#1bulan1museum : Museum Sri Baduga

Museum Sri Baduga adalah museum keempat yang kami kunjungi di tahun 2017 ini. Sebenarnya kami mengunjungi museum ini pada bulan April lalu, namun karena satu dan lain hal, kami baru bisa menuliskannya sekarang. Begitu juga beberapa museum setelahnya yang sudah kami kunjungi namun belum sempat kami tuliskan, semoga secepatnya kami dapat melunasi komitmen #1bulan1museum yang tertunda. Semangat!

Untuk saya pribadi museum ini mempunyai cerita tersendiri; bisa dibilang ini museum yang paling sering saya kunjungi dulu; ketika saya masih duduk di bangku SMA sampai masa-masa awal perkuliahan. Karena museum Sri Baduga ini merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat ospek outdoor ekstrakulikuler Sang Sekar Tubles (Sanggar Seni Karya Jeung Budaya Tujuh Belas) yang diberi nama “Napak Tilas”. Museum Sri Baduga ini merupakan tempat pertama yang dikunjungi sebelum akhirnya kami berjalan kaki menggunakan pakaian Baduy ala kadarnya untuk keliling Bandung dan berakhir di studio foto di jalan Banda. Mengingatnya membuat saya rindu; haruskah saya mengadakan reuni dengan berjalan kaki kembali bersama mereka? pertanyaan pentingnya sih adalah masih kuat gak ya kaki ini dan kaki teman-teman lainnya, yang mana mungkin kini banyak diantara mereka yang sudah jadi om-om berperut besar? Hahahahaha..

IMG_0560Museum Sri Baduga sendiri terletak disebrang Tegalega, lebih tepatnya di jalan BKR No. 185. Tiket masuknya sangat terjangkau, yakni Rp. 3.000,- untuk dewasa dan Rp. 2.500,- untuk anak-anak. Tak banyak yang berubah pada bagian depan museum, hanya beberapa letak koleksi yang berpindah tempat. Lain halnya begitu kamu masuk, kamu akan melihat perubahan; yang paling jelas ada di lantai satu yaitu bagian pameran koleksi prasasti. Kami cukup menikmati lantai pertama, namun tidak ketika kami mulai masuk di lantai kedua.

IMG_0562Sawaii, yang saat itu berusia 19 bulan, menolak untuk ke atas entah karena apa. Katanya sih takut. Kami berfikir mungkin karena terdapat banyak patung menggunakan pakaian pengantin dari berbagai latar belakang; walau kalau difikir-fikir ini bukan pertama kalinya dia melihat banyak patung seperti ini. Ketika di museum Pendidikan (UPI) juga banyak patung berpakaian bermacam-macam seragam sekolah bahkan lebih banyak dari pada di sini. Atau mungkin karena gelap juga kali ya? Saya merasa pencahayaannya kurang pada beberapa bagian. Apapun alasannya kami mencoba merayunya; mengajaknya ke atas dengan menggendongnya sambil terus menguatkannya. “Gapapa Waii, kan sama ibu sama bapak”. “Tuh lihat ada ini/ada itu”. Tapi usaha kami ternyata tidak berlangsung lama, begitu kami mengajaknya lebih dalam masuk ke lantai dua, dia menolak dengan lebih keras dari sebelumnya. Kami pun mengganti rute untuk langsung naik ke lantai tiga tapi justru penolakannya semakin keras. Tanpa sempat kami lihat ada apa di lantai tiga, dia meminta turun dan keluar. Karena kami tidak ingin membuatnya trauma, kami akhirnya memilih turun dan keluar sambil terus meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dia takutkan karena kami selalu bersamanya.

IMG_0566 (2)Kami pun keluar dan memilih untuk melihat ikan sambil terus menenangkan Sawaii. Pada bagian samping luar museum sendiri terdapat sebuah kolam ikan yang cukup besar, Sawaii memilih untuk bermain di sana dan seketika itu pula mood dia membaik; dia kembali ceria dan bermain. Karena mood dia sudah membaik, maka saya mencoba menanyakan apa yang terjadi secara perlahan, “Waii kenapa gak mau masuk?” “Ada aa, ada teteh.” “Patung?” “Ada aa, ada teteh takut.” “Di mana aa sama tetehnya?” “Di sana (sambil menunjuk ke arah museum), takut.” jawabnya. Oke sip, seketika itu juga nyali saya menciut padahal mungkin yang dimaksudkan Sawaii benar-benar patung ya. Perlu saya akui, nyali saya juga payah dan itu yang dibilang oleh Pak Reza; bahwa apa yang ditakutkan oleh Sawaii itu berasal dari ibunya. Ketidaknyamanan saya terbaca oleh Sawaii padahal saya berusaha untuk biasa saja. Iya,  katanya anak merupakan pembaca emosi terbaik, terutama emosi ibunya.

