#1Bulan1Museum : Nostalgia di Museum Pendidikan Indonesia – UPI

Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan segalanya. Yayaya, begitulah yang terjadi pada Februari kami. Niat Setiap bulan mengagendakan berkunjung ke 1 museum, apadaya di bulan ke 2 sudah TETOT karena jadwal Pak Reza yang padat. Tapi kami tidak akan menyerah, kami akan “mencoba”membayar di bulan Maret ini. Doakan kami dapat membayarnya yaa..

Pengalaman Februari lalu, membuat kami lebih gesit melihat peluang jadwal kosong Pak Reza, sebenarnya sih bisa saja berdua sama Sawaii, tapi kan judulnya #1bulan1museum ini semacam family time buat kami, ya jadi harus sama Pak Reza biar semakin afdol. Awal Maret lalu, akhirnya kami bisa berkunjung ke Museum, dan seperti rencana awal yang sudah kami tentukan dari bulan Februari lalu, kami memilih Museum Pendidikan Indonesia yang terdapat di kampus Universitas Pendidikan Indonesia sebagai target kita kali ini, sekalian nostalgialah ya sama Pak Reza, walau kami baru bareng-bareng ke kampusnya pas detik-detik terakhir sebelum kami meninggalkan UPI dengan cara yang berbeda. hahaha..

pentagon1
Pentagon pada tahun 2005. Foto by google

Museum Pendidikan Indonesia ini terbilang cukup baru, baru 2015 jadi bisa dibilang semua yang ada disana juga masih pada bagus dan terawat sejauh ini dan semoga terus seperti ini ya. Dulu di lokasi yang sekarang dijadikan Museum ini adalah Gedung Pentagon, tempat anak Fakultas Bahasa, tempat dimana buat anak FIP macam saya merupakan kesegaran yang Hakiki, dimana kami bisa melihat kehidupan bebas berekspresi sebagai layaknya mahasiswa. Ya bedalah sama anak FIP – Psikologi Pendidikan khususnya- yang bajunya aja diatur harus menggunakan Rok dan atasan kemeja untuk perempuan serta celana kain dan kemeja untuk laki-laki. Dan Pentagon sendiri merupakan gedung perkuliahan Pak Reza semasa kuliah, sebagai anak Bahasa. Sayang dulu saya belum kenal Pak Reza, kalau udah kenal kan saya bisa rajin-rajin ke Pentagon, menikmati aura kebebasan Mahasiswa Bahasa. Kini Pentagon hanya tinggal kenangan berubah menjadi Museum Pendidikan Indonesia – Universitas Pendidikan Indonesia.

Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia didirikan atas prakarsa Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata M.Pd, dan didukung oleh Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, Lc. Pembangunan Museum Pendidikan Nasional ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab UPI sebagai perguruan tinggi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian warisan sejarah budaya bangsa khususnya dibidang pendidikan.

Museum ini sendiri bukanya hanya dihari dan jam kerja,  Senin-Jum’at dari jam 09:00 – 15:00. Harga tiket masuknya pun cukup terjangkau hanya Rp. 5.000,- dan kamu akan disuguhkan air mineral dalam bentuk gelas, kami sih tidak ngambil karena kami selalu bekal Air mineral dalam Tempat Minum. Museum ini cukup luas, terdapat 4 lantai yang beranak menjadi 18 bagian / masa, diantaranya :

  1. Pra Aksara
  2. Pendidikan Berbasis Agama
  3. Pendidikan Berbasis Masa Kolonial
  4. Pendidikan Masa Pergerakan Nasional
  5. Pendidikan Pendudukan Jepang
  6. Pendidikan Masa Kemerdekaan s.d Reformasi
  7. Menteri-menteri Pendidikan
  8. Sejarah Guru
  9. Tokoh Pendidikan Nasional
  10. Pendidikan Jawa Barat
  11. Raden Dewi Sartika
  12. Universitas Pendidikan Indonesia
  13. Gedung Isola
  14. Mang Koko
  15. Peran UPI dalam Dunia Pendidikan
  16. UPI kini dan Prestasi
  17. Rektor dari Masa ke Masa
  18. UPI Masa Depan

