Perjalanan dari sebuah Pilihan (Part 1)

Entah sudah berapa orang bertanya “Ada apa?”, “Ih kok bisa?”, “Kenapa?”, terlalu banyak pertanyaan dari benak mereka yang benar-benar ingin tau atau pura-pura ingin tau.

Untuk mereka yang berada disebelahku, mungkin kalian sudah pada tahap muak menerima curhatan seorang extrovert lengkap dengan dramanya. Tapi bukankah hidup ini panggung sandiwara dan Tuhan sang sutradaranya? Dan aku hanya seorang pemain yang mengikuti cerita yang Dia pilih, cerita yang terbaik Dia pilihkan untuk setiap hambanya.

Tidak mudah memang, setelah apa-apa yang dilalui, setelah semua berjalan menjadi sebuah kenyaman karena terbiasa. Terbiasa bersama menjalani hari-hari dengan sebuah kehidupan yang aman, ya seperti biasa. Kamu yang dulu hadir mengisi memberi warna, warna yang hampir mirip dengan kehidupanku sebelum ada kamu, atau warnaku yang terlalu menyilaukan dan dominan sehingga membuat kamu mengikuti warnaku? hingga akhirnya semua terlihat seperti hanya warnaku dan semua berjalan seperti biasa. Sebiasa dengan cita-cita setiap pasangan yang mencinta adalah pernikahan. Iya, aku dan kamu pernah memiliki satu mimpi yang sama mengenai akhir dari perjalanan cinta kita, pernikahan.

Saat kalian memiliki cita-cita, kalian pasti akan mencari tahu bagaimana cara mendapatkannya dari seseorang yang telah terlebih dahulu berhasil mendapatkannya. Begitu pula dengan pernikahan, aku sangat antusias mencari tahu dan berdiskusi dengan mereka yang telah menikah sebelumnya. Aku ingat aku pernah bertanya pada Dodi (rekan berkaryaku di Greeneration Indonesia), “Dod, apa yang membuat dodi yakin ‘ya nur orangnya’?” jawabannya adalah “kalau kamu bisa membayangkan bagaimana kehidupan kamu setelah menikah, bisa jadi dia orangnya”.  Tanpa berfikir panjang, aku membayangkan apa yang terjadi jika aku dan kamu menikah nanti, Aman. Iya yang terbayang kehidupanku kelak tak akan terlalu sulit, sama halnya seperti saat ini, seperti menjalani kehidupan 25 tahun yang telah aku lalui. Tak kan terlalu berbeda lah. Oke kita akan terus berjalan, berproses mewujudkan semua yang kita mimpikan.

Tapi diam-diam aku membayangkan seseorang, seorang teman baik kami, partner berkarya, sahabat yang entah sudah berapa lama aku mulai menaruh ketertarikan yang mana dia tak tau dan ku biarkan rasa itu tanpa ku pelihara. Aku membayangkan jika aku bersama dia, bayangan yang aku dapat adalah aku akan sangat berbeda dari mulai pemikiran, gaya hidup sampai hal-hal kecil yang membuat aku berbeda. Aku gak bisa inilah, aku gak bisa itulah dan dan itu membuat aku mengurungkan melanjutkan khayalan itu, dan karena itu aku pasti memilih pasangankulah. Aman, Tentram dan bersahaja walau dalam hati kecilku ada penasaran, tapi kayaknya seru juga kalau sama dia. (>.<)

Semenjak dia membuka cerita kehidupan pribadinya aku mulai mengenal dia bukan hanya partner berkarya. Bahkan aku sempat memberikan pernyataan “Selama ini dia yang aku cari, bukan pasanganku”, tapi karena aku sudah memiliki pasangan dan kami cukup serius, aku memilih pasanganku, selain itu dia sangat tidak diduga, lebih banyak membuat ‘gondok’ daripada bahagianya. Walau seperti itu, Dia adalah orang yang cukup penting adalah pengambilan keputusan. Tak jarang aku mendiskusikan dan meminta pendapat dari hal-hal yang gak penting sampai hal-hal yang penting dengan catatan siap-siap ‘gondok’ atau kena semprot karena dia cukup jutek ya. Kalian yang disekelilingku mungkin lebih tau, bagaimana sikap menyebalkannya kepadaku.

Kembali lagi, semua berjalan seperti biasa, aku yang kini mulai mendesak kepastian pasanganku merasakan letih karena belum juga ada titik terang. Selalu mundur dengan berbagai alasan yang membuat aku cukup bimbang. Atas dasar desakanku juga, keluarga besar pasanganku saat itu akhirnya kerumah berkenalan karena setelah 3 tahun berhubungan kami belum pernah benar-benar bertemu 2 keluarga. Namun keluargaku merasakan ada yang aneh, tidak ada tanda-tanda yang menyinggung kemana arah hubungan kami, yang ada hanya silaturahmi biasa seperti keluarga jauh yang datang mengunjungi keluarga lainnya. Tak ada pembicaraan apapun, minimal meminta aku menunggu kamu sampai studymu selesai.

Kebimbangan itu tidak kunjung hilang, malah semakin berkembang. Aku tidak paham apa yang ingin disampaikan Tuhan saat ini, aku tidak mengerti apakah ini adalah sebuah ujian untuk kami atau pertanda yang dia berikan? Aku terlalu buta untuk membedakannya dan aku terlalu lelah untuk terus berfikir. Segala usaha telah aku coba, mulai dari curhat dengan banyak sahabat, nitip doa kepada orangtua yang mana kebetulan mereka akan berangkat Perjalanan Umrah dan sampai akhirnya aku sebut ini jodoh, aku yang memang senang berjalan-jalan sendirian ke mall atau toko buku menemukan buku mengenai Jodoh Dunia Akhirat karya pasangan suami istri muda. Yang mana dulu mana aku tertarik dengan buku-buku semacam itu, atas seijinNya tangan ini mengambil. membaca sekilas dan kemudian membelinya. Hahahahaha..

Percayalah, tangan Tuhanmu itu ajaib. Dia bisa membantumu dengan cara tak terduga melalui sesuatu yang tidak kamu bayangkan sebelumnya. Kamu hanya perlu peka dan membuka diri.

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s