Sebenarnya ketika saya bertanya mengapa dia tidak mau masuk, saya mengambil video yang kemudian saya unggah di instastory milik saya dan berbagai tanggapan pun masuk, di antaranya “museum itu kan emang terkenal spooky” atau “di sana kan banyak cerita aneh-aneh” dan tanggapan lainnya dengan nada serupa. Tapi saya dan Pak Reza sepakat bahwa apa yang terjadi di sana murni karena pencahayaan yang kurang, aura saya yang kurang nyaman, serta ditambah memang ketika itu pengunjung museum sendiri hanya kami bertiga dan ada satu orang selain kami. Jadi terlalu banyak alasan masuk akal lainnya kenapa akhirnya dia takut.

Tidak mau larut dalam ketakutan, kami memutuskan untuk menikmati aktifitas kami di luar museum mulai dari berlarian di parkiran, makan buah potong yang kami beli dari mamang-mamang gerobak yang mangkal di sekitaran museum, sampai berfoto ria bersama sambil menikmati sore yang cerah ceria di kala itu.

Iklan

Apakah yang kami lakukan itu termasuk WWL?

“Apakah pada akhirnya anak benar-benar akan berhenti menyusui dengan penuh kesadaran? Apa anak benar-benar akan meminta berhenti dengan sendirinya tanpa kita yang meminta?”

Saya memulai semua dengan mengurangi frekuensi menyusui; pada awalnya saya hanya akan memberikan ASI saat dia minta tanpa saya tawarkan, lambat laun saya mulai kesepakatan kalau dia hanya boleh nenen jika dia akan tidur. Kesepakatan itu kami beri nama “nenen bobo.” Walau tak jarang, setelah nenen bobo dia tidak tidur, malah kembali cenghar, boro-boro tidur. Akhirnya kesepakatannya naik lagi menjadi: dia hanya boleh nenen dua kali, terserah dia mau kapanpun. Walaupun saya sendiri prefer dua kali itu sebelum dia tidur siang dan tidur malam, jadi kalau setelah nenen dia tidak tidur, nanti pas dia ngantuk dia tidak boleh nenen lagi. Dan step terakhir, dia berhenti total; tidak nenen sama sekali. Selesai!

Sejujurnya ada step yang terlewat, harusnya setelah nenen dua kali sehari, naik ke satu kali sehari, baru berhenti total. Tapi karena beberapa alasan, saya dan suami sepakat untuk langsung berhenti total karena kami percaya anak kami sudah siap. Selain itu, tanggal 31 agustus kemarin kami rasa adalah momen yang tepat bagi dia berhenti total. Iya, tanggal 31 Agustus lalu sampai tanggal 2 September orang tua saya mudik dan saya jadikan ini sebuah kesempatan besar untuk sapih total, karena pada saat ada mereka, kadang saya merasa tidak leluasa saat saya harus menolak dengan tegas dan ada campur tangan mereka. Ditambah lagi, pernah ada wacana “Sawaii akan dibawa liburan ke uyutnya di Ciamis beberapa hari biar enggak nenen.” Walau inti sebenarnya adalah membantu meringankan beban kita sebagai anaknya, dan demi cucu tersayang, tapi yang saya tangkap dari wacana itu, kalau kamu gagal sapih dengan caramu, sini sama kami aja dibawa liburan biar lupa nenen.

Sebagai ibu baru dan anak pertama, saya ingin melakukannya dengan cara kami sendiri, dengan pengetahuan yang kami miliki, dengan pengalaman yang kami dengar, dan kami juga sadar apa yang kami putuskan juga berdasarkan apa yang kami yakini terbaik. Jadi kami putuskan dengan waktu yang terbatas ini, akan kami nikmati sebagai waktu intim kami untuk menyapih dengan cara kami. Kami terus memberikan sugesti dan mengingatkan dia hadiah apa yang akan diterima jika dia berhenti nenen. Ada sebuah kesepakatan, jika dia berhenti nenen, kami akan belikan dia sepeda (metode ini digunakan oleh beberapa teman terdekat saya dan berhasil). Dia sepakat dan kebetulan dia sendiri interested sekali ingin memiliki sepeda seperti beberapa temannya di sekitar rumah. Waktu intim itu saya manfaatkan untuk terus memberikan dukungan padanya bahwa dia bisa; sulit itu karena tidak biasa; ini tentang sebuah kebiasaan. Banyak sugesti yang kami berikan: memberikan lebih banyak pelukan dan kecupan, mencoba lebih mengerti dia bahwa fase ini bukan perkara mudah juga untuk dia dan saya sebagai ibunya.

Dari awal tahapan itu kami lakukan dengan berbicara, iya, tanpa memberi pahit-pahit atau menakut-nakuti. Paling pernah beberapa kali saya tolak dengan alasan sakit sih… Tapi ini beneran sakit, entah karena keadaaan yang tidak fit atau kondisi ASI yang mulai menipis sehingga membuat sakit saat menyusui. Itu semua kami komunikasikan kepadanya. Dia terima? Tidak selalu. Namanya juga hidup. ya penuh dinamika dan tantangan. Kadang dia mengerti, kadang dia maksa dan nangis sejadi-jadinya, tapi saya, khususnya, dituntut untuk konsisten dan sabar luar biasa, tak boleh lengah oleh rayuan tangisan dia yang makin lama volumenya semakin meningkat. Katanya yang dia butuhkan saat itu adalah pelukan, kecupan penguatan bahwa walaupun dia tidak nenen, kasih sayang kami tidak akan berkurang, bahkan baiknya saat proses sapih itu berjalan, kita harus lebih banyak memberikan pelukan, kecupan dan kata-kata penguatan agar dia tidak merasa kehilangan atau merasa terbuang. Tapi ibu saya juga manusia biasa, tak jarang letih menghampiri. Tapi tangisan sang anak tak kunjung mereda. Maafkan ibu, ya Waii, kadang ibu membiarkan kamu menangis–mengambil beberapa langkah pergi untuk meninggalkan kamu atau menolak dengan tegas.

