu), walaupun kami gak tau nanti benerinnya gimana sudahlah kita biarkan saja penyelesaiannya dengan damai. Lagian apa yang mau diharapkan dari supir angkot ABG, bertato dan nyolot gak jelas. Kita harus tetap tenang , fokus pada proses lahiran menyenangkan, mengurangi stressor dengan membiarkan dia pergi.

Begitu sampai di bumi ambu (nama klinik Teh Okke), dan dicek ternyata memang benar saya pecah ketuban dan saat itu sudah pembukaan 1,5.

“Teh shelly ngerasa kontraksi gak?”

“enggak ih biasa aja”

“yaudah gini aja, kita observasi ya sampe 5 jam kedepan, nanti Okke cek lagi jam 8 malem. kalau sampai 5 jam kedepan pembukaannya gak nambah, Okke anterin teteh ke RS buat di induksi, tenang nanti okke temenin. Soalnya SOPnya, bidan hanya boleh observasi 6 jam”.

Sejujurnya pernyatan ini cukup membuat down, karena aku pengen lahiran tenang di Bumi Ambu bareng sama suami. udah aja. Tapi kita lihat apa yang terjadi, apapun yang penting yang terbaik buat kita semua, sambil tetep ikhtiar dengan ngajak ngobrol sama tulamidut. “Tulamidut, tulamidut mau keluar sekarang ya? sok atuh. kami udah siap, Teh Okke juga. Sok tulamidut mau lahiran sama siapa? kalau mau sama teh okke, tulamidut harus semangat ya! kita tambah pembukaannya”. Saya dan suami memang mencoba untuk selalu mengkomunikasikan apapun pada tulamidut, saat kita akan melakukan apapun, makan, pergi bahkan ketika saya hendak mandi sekalipun. Karena saya tidak sendiri, ada tulamidut yang selalu turut bersama diperut. Apalagi sekarang, ini adalah momen dimana dia akan lahir, kami percaya tulamidut tau apa yang terbaik, kapan waktu yang tepat dan bagaimana caranya, kami hanya membantu memfasilitasi yang terbaik semampu kami.

Setelah selesai pengecekan, kami pamit untuk mencari makan, karena dari bangun tidur belum sempat makan. Emang boleh jalan-jalan shel? bolehlah! malahan sama teh okke disuruh nonton dulu sambil nunggu pengecekan selanjutnya, masih 3 jam lagi gitu. Tapi kami memilih untuk hanya pergi makan sekalian mencari duren biar kontraksinya bagus kata Teh Okke mah. Beberapa menit setelah masuk mobil, saya (akhirnya) merasakan kontraksi yang rasanya ternyata subhanallah ya, kontraksi yang tadi saya tanyakan adanya dimana. Ternyata si kontraksi ini membuat saya terdiam beberapa detik setiap kali kontraksi datang, membuat saya pepereket kalau bahasa sunda mah. Dari mulai 15 menit sekali sampai 5 menit sekali saya sudah mulai merasakannya. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat, mari mencari junk food dan duren!! Selama perjalanan kontraksi tetap datang dan setiap kali kontraksi datang, saya seperti sedang bermain ucing kup, mendadak mematung, stop bicara, stop makan, stop jalan, diam aja. Bahkan pernah ketika kami sedang berjalan di salah satu supermarket untuk mencari duren, saya tidak segan berpelukan pada suami  (maksud hati mengurangi rasa sakit) di depan umum.

jam 18:00 Menyerah! Selesai makan seadanya dan tidak menemukan duren, saya meminta suami untuk langsung kembali ke Bumi Ambu, gak kuat, mau bobo, mau istirahat di Bumi Ambu. kami meluncur kembali, begitu sampai saya ditawari mandi air hangat, saya pun setuju dengan tujuan lagi-lagi siapa tau bisa membuat badan lebih rileks. Tapi ternyata kontaksi tidak pandang bulu dan tempat, ketika saya sedang mandi pun kontraksi datang. Lalu apa yang saya lakukan? Ya sama, mematung dan kadang terdiam dalam posisi jongkok, terus aja gitu setiap kontraksi datang selama saya mandi. Selesai mandi saya bilang sama suami

“Za, aku cape mau tidur aja”.

“Teh Okke, Shelly mau tidur kalau udah waktunya cek mah bangunin aja ya”

“Kalau tidur mah gapapa sok, gakan Okke bangunin kasian. lagian jago kalau bisa tidur lagi kontrasksi gitu”

Ha?! aku jago tidur kali Teh Okke, bisalah, gumamku dalam hati. Faktanya bener kata Teh Okke, boro-boro bisa tidur, tiap kali kontraski datang kebangun, kontraksi pergi tidur lagi, terus sampai jam 8 tiba dan alhamdulilah pembukaannya bertambah, jadi 2. Apa DUA? aku fikir udah 5 gitu! oh tuhan masih lama gak kuat!

