Terimakasih Kami untuk Kalian Semua!

#1minggu1cerita kali ini aku dedikasikan kepada para sahabat yang tuhan ciptakan dengan hati malaikat. Alhamdulilah 17 Oktober 2014 lalu, kami telah selesai melangsungkan Akad Nikah sekaligus dengan Syukurannya. Keberlangsungan Syukuran ini tidak lepas dari dukungan keluarga besar kami, baik yang di Banjaran ataupun di Kopo. Kini keluarga kami semakin besar, kakak dan adik semakin banyak, bukan hanya mamah papap tapi kini ada Ibu dan Bapak baru, ada banyak keponakan, ah sangat menyenangkan. Ditambah para sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri, memberikan support dengan hadir langsung, maupun yang hadir dalam untaian doa untuk kami, dan kami pun memberikan doa yang terbaik untuk kalian semua.

Entah apa yang terjadi tanpa kalian, kami sangat berbahagia dan entah bagaimana lagi cara mengucapkan syukur karena kami memiliki kalian. Dari mulai teman sejak kecil sampai teman berkegiatan semua udunan menjadi satu, membantu mewujudkan kebahagian kami. Kami ucapkan TERIMAKASIH sebesar-besarnya yang sudah rela direpotkan dalam balada 40 hari terakhir dengan koordinasi yang minim, bahkan beberapa hanya lewat chat. TERIMAKASIH atas Udunan :

1. Desain Undangan dan desain totebag oleh Enem. Nemskiiiiii, MAKASIH aku beneran suka desainnya dan Maafin pisan aku ngerepotin kamu ya! HAHAHAHAHA..

 

2. Karikatur Undangan oleh Priza. Kamu sukses membuat aku tampak langsing di gambar za. Hahahaha.. Maaf merepotkan kamu yang sedang disebrang pulau sampai kembali ke Jabar dan tetap belum ketemu. hahahaha

IMG_8093

3. Penganten baru, Manda yang dengan sangat berbaik hati menawarkan langsung meminjamkan keranjang seserahan yang dia pesan khusus. Muach!

IMG_8271

4. Ibuk Pagi yang banyak banget direpotin dari mulai membuat mukena khusus untuk seserahan, 40 pouch yang gak kalah istimewa untuk souvenir ibu-ibu pengajian dan kerudung khusus untuk melengkapi hari-hari bersama swami dengan waktu sesingkat-singkatnya. IBUK, aku teh dari dulu ngefans sama ibuk, terus sekarang aku makin suka sama ibuk, lain kali direpotkan lagi ya. HAHAHAHA.. Terimakasih atas kebahagiaanya melalui tulisan Halo-Pagi yang gak kalah seru!

5. Cunda, Partner EO yang padahal belum sempet resmi kerja bareng baru sekedar wacana tapi berbaik hati mau bantuin WO-in wedding aku hanya dengan transfer materi wedding H-7. Cun, maneh mau pindahin pelaminan ke dalem juga jug. HAHAHAHA.. Cun, maneh rock and roll cun. Hey cewek single, si cunda menyenangkan loh. ea! hahahaha..

DSC03472
Akhirnya foto bareng cunda, setelah hamil 4 bulan

6. Dilly, sahabat dari kecil yang berhati malaikat (ACIEH). Terimakasih membuat percaya dengan mengurangi kekhawatiran akibat kehilangan photographer andalan yang kini sedang sibuk dan hampir menyerah. Terimakasih tetap menjadi sahabat yang baik mendengarkan balada air mata tjalon pengantin menjelang menikah. Hahahaha.. Aing drama pisan hidupna kamari ih. Kamu, sing lunsur langsar niat baiknya, hubungi aku kalau butuh bantuan, kecuali sumbangan dana. hahahaha..

_CNY0182

7. My Lovely Ladies Diny, Meme, Ririn, dan Uli. Kalian yang tau segalanya, kalian yang selalu berada disamping. Kalian yang luar biasa, kebaikan kalian gakan pernah sanggup kami ganti sampai kapanpun, mari saling menjaga dan mengingatkan dalam kebaikan. Mari saling mendoakan agar Uli diberikan kelancaran menjelang 9 November dan selalu sehat, semoga Ririn tiba-tiba ada yg melamar, Diny dapet restu dan Meme, ah kamu mah nanti ajalah ya me. hahahaha.. Kalian kemarin keren, udah kayak WO profesional ajalah nge-LO in CPW, CPP, Talent, Stopper, gak salah pilih Team emang XD

_CNY0251

8. MC dadakan Gladies ma Boyeng! MC resepsi aku MC kondang yang gak sanggup aku bayar pake uang. Aku bayar pake cinta kasih seumur hidup ya! HAHAHAHA..

