Bersihkan hati melalui lemari?

Pagi itu bermulai pada saat saya kepo postingan @angellafransisca di Instagram mengenai #satumasuksatukeluarbyangie. Saya diingatkan dengan cantik oleh Allah melalui ke-kepo-an. Hahahaha..

Repost from @angellafransisca using @RepostRegramApp – Part 2.

Ini penting ukhti,salah satu kebiasaan buruk sebagian besar orang yaitu mengumpulkan barang2 yg sebetulnya sdh tdk diperlukan lg, atau membeli barang2 yg sebenarnya tidak diperlukan.
Ini merupakan salah satu kepintaran syaithan untuk menggoda manusia, membisiki agar membeli sesuatu yg sebenarnya tidak qt butuhkan.
Percayalah ukhti sayang, ini sangat berpengaruh terhadap akhlak,hati&pikiran qt.
Dan ini LEBIH PENTING LAGI☝️, kelak di akhirat,semua brg2 itu akan dihisab oleh Allah, dimintai pertanggung jawabannya, digunakan untuk apa, dipakai ibadah/ngga, semua barang dari yg kecil sampai yg besar tidak akan terlewat, mulai dari sebutir nasi, sebuah cabai, sebutir garam,atau sebuah peniti kecil pun tak akan lewat dr hisaban Allah.. Maka biasakan untuk mengikhlaskan, mengeluarkan dan menyedekahkan sesuatu yg sdh tidak pernah qt pakai lagi,
Setiap satu baju yg masuk ke lemari, saat itu jg 1 baju keluar. 🙂
.
Kebetulan lagi Ramadhan nih dear,
Waktunya bersihkan hati,
Salah satunya dengan bersihkan lemari dan rumah kita dari barang2 yg sdh tidak terpakai.
Karena apa? Percaya ngga percaya, ini berhubungan sama akhlak, hati & pikiran 🙂
Kurang2i hisaban di akhirat, semakin banyak harta yg kita miliki, semakin membuat qt masuk surga lebih lama karena semakin lama & beratnya hisaban.
Bahkan Abu Bakar ra yg semasa hidupnya memiliki harta yg banyak, ketika beliau meninggal, beliau sdh menginfakkan seluruh hartanya, dan tidak meninggalkan 1 dirhampun. MashaaAllah, apa kabar saya atuuh ya..
.
Mulai skrg,sedekahkan apa2 yg sdh malas kita gunakan, jangan sayang2, mau mahal, mau baru, mau bagus, kalo sdh malas pakenya, sedekahkan sajaaa^^
Apalagi bersedekah di bulan Ramadhan ini pahalanya luar biasa,
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR at-Tirmidzi)

Tunggu apalagiiii?
Jangan disia-siakan ya cantiiik❤️
Semoga qt termasuk orang yg ringan mengeluarkan harta dibanding menimbunnya❤️
Uhibbukum fillah, yang nulis ini karena sayang kamu😘 #satumasuksatukeluarbyangie

Teringat awal pernikahan, saat barang saya dan suami berada dalam satu lemari untuk pertama kalinya. “Loh kok cuma segini?” iya itu tanggapan saya melihat barang-barangnya yang mungkin hanya setengahnya dari barang milik saya. Karena wanita selalu mengusai isi lemari! Tapi ternyata memang hanya segitu yang dia butuhkan, dia gunakan semuanya sebaik-baiknya bahkan tak jarang ada kaos yang udah sobek tapi masih dipake ajaa. Sebel? Iyalah, kalau kata mamah mah punya pasangan kok lusuh sih kayak gak diurus aja. JLEB. Tapi saya hargai dia, sambil terus berdiskusi dan sesekali membelikan dia kaos. Tapi dengan prinsip setiap ada kaos yang masuk, harus ada kaos yang keluar juga. Ini bukan karena takut barang dia jadi lebih banyak dan mengusai lemari ya, tapi mendukung prinsip dia untuk tidak memiliki barang berlebih.