Proses ini sangat melelahkan bagi saya pribadi. Saya hampir menyerah. Ditambah lagi pada fase ini, sang anak hanya mau semuanya sama ibu; digendong sama “ibu aja”, minum maunya diambil sama “ibu aja”,  semua sama “ibu aja”. Tak peduli ibu sedang tidur, makan atau apapun, semua harus sama ibu, tak boleh ada campur tangan bapak, kakek atau nenek saat cranky datang menghampiri. Saya pernah menangis beberapa kali pada fase ini, mengeluhkan letih pada suami, berharap bisa gantian beberapa jam saja saat fase itu datang atau bahkan menjadikan suami sebagai pelampiasan keletihan. Belum lagi, di awal-awal sapih total, saya mengalami pembengkakan pada payudara. Jangankan sabar menghadapi anak yang pengen digendong terus kalau tidur, sabar menahan rasa sakit karena bengkak aja sulit, coy… Hati-hati jangan “senggol” ibu menyusui yang sedang bengkak payudara saat menyapih, bisi dibacok!

Selain itu adakah tantangan lain yang kami hadapi saat menyapih? Hidup itu kalau lurus-lurus aja kayaknya flat ya. Begitu juga tantangan sapih ini. Saya yang masih tinggal bersama orang tua juga, menjadi salah satu tantangan. Maksud hati membantu, kadang malah menambah ke-cranky-an. Maksud hati meringkankan, malah kadang menjadi beban. Belum lagi beberapa komentar orang tua kami. Salah satunya “yaudahlah yang pasti-pasti aja, yang udah kebukti sama orang tua jaman dulu; pakai pahit-pahit atau digambarin payudara ibunya.” Atau, “harus sekarang ya disapihnya? Nanti aja atuh udah tiga tahun. Kasian”. Atau juga komentar dari orang (tua) lain, “udah lewat dari dua tahun mah harus berhenti atuh nenennya, di agama juga maksimal dua tahun. Lewat dua tahun, ASI-nya justru gak baik untuk anak.” Untung semua komentar diberikan langsung ke suami saya, bukan ke saya. Dan beruntungnya juga suami saya sangat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memberitahu saya, sehingga saya merasa santai banget menerima tanggapan-tanggapan tersebut dan bahkan terlalu malas untuk menjawab komentar mereka dengan kata-kata. Saya hanya ingin menjawab komentar tersebut dengan sebuah bukti riil bahwa kami bisa melakukan dengan cara kami sendiri.

Eh tapi saya sendiri pengen jawab sih disini beberapa alasan saya, hahahaha… Yang saya baca dan saya yakini, sapih adalah proses penting dalam fase pengambilan keputusan besar pertama anak kita; kapan dia siap berhenti ataupun tidak. Memberikan pahit-pahit atau menakut-nakuti itu sebenarnya bisa membuat trauma pada anak; anak merasa tidak disayang lagi, dan dibuang. Walaupun saya tidak yakin sepenuhnya benar sih, wong saya juga generasi yang disapih dengan dipahit-pahitin sepahit kehidupan, dan saya merasa semua baik-baik saja, atau mungkin saya baik-baik saja karena saat disapih juga saya tetap mendapat dekapan dan dukungan dalam bentuk lainnya walau diberikan pahit-pahit atau di takut-takuti? dan ini perlu cari tahu lebih banyak sih. Yang pasti jika pengetahuan meningkat dan ada cara yang lebih baik, kenapa enggak? Lalu untuk menjawab pertanyaan kenapa mesti sekarang, sebenarnya kalau setelah ikhtiar semaksimal mungkin dia tetap pengen nenen sampai tiga tahun sih aku pasrah ya, dia yang ambil keputusan, saya hanya coba memfasilitasi sebaik-baiknya. Tapi kalau ternyata dia mengambil kesempatan ini juga untuk berhenti, yaudah sekarang aja, kenapa mesti nunggu tiga tahun? Terakhir, emang setelah lewat dari dua tahun, ASI memberikan pengaruh buruk untuk si anak? Sepengetahuan aku, enggak sih. Tapi kalau manfaatnya jadi kurang, iya jelas, atau beberapa orang bilang jadinya tidak ada nutrisi, hanya air saja. Selain itu, biasanya kalau dia masih nenen, makan jadi lebih sedikit sedangkan pada usia ini dia butuh lebih banyak nutrisi bukan hanya dari ASI, tapi dia butuh nutrisi yang lebih bervariatif. Dan alhamdulilah, beres sapih, makan dia jadi lebih lahap.