_CNY0181

9. Ratih and Friends. NEK! kamu mah udah cantik, suaranya bagus, baik pula ngasih discount. hahahahaha.. alhamdulilah aman tanpa dangdut nikahan aku. Hanya alunan jaz yang indah. perfecto!

_CNY0246

10. Pager Ayu dan Pager Bagus yang cantik dan ganteng yang merangkap jadi siluman sana-sini ungkat angkut, dan si ijah sendiri yang bikin pager ayunya jadi kece-kece (Yang butuh make up, ke Ijah aja bener. Gakan nyesel deh). kalian sing langgeng dan gera nyusul ye Valdy & Ijah, Wily & Tita. Kalau udah yakin mah, jangan dilama-lama udah. Hahahaha..

Sekali lagi Nuhun ih, da isi Blog ini mah cuma mau ngenuhun berjuta-juta kali sih sih sama kalian. Untuk kami hadiah yang paling berharga itu adalah keluarga dan para sahabat, gak banyak yang memiliki kesempatan merasakan kebahagiaan wedding yang di WO-in sama sahabat sendiri. Kami merasa sangat beruntung. Apalagi isi percakapan Group Line yang kami buat untuk berkoordinasi, itu mah bukan group koordinasi sih, group lawak lebih tepatnya dan itu sangat membantu mengurangi ketegangan kami menjelang hari H, walau kadang lebih mengarah ke ganggu banget sih kalian teh, padahal beberapa belum saling kenal satu sama kalian, ai kalian eweuh ka era ih. BWHAHAHAHA.. Untuk segala kekurangan penyelenggaraan Wedding kemarin, maaf ya da kami mah apa atuh hanya mencoba senang-senang dan semoga menyenangkan. Buat Temen-temen yang mau wedding butuh dibantuin, kami mungkin akan memikirkan apakah kebahagiaan kami bisa berakhir dengan peluang bisnis membuat WO menyenangkan?

IMG_8307
Briefing pertama dan terakhir di H-5. Thanks gaes~

Lika Liku KUA

Shelly:
Sudah dengar kalau sekarang menikah itu NOL RUPIAH?
Semenjak mencuatnya kasus pungli KUA Kediri, kini pemerintah telah mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2014 tentang Biaya Nikah. Salah satunya adalah menikah gratis alias nol rupiah, dengan syarat dan ketentuan berlaku tentunya 😀
Syaratnya adalah menikah pada hari dan jam kerja di KUA. Lalu jika kita ingin menikah di hari libur bagaimana? Masih bisa kok, tenang aja. Syaratnya membuat pengajuan tertulis kepada KUA terdekat dan bersedia membayar Rp600.000,- yang langsung ditransfer ke Rekening Pemerintah. Biaya tersebut terdiri dari biaya transportasi dan biaya profesi yang disetorkan ke bank yang memang telah ditunjuk oleh pihak Kementrian Agama.

Menarik bukan? Tadinya kami juga ingin melakukan Akad Nikah di KUA, lumayan mengirit biaya. Hahahaha.. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan akad di tempat kami akan walimahan. Adapun beberapa syarat yang harus kami persiapkan sebelum mengajukan ke KUA, diantaranya:

1. Minta Pengantar RT/RW, dengan membawa:
– Foto Copy Kartu Keluarga
– Foto Copy KTP
2. Minta Pengantar Nikah dari Kelurahan, dengan membawa:
– Pengantar RT/RW
– Foto Copy Kartu Keluarga
– Foto Copy KTP
Dari Kelurahan, kamu akan mendapat Surat Keterangan Untuk Nikah (N-1), Surat Keterangan Asal Usul (N-2), Surat Keterangan Tentang Orang Tua (N-4), dan Surat Keterangan Wali (N-3).
3. Minta Surat Rekomendasi Nikah di KUA tempat tinggal asal, dengan membawa:
– Pengantar RT/RW
– Foto Copy Kartu Keluarga
– Foto Copy KTP
– Surat N-1, N-2, N-4; Surat Keterangan Wali (N-3) dari Kelurahan
– Pas Foto 2×3 (4 lembar); 4×6 (1 lembar)
Dari KUA, kita akan mendapat selembar Surat Rekomendasi Nikah; satu berkas persyaratan di atas dikembalikan lagi ke saya untuk dilampirkan; diberikan ke KUA yang dituju.
4. Daftar Nikah di KUA yang dituju, dengan membawa:
– satu berkas lampiran dari KUA tempat tinggal
– Surat Rekomendasi Nikah dari tempat tinggal saya dan pasangan
– Surat N-1, N-2, N-4; Surat Keterangan Numpang Nikah (PM-1) dari Kelurahan tempat tinggal pasangan
– Pas Foto, 2×3 (4 lembar); 4×6 (1 lembar)