Selain menampilkan beberapa koleksi Museum, dibeberapa bagian terdapat media interaksi yang bisa kita lakukan, seperti pada bagian Mang Koko. Terdapat layar yang bisa membuat kita mencoba menggunakan kecapi atau alat musik tradisonal lainnya dalam bentuk digital. Museum ini cukup ramah untuk disabilitas, adanya jalur khusus untuk mereka disamping setiap anak tangga dan terdapat lift juga. Jalur ini yang membuat Sawaii (19m) ini bahagia dibanding melihat-lihat isi Museum, dia sibuk naik turun dan berlari, bahkan sesekali saat kita terlalu asik memperhatikan Museum, dia akan berkata “Bu / Pak ayo!”. Selain itu juga Toiletnya bagus dan bersih loh, membuat kita betah deh lama-lama di Museum ini, nyaman banget. Apalagi yang doyan foto-foto, Pencahayaan di Museum ini cukup bagus buat spot foto.

Sejujurnya menurut saya pribadi kadang Museum yang terlalu banyak pengunjungnya, khususnya yang datang rombongan kayak study tour anak sekolah itu membuat kita tidak terlalu menikmati ya. Tapi ternyata Museum ini memiliki website ya cukup keren, kita bisa mengetahui jadwal pengunjung walaupun kurang detail seperti jamnya, tapi lumayan. Jadi kita bisa pilih hari yang tidak ada jadwal kunjungan rombongannya.

Setelah puas berkeliling Museum, jangan lupa makan makanan ala Mahasiswa. Niatnya sih pengen nostalgia, harusnya kalau nostalgia makan ditempat kita dulu pernah makan bareng pak, Nasi Padang sebrang kampus! Tapi, Sawaii belum pernah makan rendang nih, next time lah ya waii..

Terakhir, ada 1 pesan dari R. Dewi Sartika yang saya baca di salah satu sudut Museum

“….Kaum Wanita harus maju, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi Ibu. Merekalah yang paling dahulu akan mengajarkan kepada manusia, yaitu pada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan.”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Yoga, ku labuhkan hatiku padamu

Yoga? Siapa yoga shel?

Saya berkenalan dengan Yoga pada tahun 2012 lupa tepatnya kapan. Yang saya ingat, dulu Bubu Ami yang merekomendasikan saya berkenalan dengan Yoga setelah saya cerita cukup banyak mengenai apa yang saya alami dari kecil, mulai dari kondisi fisik yang lemah sehingga mudah sakit mulai dari alergi flu menahun, asma, dan terakhir gastritis akut sampai ketergantungan saya terhadap dokter kulit. Yang mana sebenarnya itu semua juga bisa karena stres atau malah membuat saya semakin stres dengan kondisi itu semua. Jadi bersyukurlah wahai kalian yang dianugerahkan kesehatan dan fisik yang kuat, gak semua orang mudah mendapatkannya, banyak diantaranya yang harus memperjuangkan itu semua, salah satunya saya.

“Kamu gak coba olahraga rutin shel?” Pengen bangeeettt, tapi sejujurnya -entah ini hanya alasan- semenjak saya memutuskan menggunakan kerudung, saya jarang berolahraga karena diantara banyak pilihan olahraga, saya lebih memilih olahraga berenang, yang mana sudah saya tekuni sejak SMP dengan mengikuti les tambahan diluar sekolah. Selain itu juga ketika SMP saya pernah mengikuti klub Voli sih, tapi kandas ditengah jalan karena tidak kuat latihan fisiknya. hahaha.. Akhirnya saya memilih renang karena renang itu sangat ramah asma dan bagus untuk terapi asma, tapi apa daya semenjak memutuskan menggunakan kerudung di Tahun 2006 saya jadi malas untuk berenang, sesekali sih suka tapi tidak rutin.

Lalu Tahun 2012 saya mencoba Yoga, saya lupa saya dulu yoga pertama itu sama Ami di Rumahnya apa di Galenia dulu ya? Yang pasti kayaknya saya pertama berkenalan sama Yoga itu bareng kulawarGI, sepulang kerja kami yoga bersama.