Oia kami pernah gagal juga loh ketika mengurangi frekuensi menyusui ketika kakak saya pulang ke Indonesia dan tinggal serumah selama kurang lebih tiga minggu bersama tiga anaknya. Adaptasi dengan suasana baru membuat saya harus menghentikan proses sapih dan memulai lagi dari awal saat liburan mereka selesai. Hahahaha. Tapi apapun itu, semua akhirnya terlewati saat anak kami berusia dua tahun satu bulan; dia selesai ASI. Hari ini, saat saya menuliskan pengalaman ini, dia sudah berhenti nenen 10 hari, dan dia sudah mendapatkan sepedanya di hari ke-5. Alhamdulilah

Setelah dia mendapatkan sepeda, apakah dia pernah meminta nenen kembali? Dengan sangat takjub, saya menjawab tidak. Dia tidak pernah berkata “mau nenen bobo.” Kini saat dia mengantuk, dia akan berkata “bu, ngantuk”, “bu, gendong”, “bu, garuk-garuk” atau “bu, bobo peluk.” Padahal sebelum dia beli sepeda, dia masih suka ngomong “mau nenen bobo aja, enggak mau sepeda”, tapi kini dia tak pernah sekalipun meminta kembali, seolah dia sudah sangat mengerti.

Lalu apakah yang kami lakukan bisa disebut WWL atau weaning with love? Saya tidak tahu, saya hanya melakukan apa yang menurut saya terbaik berdasarkan apa yang saya yakini. Saya secara pribadi percaya, setiap ibu dan anak memiliki caranya sendiri untuk menyapih. Mereka pasti memiliki pertimbangan atas apa-apa yang mereka pilih berdasarkan apa yang mereka anggap baik dan, benar juga, dengan cara mereka sendiri. Mereka memilih berdasarkan pertimbangan atas semua informasi yang mereka miliki dan mereka yakini.

Selamat bersepeda, Sawaii. Selamat memulai petualangan baru yang lebih seru! Walaupun kini kita tidak lagi berdekapan dalam hubungan intim menyusui, tapi pelukan ibu akan selalu ada untuk kamu kapanpun dan dimanapun.

Berikut detail Tips menyapih dengan WWL dari rekan-rekan AIMI. Semoga dapat membantu 🙂

IMG_48661
Hadiah untuk kamu yang berhasil mengambil keputusan besar pertama di 2 Tahun 1 bulan

Bermain bersama Jejak Kecil di Festival Hari Buku Anak

Ini kali pertama Sawaii (21 m) mengikuti aktifitas bermain sambil belajar bersama Jejak Kecil dalam rangkaian kegiatan yang diadakan oleh Pustakalana di Festival Hari Buku Anak yang diadakan di Taman Cinta – ITB pada 23 April 2017 lalu.

Sebenarnya sang ibu yang antusias pengen banget mengajak sawaii beraktifitas bersama Jejak Kecil sejak lama dan akhirnya kesampaian. Dari beberapa hari sebelumnya Sawaii sudah kami beritahu bahwa hari itu dia akan bermain bersama teman-teman seusianya. Karena satu dan lain hal, bapak hanya mengantar dan nanti menjemput kembali, padahal sebenarnya saya ingin kami bisa mendampingi Sawaii untuk pertama kalinya. Sesuatu hal yang pertama itu memang selalu senang-senang menegangkan yaaa..

IMG_0411Begitu sampai di lokasi, saya langsung takjub melihat dekorasinya yang lucu banget. Ini event anak pertama yang pernah saya datangi dan kereeenn, salut buat teman-teman pustakalana, semoga bisa jadi acara tahunan yaaa.. Amin! Kami pun langsung mengantri Registrasi yang mana sebelumnya kami sudah membeli secara online. Harga tiket masuk Festival Hari Buku Anak sendiri untuk anak-anak 30K presale dan 40K untuk yang membeli di tempat, Tapi untuk Orang Tuanya sendiri bisa gratis dengan beberapa cara diantaranya membawa preloved item/ book, sedangkan untuk aktifitas bermain bersama Jejak Kecil sendiri bayar lagi sebesar 85K. Setelah Registrasi Sawaii mendapatkan topeng kucing dan notebook bertuliskan Pasport terdapat stiker cap bertuliskan “Night at The Museum“, Sawaii pun langsung ingin memakai topeng kucingnya dengan riang gembira dan sang ibu turut bahagia karena mendapatkan notebook yang cute. hahaha..

Setelah menunggu sekitar 30 menit karena terlambat pembukaan acara, akhirnya tibalah saat bermain bersama Jejak Kecil, awalnya Sawaii mau berkenalan dengan kakaknya satu persatu karena masih sepi juga sih, tapi setelah mulai ramai dan kegiatan dimulai, Sawaii diam mematung, diajak bernyanyi diam, ditanya diam, dia terus berpegangan pada ibu, Ibu tak boleh jauh. Kakak-kakaknya berkenalan dengan nyanyian, bernyanyi sambil menari dan Sawaii tetap diam memperhatikan, ku biarkan dia mengobservasi sambil terus ada disampingnya tanpa memaksakan dia untuk mengikuti. Lambat laun dia mau duduk sendiri mendengarkan cerita yang berjudul Night at The Museum yang dibacakan oleh kakaknya walau ibu tetap harus berada dekat dengan dia.