Sebenernya dalam mengurus surat-surat tersebut tidak ada biaya administrasi khusus, tapi jika kita hendak mengucapkan terima kasih, bolehlah ngasih sebesar 20 ribu. Atau mungkin kalau mau berbaik hati, boleh sampai 50 ribu. Saya kira itu boleh, meski pasangan saya kurang setuju karena, dalihnya, fenomena seperti itu membiasakan kebiasaan kurang baik dan bisa menjadi bibit korupsi.

Dari seluruh daftar surat-surat yang diperlukan, kita harus pastikan itu terpenuhi semuanya. Karena kami sendiri hampir menyerah ketika mengetahui ada surat yang belum kami bawa dan mengharuskan kami untuk datang ke KUA Banjaran (KUA tempat tinggal Calon Pengantin Pria, membayangkannya saja sudah malas apalagi harus kesana) untuk meminta Surat Rekomendasi Nikah. Selain itu pihak kelurahan merekomendasikan kami untuk tidak langsung datang ke KUA Margaasih (KUA tempeat tinggal Calon Pengantin Wanita) melainkan langsung ke Penghulunya. Kami sempat kebingungan, sampai kami akhirnya bertanya pada ayah, dan beberapa teman yang baru saja melangsungkan pernikahan. Wow! Ternyata salah satu teman kami yang baru menikah menggunakan jasa langsung ke penghulu yang mana biayanya 800 ribu sampai 1 juta rupiah (harga tergantung penghulunya sendiri) dan semua dijamin beres, penghulu akan langsung datang ketika acara akad, dengan catatan tanpa perlu dilakukan penataran sebelumnya.
Dan kami pun memilih untuk mengikuti jalur yang seharusnya, datang langsung ke KUA, membayar dengan mentransfer melalui rekening Bank Pemerintah dan mengikuti penataran.

Reza:
Oke, sekarang mari bicara tentang “penataran pra-nikah di KUA”.
Perlu diketahui, jika kita mendaftar nikah di KUA, selain urus-urus dokumen, ada satu proses wajib lagi yang harus dilalui tapi sering kali terlupakan (atau sengaja dilupakan?). Wajib, karena memang peraturan dari KUA-nya menyebutkan demikian. Menurut Bapak petugas di KUA yang bantu kami mengurusi dokumen-dokumen nikah, seharusnya penataran ini dilakukan beberapa kali dalam beberapa pertemuan (enam kali pertemuan, kalau tidak salah). Saya membayangkan penataran ini seperti Sekolah Pra-Nikah yang biasa diadakan lembaga-lembaga pendidikan atau agama. Tapi, masih menurut Bapak petugas KUA, karena satu dan lain hal, penataran ini jadinya dilakukan dalam satu kali pertemuan saja. Dalam hati saya hanya tersenyum. Saya menduga ‘satu dan lain hal’ ini adalah tidak ada anggaran, tidak terlalu urgen terhadap laporan, dan tidak ada niat. Tapi itu cuma dugaan saya. Ga apa-apa, karena saya juga mengira penataran ini hanyalah proses formal yang tidak terlalu berpengaruh terhadap rencana nikah kami.

Baiklah, singkat cerita, akhirnya kami melakukan penataran. Setelah mendengarkan (deep-listening lho…) si Bapak petugas KUA yang menatar kami selama beberapa menit, saya terbelalak. Saya terkejut. Perkiraan saya bahwa penataran ini hanya formalitas, salah besar! Entah si Bapak petugas KUA-nya juga keren dalam penyampaiannya, tapi saya merasa banyak menerima insight penting bagi persiapan pra dan pascaakad nikah. Hal yang paling saya ingat dan menyentak adalah ketika si Bapak memberi wanti-wanti tentang kewajiban suami dan istri.