Untuk orang pecicilan dan memiliki banyak energi berlebihan -tapi kondisi fisik minimalis- pada awalnya yoga itu cukup sulit. Tenang, Fokus, Konsentrasi sesuatu hal yang bukan saya banget sebenarnya, mamah bilang kalau saya diibaratkan olahraga saya mah cocoknya aerobik atau zumba. Tapi ternyata perbedaan itu yang membuat saya nyaman, dan saya butuhkan untuk memperoleh keseimbangan, sama kayak saya yang butuh bapak Reza  yang kalem, sabar, dan terorganisir untuk menjaga keseimbangan hidup saya. *uhuk*

Selain itu juga, Yoga membantu saya mengenali tubuh saya lebih dalam. Yoga mengajarkan saya untuk mengenali tubuh saya sendiri dan menerimanya, yang mana sebelumnya saya tidak tau loh. Dalam Yoga, tidak ada yang lebih hebat, jago atau apapun, mereka yang lebih lentur bukan berarti yang terbaik, kita hanya perlu melakukan gerakan sesuai kemampuan tubuh kita, walaupun sesekali kita perlu memberikan tantangan lebih tapi tetap sesuai kemampuan kita, bertahap. Awalnya saya sendiri pernah merasa, “Kok saya gak bisa, dia bisa” dan perasaan itu yang akhirnya membuat saya semakin tidak bisa. Saya ingat, dulu saya sangat kesulitan pada gerakan-gerakan yang berfokus pada lutut, seperti saat meluruskan kaki, lutut saya akan gemetaran berlebihan, selain itu saya juga sulit sekali menjaga keseimbangan, padahal teman-teman saya terlihat mudah melakukan itu semua.

Tahun berganti dan ternyata saya belum bisa konsisten melakukan Yoga, khususnya sih terkait dengan waktu dan beberapa karena pemilih instruktur. Iya memilih instruktur juga kayak nyari jodoh ya, harus yang klik, karena gak semua instruktur -menurut saya- enak. Dulu saya pernah mengikuti kelas Yoga di salah satu studio dan itu enggak enak bangeeet, susah buat dijelasinnya dengan kata-kata. Yang pasti yang saya yakini, yoga itu bukan hanya sebuah gerakan, ada perasaan disana, ada ketenangan, ada energi positif yang mana itu yang selalu saya suka. Ditambah yang lebih menyenangkan, untuk orang extrovert seperti saya Yoga memberikan energi lebih karena saya bisa bertemu dengan teman-teman yang selalu memberikan semangat dan energi positif untuk selalu beryoga. Walaupun 1 grup whatsapp yoga ceria bubar, tapi kita akan selalu bisa bertemu di event-event yoga lainnya yang tak terduga ya gaes..

Sampai akhirnya saya hamil dan saya tetap memilih yoga prenatal untuk membantu proses lahiran saya, dan ternyata lagi-lagi Yoga membuat saya semakin cinta. Yoga Prenatal juga bukan hanya sekedar olahraga, disana saya bertemu banyak ibu hamil lainnya. Ada banyak semangat disana dari para pujuang gentle birth dan kami saling berbagi pengalaman. Selain itu yang paling terasa adalah saya tidak sendiri. Ternyata apa yang saya rasakan, mereka juga merasakannya dan itu membantu menguatkan saya.  Jadi pengen Yoga Prenatal lagi. Mmmmm..

Ini sudah Tahun ke 5 saya berkenalan dengan Yoga, saya memang belum bisa headstand atau pose-pose ekstrim lainnya, tapi dengan segala ketidak rajinan ini minimal saya sudah bisa lebih mengenal tubuh saya, bisa lebih fokus, sedikit lebih calm –mungkin-, dan lutut juga tidak gemeteran berlebihan saat sedang yoga. Karena katanya seperti halnya sebuah Perubahan

“Ini bukan tentang lebih baik dari dari orang lain, tapi cukuplah lebih baik dari diri kamu sebelumnya”

Namaste

unnamed

Sawaii ?!