Selesai bercerita tibalah saatnya beraktifitas, anak-anak diberikan sebuah misi untuk mencari dinosaurus yang hilang ketika malam tiba seperti pada buku ceritanya. Pertama mereka diajak mengambil gambar tulang-tulang yang sudah dipersiapkan sebelumnya, lalu memberi makan gambar Singa dan gambar Gajah dengan mengambil alat peraga berupa daging atau rumput yang dibiarkan berserakan, setelah itu mereka juga mewarnai sebuah gambar menggunakan spons, mengambil gambar yang terdapat pada sebuah mangkuk yang ada semacam slime yang lengket-lengket seperti lem, yang pasti setelah mendapat gambarnya Sawaii langsung buru-buru minta dibersihkan. hahaha.. Terakhir mereka mencari bentuk-bentuk tulang dalam tempat yang terdapat semacam pasir untuk ditempel untuk dijadikan gambar utuh Dinosaurus.

Walaupun dia terlihat tidak terlalu antusias dan harus selalu didampingi namun dia mau mengikuti setiap kegiatannya dengan baik tanpa menangis ataupun meminta hal-hal lain diluar kegiatan tersebut. Bahagia? Yes! Karena aku sendiri sebagai ibu belum mampu menyediakan permainan-permainan seperti itu, jadi sesekali bolehlah sawaii beraktifitas di usianya ini sebelum akhirnya dia benar-benar rutin bersekolah.

Namun ada hal yang kurang ideal, salah satunya adalah suara speaker di main stage yang terdengar jelas ke tempat kami beraktifitas membuat anak-anak tidak bisa terlalu fokus. Selain itu terlalu banyak orang baik yang mendampingi, menonton ataupun yang sekedar lewat. Termasuk saya sebagai ibunya kesulitan mendengarkan dengan jelas ketika kakaknya bercerita dan terlihat si kakak berusaha mengeraskan suaranya agar adik-adik dapat mendengar dengan baik. Dan biasanya sih Sawaii juga kalau terlalu banyak orang apalagi orang asing membuat dia lebih diam, next mungkin kami harus mengunjungi tempat Jejak Kecilnya siapa tahu dia bisa lebih menikmati 🙂

We Don’t Talk Anymore..

Ruang itu membuat kita mengerti seberapa berharganya dia untukmu, Ruang bisa membuatmu rindu, namun Ruang juga bisa membuat kamu mengerti bahwa dia bukan segalanya. Tapi haruskah ruang membuat kita kehilangan?

Waktu bisa membuat dia menjadi yang selalu ada, Waktu bisa membuat dia paling mengerti, namun Waktu juga bisa membuat kita mengerti bahwa ternyata dia bukan siapa-siapa. Lalu haruskah waktu juga membuat kita akhirnya tidak saling mengenali?

Katanya hidup itu pilihan, kalau akhirnya kamu memilih untuk pergi dan melepaskan maka kamu harus bersiap untuk kehilangan. Tapi haruskan berakhir dengan tidak saling bicara?

Dan Mengapa kita tidak bisa sekedar saling menyapa saat mata saling bertemu seperti malam ini?

unnamed

Naik Damri Yuk!

Minggu lalu Ibu harus pergi meeting di daerah gasibu, karena bapaknya ada jadwal mengajar maka Ibu memutuskan untuk pergi menggunakan Damri berdua bersama sawaii, anak perempuannya yang kini beranjak 21 bulan.

Kenapa harus Damri diantara sekian banyak pilihan trasnportasi publik lainnya? Ya karena pertama si Ibu itu mantan Ceri alias Cewek Damri ketika kuliah, jadi kudu pisan ya melestarikan Damri. hahaha.. Kangen juga kali sama Damri setelah jaman kuliah hampir tiap hari pakai Damri sampai punya tiket terusan yang khusus dibelikan papapnya. Selain itu, kini Damri  jauh lebih baik dibanding jaman dulu.

Sebelum kita cerita tentang Damri sekarang, masih ingat dengan Damri jaman dulu? Beberapa hal yang saya ingat tentang Damri jaman dulu adalah asap knalpot hitam, yang mana artinya Busnya tidak begitu bagus, jika hujan tak jarang bocor dari atapnya, banyak pedagang asongan dan pengamen jalanan silih berganti layaknya radio ya tak berhenti mengudara, harganya jauh dekat Rp.1500-1800an (seinget saya ketika terakhir kali saya naik Damri yang non AC), namanya non AC pasti panas sehingga paling enak duduk di pinggir jendela, ngetem lama sampai sekalinya datang Damri itu rebutan, penuh sehingga tak jarang kalau tidak naik dari terminal harus berdiri atau duduk di kursi kayu tambahan, selain itu kepadatan membuat Damri menjadi rawan akan copet.