Kewajiban suami, menurut dia, adalah memberi nafkah pangan, sandang, dan papan. Ini normatif, hampir semua orang tahu. Pemenuhan nafkah tersebut urutannya hierarkis; suami harus memberi makan istri dan keluarga dengan cara yang halal dan baik terlebih dahulu sebelum memberi pakaian dan tempat tinggal yang layak. Dan ini hal yang jarang diketahui oleh kebanyakan orangnya: bahwa segala hal yang menunjang pemenuhan nafkah pangan, sandang, dan papan tersebut juga adalah kewajiban suami. ‘Hal yang menunjang’ itu maksudnya adalah segala hal yang perlu dilakukan untuk mengadakan bahan pangan, sandang, dan papan dari tidak ada sehingga ada, sampai mengelolanya hingga siap digunakan. Contohnya, dalam pemenuhan nafkah pangan misalnya, adalah mencari uang untuk membeli bahan makanan, memasaknya sampai siap dimakan, dan menghidangkannya di meja makan. Bahkan mencuci piring, memasak air, sampai membersihkan meja makan termasuk dalam hal yang menunjang pemenuhan nafkah pangan. Dan itu semua adalah kewajiban suami!

Contoh lain, dalam pemenuhan nafkah sandang, kewajiban suami termasuk membeli pakaian, mencuci pakaian, sampai menyetrika pakaian. Prinsipnya, suami wajib melakukan semua hal yang diperlukan untuk menyiapkan pakaian sampai istri dan keluarga siap memakainya. Mengejutkan? Memang! Tapi, secara prinsipil, memang itulah konsekuensi logis dari frasa “suami wajib memenuhi nafkah pangan, sandang dan papan.”

Dan apa kewajiban istri? Kewajiban istri adalah berbakti kepada suami. Hanya itu yang dikatakan si Bapak. Bakti ini bisa diungkapkan dengan berbagai tindakan dan ucapan yang sangat luas. Sampai sini, kita bisa menarik kesimpulan sementara bahwa ketika berumah tangga, adalah suami yang wajib memasak, mencuci pakaian, menyetrika, mencuci piring, dan mengepel lantai. Dan istri ‘hanya’ wajib berbakti. Tapi….. si Bapak melanjutkan, ketika berumah tangga, suami dan istri menjadi satu, tidak ada suami saja, atau istri saja. Tidak ada dikotomi. Termasuk dalam pekerjaan-pekerjaan apa yang menjadi bagian suami atau istri. Tidak ada dikotomi pekerjaan. Lantas siapa yang mengerjakan ini dan mengerjakan itu jika prinsipnya seperti itu? Ada prinsip selanjutnya, yaitu “fastabikul khairat”, berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan prinsip ini, suami atau istri bisa melakukan pekerjaan apapun, sehingga tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan yang identik hanya pada suami, atau identik hanya pada istri. Sekali lagi, tidak ada dikotomi pekerjaan. Suami bisa mencuci piring, mencuci pakaian, dan menyetrika. Istri bisa mencari nafkah. Dengan niat yang tepat, seperti suami menyetrika dengan niat memenuhi kewajiban memberi nafkah sandang dan istri mencari nafkah dengan niat berbakti kepada suami, semua hal yang dikerjakan bisa bernilai ibadah. Sejak awal, si Bapak mengatakan bahwa niat menikah adalah ibadah.

Wah, panjang 

Kami ingin mengatakan bahwa penataran pranikah itu penting, memberi kami banyak insight penting yang akan sangat berguna bagi kami dalam mengarungi kehidupan baru ini.
Padahal itu hanya dilakukan dalam penataran yang sekali pertemuan dengan durasi kurang dari 60 menit. Bayangkan kalau penataran benar-benar dilakukan dalam enam pertemuan, berapa banyak wawasan penting tentang pernikahan yang bisa kita terima.

Itulah Lika-Liku KUA yang kami rasakan, SERU mempersiapkan semua sendiri. Bukan hanya bekal 1 hari ketika Ijab Kabul tiba, tapi bekal setelah Ijab Kabul yang kemudian di-Amin-kan oleh seluruh malaikat. Semoga ini dapat membantu para pasangan yang akan berurusan dengan Kantor Urusan Agama atau menjadi motivasi untuk segera berurusan dengan Kantor Urusan Agama 😀

with love,
-S&R-