29 Juli 2015

“Halo om tante, perkenalkan nama saya Sawaii Reza. Lahir Rabu (29/7) jam 00:30 dengan berat 2,8kg dan tinggi 49 cm. Doakan aku ya selalu sehat agar dapat hidup selaras dengan alam dan hidup sesuai dengan ajaran Islam. Amin”

Iya kira-kira begitulah isi status saya pada saat kelahiran anak pertama kami. Banyak ucapan selamat serta doa untuk keluarga kecil kami dengan turut berbahagia bersama kami, Terima kasih. Begitupun kami berharap doa terbaik untuk kalian semua dari kami yang berbahagia.

Selain ucapan itu, banyak yang bertanya dan menerka-nerka mengenai nama yang kami berikan kepada anak pertama kami “SAWAII”. Bahkan ada yang menyengaja japri -jalur pribadi- kepada kami untuk bertanya apa arti nama Sawaii. Ya sebenarnya Itu juga yang saya tanyakan pertama kali saat mendengar nama sawaii, setelah sebelumnya jatuh cinta pada nama tersebut.

Jadi begini ceritanya, menurut Bapa Reza (yang mana adalah investor terbesar Sawaii) Sawaii itu artinya Perempuan dalam bahasa belitung. Dia mendapatkan ilham nama itu ketika sedang duduk di bangku kuliah, kala itu dia sedang nongkrong di perpustakaan kampus dan membaca buku-buku disana, salah satunya adalah (iseng) membaca kamus daerah bahasa belitung. Dia menemukan kata Sawaii yang dalam bahasa belitung artinya perempuan. Seketika itu juga dia jatuh cinta pada nama itu dan berniat akan memberi nama anak perempuannya kelak adalah Sawaii.

Ketika kami sedang mencari nama anak pertama kami dan Bapa Reza mengajukan nama Sawaii, saya pun langsung jatuh cinta, menurut saya namanya unik dan cantik. Kami pun sepakat untuk memberi nama anak perempuan kami Sawaii. Kemudian saya meminta Bapa Reza untuk mencari tahu lebih banyak mengenai nama Sawaii itu sendiri, tapi ternyata setelah di crosscheck, kami tidak menemukan nama Sawaii itu dimana-mana. Bahkan ada yang pernah berkata “Apa da perempuan di bahasa Bengkulu mah bukan Sawaii!” dan dia pun memberitahu kami apa istilah perempuan dalam bahasa Bengkulu yang mana kami lupa. hahaha.. Apapun itu, kami sendiri sudah terlanjur jatuh cinta pada nama Sawaii, sehingga kami memutuskan bahwa

bagi kami Sawaii itu artinya Perempuan

Keras kepala memang, padahal bisa aja dulu bapanya salah baca sih tapi yaudahlah ya. Kan kata Agnesmo juga cinta mah kadang tak ada logika.

Terlalu sukanya sama nama Sawaii sampai bagi kami tak ada nama yang pas untuk mendampingi kata Sawaii selain nama bapanya sendiri, Reza. Entah sebenarnya karena malas untuk mikir juga, baru anak pertama loh  masa udah malas mikir nama panjangnya, gimana sih ini.

Apapun alasannya kami akhirnya memilih nama Sawaii Reza untuk anak pertama kami yang artinya Perempuannya Reza. Dalam setiap nama yang dipilih ada arti yang juga berisikan Doa didalamnya, begitu pula dengan Sawaii Reza. Kami berdoa semoga kelak dia menjadi Perempuan yang seutuhnya, Perempuan yang sebenar-benarnya sesuai dengan syariat Islam tentunya, menjaga kehormatannya sebagai perempuan muslim dengan selalu hidup berdasarkan tuntunan-Nya demi keselamatan Dunia dan Akhirat. Amin.

Beberapa fakta yang kami temukan dari teman-teman kami setelah kami memberi nama Sawaii

“Sawaii yang Kawaii“, Seseorang pernah berpendapat kalau sawaii itu asal kata dari kata kawaii, yang mana Kawaii sendiri dalam bahasa Jepang artinya cantik, imut, manis. Amin

“Sawaii itu Syawal”, memang kebetulan sawaii juga lahir bulan sawaii sih, jadi bisa juga. hahaha..