Lalu bagaimana dengan Damri sekarang? Damri sekarang tidak ada yang non AC, semua ber-AC walau sekarang harganya Rp. 5000,- jauh dekat tapi sepadan dengan kondisi Damri saat ini. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya naik Damri bersama Sawaii, ini sudah ketiga kalinya, tapi bisa dibilang ini jarak terjauh saya bersama Sawaii menggunakan Damri. Dari terminal Leuwih panjang sampai Pemberhentian di Dago. Sebenarnya pengennya Damrinya bertiga sama Bapaknya, tapi sayang kesibukan tidak memungkinkan kami Da-Damri-an bersama.

Kembali kepada kondisi Damri saat ini, selain semua Damri sekarang ber-AC, kondisi bus nya pun bagus-bagus banget, udah tidak ada lagi tuh asap hitam keluar dari knalpot Damri, penempatan kursinya pun mirip-mirip Trans Jakarta, bikin betah deh dan bagus buat foto-foto (tetep harus. hahaha..) Beberapa kali ini menggunakan Damri, kami tidak pernah merasakan Damri sepenuh jaman dulu, mungkin selain peminatnya mulai berkurang, Damri sekarang katanya tidak boleh ngetem juga, jadi penuh atau tidak jika sudah waktunya berangkat, Damri harus tetap berangkat. Sehingga jarang kami melihat penumpang berdiri dari awal sampai akhir, kalaupun harus berdiri biasanya tidak terlalu lama. Harusnya dengan kondisi seperti ini, kasus pencopetan di Damri juga berkurang drastis ya..

IMG_9795Lalu bagaimana dengan pedagang asongan dan pengamen jalanan? Setelah menjadi Ibu, saya baru sadar kalau anak kecil sasaran empuk tukang dagang asongan. Begitu masuk Damri di Terminal, kami langsung di kerubuni tukang jualan dari mulai makanan ringan, minuman segar, makanan basah sampe mainan. Mereka tak segan-segan menawarkan langsung ke depan muka sawaii atau menyimpan jualannya tepat di samping sawaii. Mereka gak nawarin ke Ibunya tapi langsung ke anaknya sebagai potensi terbesar untuk jajan. Sejujurnya bagian ini agak mengganggu sih, tapi alhamdulilah sawaii tak tergoda karena dia udah aku bekali sebelumnya. Tapi tenang saja, mereka cuma akan mengasongkan dagangannya selama bus ngetem di terminal, ketika jalan tak ada pedangan asongan/pengamen berkeliaran di bus.

IMG_9800Selain itu pengalaman menarik lainnya selama kami menggunakan Damri kemarin adalah adalah sawaii gak mau di pangku! Yang membuat si ibu bayar 2 kursi, sebenernya sih gak perlu juga gak apa-apa, tapi gak enak sama yang berdiri. Yang berdiri aja tetap bayar, masa ini bocah mau duduk sendiri gak bayar? akhirnya kami pun membayar 2 tiket. Tapi karena semakin lama, semakin banyak (sekitar 5-8 orang) yang berdiri, saya pun coba berbicara pada sawaii.

Ibu : Wai, duduk dipangku ibu yu!

Sawaii : Enggak, duduk sini aja (dengan bahasa sawaii)

Ibu : Iya nanti Sawaii duduk lagi kalau udah mulai sepi, sekarang duduk sama ibu. Itu ada nenek, teteh sama tante kasian berdiri, nanti neneknya duduk sini, sawaii sama ibu ya sambil makan Pocky (cemilan dia yang sudah saya siapkan).

Sawaii : Duduk sama ibu aja

Alhamdulilah, Sawaii mau dipangku dan kami pun meminta salah satu penumpang untuk duduk dikursi kosong sebelah kami. Tak lama setelah kursi sebelah terisi, kondektur datang memberikan uang Rp. 5000,- kepada kami tanpa berkata apa-apa.

Ibu : Ha? sudah pak, gak apa-apa.

Kondektur : gak apa-apa (jawabnya singkat)

Saya kaget, kondekturnya baik banget. Dia mengembalikan uang Rp. 5000,- kami karena sawaii jadinya dipangku, padahal saya sendiri gak keberatan sama sekali kalau harus bayar, toh kalau udah sepi juga Sawaii akan duduk sendiri lagi ya di kursi. hahaha..

Ini kali kedua seingat saya, saya dibantu oleh kondektur Damri setelah dulu saya pernah melihat kasus eksibiosionis (ini perlu 1 judul baru untuk bahas kejadian ini nih) di Damri dan saya dibantu oleh seorang Kondektur dengan cara dia selalu berusaha berada dekat saya selama perjalanan dari terminal ledeng ke terminal leuwih panjang. Lah kenapa si kondekturnya gak melakukan apa pun? karena mungkin dia juga takut, tapi dia tetap berusaha untuk membantu dan sesekali kami mengobrol untuk mengalihkan perhatian selama perjalanan.

Walaupun secara fisik Damri telah banyak berubah, tapi satu yang tidak berubah dari Damri, rasa yang ada di dalamnya. Tapi kamu tidak akan pernah tahu sampai kamu berkenalan dengan dia dan semua dimulai dengan hal sederhana “Naik Damri yuk!”

unnamed

#1Bulan1Meseum : Ini Museum Kereta Api atau Galeri Kereta Api?

