Dua Perempuan

Mamah dan Sawaii,

Dua perempuan yang membuat keputusanku semakin bulat untuk menjadi “full time mom“.

Teringat hari di mana guru SMA bertanya arti dan siapa itu ibu? Saat itu saya tidak sanggup menjawab, saya hanya bisa meneteskan air mata. Tersadar bahwa sebegitu tidak kenalkah saya pada mamah? Mencoba mengingat apa yang paling berkesan pada hubungan saya dengan mamah, tapi semua terasa biasa saja, tidak ada yang spesial. Lain hal jika saya diminta menceritakan tentang papap, saya akan bisa menjawab dengan lantang dan jelas. Tapi bagaimana dengan mamah? Padahal kami tinggal serumah, dia hanya bekerja seperti papah. Saat itu juga saya bertekad untuk jadi “full time mom“.

Lalu ketika saya sudah memasuki dunia kerja, saya mulai menyadari bahwa saya dan mamah itu mirip secara sifat, bahkan saking miripnya kami sering beradu pendapat, selain itu kami termasuk workaholic. Bila kami sudah mulai bekerja, kami akan fokus pada pekerjaan itu sampai kadang tak peduli lingkungan sekitar, termasuk keluarga.

Ditambah lagi, kadang saya merasa minder melihat beberapa ibu di sekitar saya yang sangat telaten mengurus anaknya, sabar, bebicara pelan, sangat keibuan sekali. Sedangkan saya bukan termasuk seseorang yang “keibuan”, karakter saya yang kadang cuek, suka celetak-celetuk, kadang berbicara dengan volume lebih dari standar, belum lagi kadang-kadang tidak sabaran. Menyadari banyak hal kekurangan yang saya miliki, saya memutuskan untuk fokus belajar memperbaiki untuk bisa menjadi seorang ibu yang baik, minimal baik untuk anak-anak kami kelak.

Banyak tantangan untuk menjadi “Full time mom” ini setelah sebelumnya saya sempat bekerja dan aktif di beberapa organisasi sosial, terbiasa dengan banyak aktifitas yang bervariatif di luar rumah membuat saya lebih cepat jenuh saat berada di rumah terus menerus. Ditambah, terbiasa memiliki uang sendiri, kini harus menggantungkan hidup pada penghasilan suami. Apalagi mamah yang memang dasarnya wanita karir, entah sudah berapa kali beliau berkata “jadi perempuan mah harus mandiri, kalau kerja itu enaknya kita punya uang sendiri, mau jajan apa-apa bisa beli sendiri”.

Dengan beberapa pertimbangan, serta dorongan beberapa teman yang masih mempercayai beberapa pekerjaan, akhirnya saya dan suami bersepakat bahwa saya akan menerima kerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah serta waktunya fleksibel, yang mana itu semua bisa dikerjakan disela-sela waktu anak bila sedang istirahat. Sehingga prioritas tetap anak dan suami tapi masih memiliki pendapatan buat nambah uang beli coklat dan yang paling penting mendapatkan wadah beraktualisasi diri.

Apapun pilihannya saya sendiri percaya, bahwasannya Setiap ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dengan caranya sendiri, dengan pertimbangan yang matang bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk keluarga dan lingkungannya, baik yang memilih dirumah ataupun dikantor. Semua itu adalah bentuk rasa cinta pada keluarganya. ❤️

unnamed

2 tanggapan untuk “Dua Perempuan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s