Sawai, Surga tersembunyi di pulau seram“, Sebagai penyuka pantai, saya harap kelak kami bisa bermain ke surga di pulau seram bersama surga di hidup kami. amin

unnamed
dengan teman : Arti Sebuah Nama

Hello

Lagu Hello – Adele itu bahaya, bahkan ada riset membuktikan bahwa lagu itu sudah berhasil membuat banyak orang menelpon mantannya. Hahaha..

Dan sialnya saya termasuk yang merasakan magic dari lagu itu, tapi bukan pada mantan pacar ya dan tidak sampai menelpon, hanya mengenang.

Setiap waktu yang terlewati membawanya pada tempat yang bernama ‘kenangan’, dan dia berada pada salah satu sudut di hati, tak terlihat namun tetap terjangkau, tak dirawat namun tetap berarti.

Iya, Lagu itu membawa saya berjalan mundur. Jauh  ketika saya lebih banyak menggunakan seragam sekolah dibanding baju lainnya. Saya berjalan menuju salah satu sisi hati, membuka setiap lembar yang -mungkin- masih tersimpan.

Halo kamu, bagaimana kabarmu? bertahun-tahun tidak bertemu. Kalau kata adele mah

Hello, it’s me, I was wondering
If after all these years
You’d like to meet?

Detik demi detik terekam jelas, tatapan yang tidak akan pernah bisa dilupakan.

Halo kamu, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku baik-baik saja bersama dia yang sangat istimewa, bersama dia yang sangat bertanggung jawab. Aku sangat bahagia dan tak perlu khawatirkan aku. Aku harap kamu juga begitu bersama dia yang selalu ada bersamamu dari belasan tahun lalu sampai kini kalian telah bertiga.

Ingin rasanya aku perkenalkan siapa laki-laki istimewa ini padamu, meminta kamu menilai, menguatkan apa yang sudah aku putuskan semua ini benar. Tapi aku tak tahu kamu dimana dan apakah kita akan bertemu lagi? mungkin suatu saat kita akan bertemu, saling berpapasan namun tidak saling menyapa. Lagi-lagi adele bilang

There’s such a difference between us
And a million miles

Pesan Moral dari tulisan ini : Buat kamu yang gak kuat-kuat banget, jangan pernah dengerin lagu Hello – Adele di bawah pengawasan Hati yang sehat lahir batin, Karena katanya Gara-gara kata “Hello” dari mantan bisa merusak Move on selamanya.

unnamed

Maaf bila berulang tahun itu salah

9 Februari 2017 ini tepat kamu berusia 29 tahun.

Maaf, saya sedang tidak mengucapkan doa “panjang umur” padamu, karena dulu sebelum kami menikah, kamu pernah bercerita untuk memiliki cita-cita meninggal di usia muda. Alasannya karena di dunia terlalu banyak ketidak idealan, jadi mending di surga. Walaupun kamu juga berkata, “meski mungkin kita harus menikmati siksa neraka dulu sebelum masuk surga, tapi gapapalah”. Tapi katamu cita-citamu berubah setelah memiliki sawaii, kamu ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama kami. Amin untuk apapun Takdir-Nya, karena Dia Maha Mengetahui.

Maaf, sekarang saya jadi takut sama yang namanya ulang tahun, apalagi ulang tahun kamu. Karena kontroversi ulang tahun itu sendiri yang masih dalam bahan diskusi panjang antara kita. Saya sudah sering mendengar berkali-kali mengenai pandangan Islam mengenai ulang tahun dan saya sudah sangat hatam atas apa isi diskusi dan alasan-alasanmu  untuk menghindar dari kata ulang tahun sejak kita berteman baik. Sebenarnya pada dasarnya saya sudah pada tahap sepakat untuk tidak “berulang tahun”, tapi ada hati kecil yang selalu ingin menunjukan bahwa kamu sangat spesial buat saya, saya ingin memperlihatkan itu, saya ingin kamu tahu bahwa kamu sangat berarti dan saya tahu bahwa itu tidak harus di hari ulang tahun.