Tidak lama, mamah dan papap datang. padahal saya sudah bilang mereka untuk datang besok pagi saja, karena aku ingin melahirkan berdua sama suami, tapi orang tua tetap orang tua, mereka khawatir, mereka ingin ada bersama kita sehingga mereka tetap datang. Dari situ kontraski datang seolah tak memberi jeda untuk istrahat, terus. Gak kuat! Saya sudah coba berbagai gaya setiap kali kontraksi datang, dari mulai udah usek-usekan diatas kasur sampai perlak milik Bumi Ambu sobek (ups), usek-usekan di lantai karpet, di yoga ball, duduk, jongkok, nungging, semua udah dan tetep aja sakiit! Bahkan saya sudah mencoba ciuman sama suami seperti yang disarankan. Tapi sorry, aku mah gak ngaruh euy. anggeur sakit! Eh ternyata ada yang bisa mengurangi rasa sakitnya, tiap kali kontaksi datang, usap tulang punggung bawah, itu enak banget!!! rasanya ingin minta teh hany (asisten teh okke) atau suami untuk usap-usap gak berhenti, itu nyaman banget. Tapi melihat mereka dengan muka lelah, mana tega, apalagi suami. Sakit sih pengen diusap-usap terus sama suami tapi, melihat suami yang sempat ketiduran disamping kita itu asli gak tega :(( tapi ini sakit paaakk..

Teringat kata Teh Hany, teteh kalau sakit jangan teriak ya. Kasian dedenya masa mau lahir ibunya teriak-teriak. Iya juga ya, aku ingin dia lahir tapi kita malah teriak-teriak kesakitan seolah kedatangan dia itu menyakitkan, akhirnya aku harus tahan dan ganti metode untuk menyalurkan rasa sakitnya.

Jam 23:00 Mules!

“Teh Hany aku mules, gak kuat mau ngeden aja aku mah, pengen ee banget”

“Jangan dulu teteh bentar.”

Wah ternyata kepala tulamidut sudah mulai terlihat! pembukaan saya sudah lengkap, teh hany langsung panggil Teh Okke untuk bersiap. karena saya gak kuat, saya sempet ngeden 1-2 kali yang mana seharusnya gak usah, itu yang menyebabkan jalan lahirnya agak sobek, untungnya kecil sih jadi gak usah dijahit deh. Ini alasan dari sekian banyak alasan kenapa saya keukeuh pengen lahiran sama Teh Okke, karena sama Teh Okke itu gak dijahit, semua natural, gak digunting pula. Katanya pas lahirannya mah gak sakit, ITU BENER BANGET. Lahiran mah gak sakit, ketika pembukaan lengkap, ketika baby keluar secara perlahan, yang terasa di jalan lahir saat itu hangat, kita hanya perlu bernapas tenang sampai kepala baby keluat secara utuh. FYI, setiap kali kontraksi datang, baby keluar perlahan, pertamanya yang kelihatan ujung kepala, terus kontraksi selesai, baby masuk lagi, terus keluar masuk perlahan sampai semua kepalanya keluar lalu ditarik deh.

29 Juli 2015

Jam 00:30 lahirlah malaikat kecil kami, yang kami beri nama Sawaii Reza dengan berat badan 2,8 kg dan Panjang 49 cm. Apa yang kamu rasakan setelah selesai? PLONG, Cape, letih, pengen tidur, cepel banyak darah itu doang. Bahagia kayak di sinetron gitu gak? Bahagianya gak segitunya kayak di sinetron sih, karena banyak letihnya, ditambah saat pertama kali lihat Sawaii itu penuh sama putih-putih, lemak yang menyelimutinya. Kalau suami bilang mah, begitu lahir kayak anak kambing coba -.- Kemudian suami memanggil papap mamah yang tidak ikut dalam proses lahirannya. Malam itu, ada suka cita, ada ucapan syukur, ada doa dan ada yang kelelahan. Selanjutnya, kami melakukan IMD hampir 2 jam dan membiarkan tali pusarnya sawaii masih menempel selama IMD berlangsung. Sebenarnya saya pengen lotus sih, tapi belum berani euy, mungkin nanti anak kedua, untuk pertama penundaan gunting aja selama IMD berlangsung. Selesai IMD sawaii dibersihkan, tali pusarnya baru di gunting dan kemudian saya mandi dan dilulur oleh Teh Hany. Indah banget kan beres langsung dilulur, SEGAR! Selesai mandi saya pun delivery makanan yang kita mau, saya pilih double cheese dan hot chocolate. Perfecto! Ingat, karena melahirkan harus menyenangkan agar ASI lancar jaya!

Jam 15:30 kami pulang, setelah sawaii sudah bisa buang air kecil dan buang air besar serta saya sudah bisa buang air kecil. Sepanjang perjalanan pulang, saya tak henti melihat makhluk hidup yang 9 bulan di dalam perut, sekarang ada di pangkuan. Dari semenjak itu sampai hari ini, semua berubah. Dia menjadi prioritas kami, dia yang makhluk baru tapi mengajarkan kami banyak hal.

Kamu sekarang sudah 1 tahun Sawaii, dulu kamu tidur dalam pangkuan kami, sekarang kamu tidur mengusai kasur kami. Dulu kamu hanya bisa diam dan tidur, sekarang kamu sudah bisa berlari. Dulu kamu hanya bisa menangis, kini suara kamu melengking setiap kali menginginkan sesuatu. Ah, kami sayang kamu. Kami ingin yang terbaik untuk kamu, kami ingin sayang dengan logika. Doa terbaik kami untuk kamu, bukan hanya di hari ulang tahunmu, bukan hanya 1 hari ini tapi 364 hari lainnya.

 

love,

Ibu dan Bapak