Semenjak memutuskan untuk nambah eskul #1bulan1museum kami jadi lebih jelas mengisi waktu luangnya. Yang dimaksud waktu luang adalah saat kami sedang di “Kota” dan entah mau kemana untuk mengisi waktu sebelum janji lainnya. Iya kadang-kadang kita bingung ngapain sambil nunggu janjian ketemu orang saat kita terlalu cepat sampai ke “Kota”. Iya kota, maklum kami anak kabupaten pinggiran yang membutuhkan waktu 1-1,5 jam buat sekali jalan ke Pusat Kota.

Kali itu beberapa agenda kami selesai lebih cepat dari perkiraan, sambil menunggu agenda berikutnya kami sepakat untuk mencari Museum terdekat yang bisa kami kunjungi. Entah mengapa, saya penasaran apakah ada “Museum Kereta Api di Bandung?” karena sejauh ini saya sendiri tak pernah mendengar Museum Kereta Api di Bandung. Lalu saya pun melalukan pencarian di google. Aha! Ternyata ada, dan tempatnya tak jauh dari tempat kami berada. Tanpa berfikir panjang, setelah membaca reviewnya kami langsung meluncur kesana.

Setelah sampai, ternyata tempatnya cukup sepi. Bahkan kami sempat ragu sampai akhirnya kami bertanya pada satpam disana “Apa benar ini Museum Kereta Api?”, “Oia benar, silahkan masuk dan isi buku tamunya dulu”. Ternyata memang pengunjungnya sedikit banget, terlihat dari daftar tamunya itu sendiri.

img_8998.jpg
Daftar Tamu Museum Kereta Api Bandung

Tapi itu tidak mematahkan semangat kami untuk mencari tahu apa yang ada di dalamnya. Begitu kami masuk ke ruang utama, kami disambut oleh Pak Mulyadi, Penanggung Jawab di Graha Parahyangan itu. Pak Mulyadi sangat ramah, menemani kami berkeliling sambil menceritakan tentang si Museum Kereta Api ini sendiri, sayang kami tak sempat berfoto bersama karena keburu ada pengujung lainnya. 

Museum Kereta Api ini berada di lokasi Graha Parahyangan, Jalan Dayang Sumbi No 10. Ternyata Graha Parahyangan ini semacam wisma beberapa pegawai PT KAI sekaligus Museum dan Galeri. Tapi kini menurut saya Museum Kereta Api ini lebih cocok disebut Galeri Kereta Api saja karena sebagian barang-barangnya sendiri telah di kirim ke Museum Kereta Api Ambarawa,  dan yang ada hanya galeri foto sejarah dari PT KAI itu sendiri. Itu juga yang Pak Mulyadi katakan, setiap kali ada yang menghubunginya untuk membawa rombongan berkunjung Pak Mulyadi selalu berkata “Coba lihat dulu saja kesini”, ya mungkin beliau juga bingung, takutnya malah diluar ekspektasi dan mereka malah kecewa, khususnya bila rombongan anak TK/SD. Katanya kalau penjunganya mahasiswa bisa kita ceritakan seadanya, tapi kalau yang datang anak TK/SD mereka butuh model jelas ketika datang ke Museum dan Graha Parahyangan ini tidak memiliki selain hanya foto-fotonya saja.

Lalu sebenarnya apakah boleh kesana? boleh banget, kita boleh bermain kesana walau hanya dengan kondisi seadanya. Masuk kesana tidak dipungut biaya sepeserpun, kamu hanya perlu mengisi buku tamu dan buka hanya pada hari dan jam kerja saja ya..

Btw, Museum Kereta Api ini dulunya rumah Ernst Gerard Oscar, seseorang perwira Belanda di Indonesia, yang didirikan pada th. 1927. Rumahnya klasik banget, enak banget emang rumah peninggalan belanda itu ya dan sawaii seneng banget disana ya kerana (lagi-lagi) bisa bebas berlari-lari. Ibu-Bapaknya juga suka, dengan konsep rumahnya yang klasik dan ditengah kota. Yang ada dibenak kita adalah “Berapa harga rumah ini ya? kita suatu saat mampu gak ya punya rumah klasik semacam ini?”

#1Bulan1Museum : Nostalgia di Museum Pendidikan Indonesia – UPI

Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan segalanya. Yayaya, begitulah yang terjadi pada Februari kami. Niat Setiap bulan mengagendakan berkunjung ke 1 museum, apadaya di bulan ke 2 sudah TETOT karena jadwal Pak Reza yang padat. Tapi kami tidak akan menyerah, kami akan “mencoba”membayar di bulan Maret ini. Doakan kami dapat membayarnya yaa..