Maaf, saya sendiri sebenarnya tidak lahir pada keluarga yang suka merayakan ulang tahun, waktu kecil saya bahkan tidak pernah merayakan ulang tahun karena kata papap “ngapain sih ulang tahun-ulang tahun?” tanpa mendapatkan penjelasan lebih, atau sebenarnya dulu papap pernah memberi penjelasan tapi saya skip ya? hahaha.. Oleh karena saya tidak pernah merasakan euforia ulang tahun, saya ingat betul saya yang akhirnya membuatkan ulang tahun untuk papap. Sepulang sekolah waktu SD, saya pernah menghias kamar papap dengan balon, lengkap dengan kertas krep berwarna-warni. Tak lupa saya siapkan hadiah berupa pulpen tinta yang saya beli dari tabungan. Saya lupa sih apa tanggapan papap detailnya, yang pasti memori saya tidak mengingat adanya kemarahan, yang saya ingat hanya ada ucapan terima kasih dan haru saat itu. Setelah itu, saya terbiasa merayakan ulang tahun anggota keluarga lainnya hanya untuk kita-kita kalangan terbatas saja sampai dengan saat ini dan menjadi semacam ritual keluarga.

Maaf, bagi saya hari kelahiran cukup memiliki makna spesial tersendiri. Saat belum ada media sosial, kita akan mengetahui siapa saja yang akan ingat hari spesial kita tanpa diingatkan oleh fitur kalendernya walau hanya memberikan ucapan selamat tanpa ada perayaan apapun. Tapi itu sudah cukup membahagiakan, diingat membuat saya sangat berarti (anaknya teh sudah butuh pengakuan dari kecil). Selain itu, saya suka memberikan resolusi-resolusi disetiap ulang tahun, umur baru seolah memacu saya untuk selalu jadi pribadi yang lebih baik. Seperti saat berulang tahun ke 20 saya memutuskan untuk berkerudung, ataupun pernah beberapa kali ulang tahun saya membuat resolusi MOVE ON pada beberapa nama. LOL. hahaha..

Dan Maaf, kebahagian kecil ini juga yang ingin saya sampaikan pada kamu, kebahagian-kebahagian kecil yang pernah saya berikan pada orang-orang disekililing saya, kini ingin saya berikan kepada kamu, saya tahu ini sangat membuat tidak nyaman untuk kamu. Saya sangat mengerti, tapi bantu saya untuk berproses. Ini tahun ke 3 dia berulang tahun setelah kita menikah, 3 tahun ini kita berhasil melewati tanpa ada kue, tanpa ada lilin, walau masih ada kado-kado kecil atau perlakuan-perlakuan spesial lainnya. Anggap saja hadiah yang saya berikan bukan hadiah ulang tahun, ini rezeki yang kebetulan ada dan bertepatan dengan diskon barang yang kamu inginkan atau butuhkan sebenarnya? Lagian gak dikasih pas tanggal 9 Februari kan ya? hanya bulan Februari. hahaha.. Dan Spaghetti tadi hanya karena sudah lama ibu tidak buat spaghetti buat bapa yang jadwal ngajarnya 2 hari ini padat, ini mah biar semangat aja. Hahaha..

Seperti kata-katamu “aku tidak ingin mendoakanmu hanya dalam satu hari ini saja, tapi 364 hari lainnya”. Sebenarnya di tanggal 9 Februari ini ada seseorang yang ingin saya perlakukan sangat istimewa, tapi nyali saya belum seberani itu. Mamah, iya mamah mertua. Orang yang melahirkan kamu, mempertaruhkan hidup dan mati untuk membawamu ke dunia, orang yang membesarkanmu dengan suka cita, orang yang rela melepaskanmu untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Terima kasih Mamah, engkau telah melahirkan laki-laki yang luar biasa yang kini ada disampingku. Maaf, nyaliku sangat kecil untuk berkata langsung padamu. Maaf, aku belum bisa menjadi isteri yang baik buatnya, ibu yang baik untuk cucumu dan kami belum menjadi anak yang berbakti untukmu. Kami hanya bisa berkata Maaf dan Doakan kami ya mah, karena ridho mu adalah ridho-Nya.