Lalu bagaimana dengan saya? Prinsip suami sedikit banyak juga mempengaruhi pola pikir saya untuk menggunakan barang sebaik-baiknya sampai tanpa sadar saya menggunakan barang yang itu-itu aja karena kenyamanan dan alasan lainnya. Lah padahal kan isi lemari saya jauh lebih banyak dari dia? Ya sisanya sesekali doang atau bahkan hanya dipakai sekali! Akhirnya kemarin setelah baca postingan @angellafransisca, saya coba memisahkan kembali pakaian yang sering saya gunakan. Astagfirullah, ternyata bener aja, lebih banyak yang jarang saya gunakan dan bahkan hanya sesekali digunakan, ditambah pakaian-pakaian yang sudah “tidak ideal” atau berlabel “kenangan” tapi masih disimpen aja. Melankolis banget kan? Atau jangan-jangan isi lemari saya semuanya hanya kenangan? ah sudahlah..

Kembali lihat tumpukan baju itu dan SEDIH dong, saat dengan sadar kita harus keluarin ini semua dari lemari. Ternyata selama ini ada yang gak beres dalam kata-kata “simpen dulu aja nanti juga kepake” gitu aja terus sampai ladang gandum jadi koko krunch. Dipake enggak, ditimbun iya. Tapi baru sekali pake, tapi ini mahal, tapi masih bagus, tapi nanti “kalau” butuh gimana, tapi terlalu banyak tapi. Ternyata benar, butuh keikhlasan luar biasa ya untuk melepaskan kenangan barang kita itu semua. Padahal kita tahu bahwa mungkin diluar sana barang yang kita timbun lebih bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang lain, kayak ada seseorang yang siap nunggu dan bisa saling ngebahagiain mantan kita dibanding sama kita. Bener aja, setelah beres semua, barang sudah diberikan ke yang membutuhkan (ini juga perlu skill khusus untuk memberikan pada orang yang tepat dan memang butuh barangnya, jangan di mereka malah ditimbun juga atau bahkan jadi sampah lagi), ada perasaan lega dan yang jelas lemari gak sumpek lagi dan hati berlatih untuk belajar ikhlas (ikhlas aja perlu dilatih ya). Jadi mari ikhlaskanlah mereka demi masa depan lebih baik dan akhirat lebih ringan. amin!  

Oia, menurut pengalaman kegiatan membersihkan lemari ini baiknya dilakukan rutin layaknya membersihkan rumah pada umumnya. Karena biasanya akan ada barang yang kita kasih keringanan “mungkin nanti butuh” untuk kita simpan dan ketika bulan berikutnya kita pilah lagi ternyata barang itu masih belum digunakan juga sampai akhirnya kita harus keluarin dari lemari juga.  Jadi gak perlu tiba-tiba lemari bersih kayak baru lagi yang malah membuat kita jadi konsumtif, justru dengan rutinitas ini harusnya membuat kita lebih selektif lagi dalam membeli barang karena selain di akhirat akan ditanya pertanggungjawabannya, setiap barang yang kita beli itu ada jejak ekologisnya juga, ada sumber daya alam didalamnya.

So, mari bersiap menyambut Ramadhan dengan hati yang lebih bersih melalui lemari yang bersih 😀

unnamed

Bolehkan saya rindu kemarin?

Apakah rindu itu tanda tidak bersyukur akan hari ini?

Yang saya tau, saya hari ini adalah kumpulan dari hari kemarin.

Yang saya tau, saya hari ini karena saya melalui kemarin.

Yang saya tau, saya hari ini ada karena kalian di hari kemarin.

 

Halo kemarin, apakah kalian rindu saya seperti saya rindu kalian?

Halo kemarin, terima kasih kalian ada kemarin, menemani dan menjaga saya dari kesendirian.

Halo kemarin, terima kasih telah menghadirkan saya saat ini.

 

Seperti hari ini saya yang rindu kemarin dan besok saya (mungkin) akan rindu hari ini. Jadi mari bersenang-senang hari ini! Dan saat besok tiba, kita akan rindu tanpa rasa menyesal untuk kembali, yang ada hanya rindu dan rasa syukur karena saya telah melalui hari ini.

 

Teruntuk para sahabat,

hey aku kangen!

unnamed