Pengalaman Februari lalu, membuat kami lebih gesit melihat peluang jadwal kosong Pak Reza, sebenarnya sih bisa saja berdua sama Sawaii, tapi kan judulnya #1bulan1museum ini semacam family time buat kami, ya jadi harus sama Pak Reza biar semakin afdol. Awal Maret lalu, akhirnya kami bisa berkunjung ke Museum, dan seperti rencana awal yang sudah kami tentukan dari bulan Februari lalu, kami memilih Museum Pendidikan Indonesia yang terdapat di kampus Universitas Pendidikan Indonesia sebagai target kita kali ini, sekalian nostalgialah ya sama Pak Reza, walau kami baru bareng-bareng ke kampusnya pas detik-detik terakhir sebelum kami meninggalkan UPI dengan cara yang berbeda. hahaha..

pentagon1
Pentagon pada tahun 2005. Foto by google

Museum Pendidikan Indonesia ini terbilang cukup baru, baru 2015 jadi bisa dibilang semua yang ada disana juga masih pada bagus dan terawat sejauh ini dan semoga terus seperti ini ya. Dulu di lokasi yang sekarang dijadikan Museum ini adalah Gedung Pentagon, tempat anak Fakultas Bahasa, tempat dimana buat anak FIP macam saya merupakan kesegaran yang Hakiki, dimana kami bisa melihat kehidupan bebas berekspresi sebagai layaknya mahasiswa. Ya bedalah sama anak FIP – Psikologi Pendidikan khususnya- yang bajunya aja diatur harus menggunakan Rok dan atasan kemeja untuk perempuan serta celana kain dan kemeja untuk laki-laki. Dan Pentagon sendiri merupakan gedung perkuliahan Pak Reza semasa kuliah, sebagai anak Bahasa. Sayang dulu saya belum kenal Pak Reza, kalau udah kenal kan saya bisa rajin-rajin ke Pentagon, menikmati aura kebebasan Mahasiswa Bahasa. Kini Pentagon hanya tinggal kenangan berubah menjadi Museum Pendidikan Indonesia – Universitas Pendidikan Indonesia.

Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia didirikan atas prakarsa Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata M.Pd, dan didukung oleh Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, Lc. Pembangunan Museum Pendidikan Nasional ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab UPI sebagai perguruan tinggi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian warisan sejarah budaya bangsa khususnya dibidang pendidikan.

Museum ini sendiri bukanya hanya dihari dan jam kerja,  Senin-Jum’at dari jam 09:00 – 15:00. Harga tiket masuknya pun cukup terjangkau hanya Rp. 5.000,- dan kamu akan disuguhkan air mineral dalam bentuk gelas, kami sih tidak ngambil karena kami selalu bekal Air mineral dalam Tempat Minum. Museum ini cukup luas, terdapat 4 lantai yang beranak menjadi 18 bagian / masa, diantaranya :

  1. Pra Aksara
  2. Pendidikan Berbasis Agama
  3. Pendidikan Berbasis Masa Kolonial
  4. Pendidikan Masa Pergerakan Nasional
  5. Pendidikan Pendudukan Jepang
  6. Pendidikan Masa Kemerdekaan s.d Reformasi
  7. Menteri-menteri Pendidikan
  8. Sejarah Guru
  9. Tokoh Pendidikan Nasional
  10. Pendidikan Jawa Barat
  11. Raden Dewi Sartika
  12. Universitas Pendidikan Indonesia
  13. Gedung Isola
  14. Mang Koko
  15. Peran UPI dalam Dunia Pendidikan
  16. UPI kini dan Prestasi
  17. Rektor dari Masa ke Masa
  18. UPI Masa Depan

Selain menampilkan beberapa koleksi Museum, dibeberapa bagian terdapat media interaksi yang bisa kita lakukan, seperti pada bagian Mang Koko. Terdapat layar yang bisa membuat kita mencoba menggunakan kecapi atau alat musik tradisonal lainnya dalam bentuk digital. Museum ini cukup ramah untuk disabilitas, adanya jalur khusus untuk mereka disamping setiap anak tangga dan terdapat lift juga. Jalur ini yang membuat Sawaii (19m) ini bahagia dibanding melihat-lihat isi Museum, dia sibuk naik turun dan berlari, bahkan sesekali saat kita terlalu asik memperhatikan Museum, dia akan berkata “Bu / Pak ayo!”. Selain itu juga Toiletnya bagus dan bersih loh, membuat kita betah deh lama-lama di Museum ini, nyaman banget. Apalagi yang doyan foto-foto, Pencahayaan di Museum ini cukup bagus buat spot foto.

Sejujurnya menurut saya pribadi kadang Museum yang terlalu banyak pengunjungnya, khususnya yang datang rombongan kayak study tour anak sekolah itu membuat kita tidak terlalu menikmati ya. Tapi ternyata Museum ini memiliki website ya cukup keren, kita bisa mengetahui jadwal pengunjung walaupun kurang detail seperti jamnya, tapi lumayan. Jadi kita bisa pilih hari yang tidak ada jadwal kunjungan rombongannya.

Setelah puas berkeliling Museum, jangan lupa makan makanan ala Mahasiswa. Niatnya sih pengen nostalgia, harusnya kalau nostalgia makan ditempat kita dulu pernah makan bareng pak, Nasi Padang sebrang kampus! Tapi, Sawaii belum pernah makan rendang nih, next time lah ya waii..

Terakhir, ada 1 pesan dari R. Dewi Sartika yang saya baca di salah satu sudut Museum

“….Kaum Wanita harus maju, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi Ibu. Merekalah yang paling dahulu akan mengajarkan kepada manusia, yaitu pada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan.”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.