Dan Maaf Spaghettinya sudah habis disaat bila berulang tahun itu salah..

unnamed
#1minggu1cerita dalam Tema FORGIVENESS

#1bulan1museum : Museum Pos Indonesia

Januari 2017

Dengan datangnya kami ke Museum Pos, itu tanda bahwa kami menerima tantangan #1bulan1museum yang diberikan oleh indri guli di akhir tahun 2016 lalu. Kalau kata bu anil mah, apalah hidup kami mah banyak ekskulnya. Iya, setelah #1minggu1cerita yang sudah berjalan dari pertengahan tahun 2014 sampai dengan saat ini di shellyasmauliyah.wordpress.com ini, #30haribercerita sebuah program selama 30 hari penuh untuk rutin menulis ngeblog di Instagram @asmauliyah di setiap bulan Januari sejak tahun 2016 dan 2017, dan sekarang saya menerima tantangan #1bulan1museum selama Tahun 2017. Hahahaha..

Lalu kenapa saya tertarik menerima #1bulan1museum? Sebenarnya ketika hamil 2 tahun lalu saya dan pak suami pernah menyengaja jalan-jalan ke Museum Geologi, kami fikir ini merupakan alternatif nge-date yang seru dan murah meriah, dulu harga tiketnya Rp. 4.000,- untuk umum, entah sekarang, semoga belum naik lagi ya. Ditambah sebagai orang kabupaten Bandung, kami sendiri belum pernah datang ke semua Museum, bahkan tidak tahu ada Museum apa saja di Bandung. Padahal sejujurnya saya sendiri gak ngerti-ngerti amat tentang sejarah sih atau apa yang ada di dalam Museum itu, bahkan tak jarang saya sering mengkerutkan kening tentang apa yang ada disana seolah berkata “naon sih ini? aku kan anaknya IPA banget”, sudah abaikan. Tapi sebenarnya seru juga loh melihat hal-hal yang ada di Museum itu. Belajar mengenai masa lalu, dan katanya masa lalu bisa mengajarkan kita tentang masa depan. Jadi baik-baiklah sama mantan ya :p Museum bisa menjadi alternatif liburan yang seru, selain jalan-jalan di Ruang Publik yang lagi HITS di Bandung sendiri saat ini. Ditambah saat ini kami tidak lagi berdua, ada Sawaii si anak kumincir berusia 18 bulan, sehingga kami harus lebih selektif lagi dan memilih tempat berlibur bersama dia sekaligus harus memberikan banyak alternatif untuk dia. Jadi begitu Guli mengajak gerakan #1bulan1museum, saya dan pak suami langsung sepakat untuk menerimanya. 

Begitu mengetahui tantangan ini, hal pertama yang dilakukan adalah mencari data Museum apa saja yang ada di Bandung, karena kami membutuhkan 12 Museum selama 1 Tahun ini. Sebenarnya tidak mesti di Bandung/tempat kamu tinggal saat ini, kalau kamu mau datang ke Museum di  Kota lain/di Negara lain untuk berburu Museum juga boleh, tapi berkomitmen untuk menjadikan program ini semudah mungkin, yang paling mudah dan gampang yaudah yang ada di Bandung aja. Kalau nantinya ada rezeki/kerjaan untuk ke Kota/Negara lain ya anggap saja itu bonus yang bisa dipergunakan sekalian berburu Museum. Hahaha.. Amin! Ternyata di Bandung sendiri lumayan ada banyak, dari mulai Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, Museum Sribaduga, Museum Pos Indonesia, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Barli, Museum Zoologi, Gedung Indonesia Menggugat, Museum Pendidikan Nasional UPI, Bandung Planning Galery, Ex-LP Banceuy Bandung dan bahkan di Bandung ada juga Museum Nike Ardila loh. Sebenarnya kalau kita searching katanya ada juga Upside Down World Bandung yang katanya ini termasuk kategori Museum dengan harga tiket Dewasa 100K dan anak 50K. Wow.

Dari semua daftar tersebut, Museum yang pertama kami pilih adalah Museum Pos Indonesia, kenapa Museum Pos? karena Pak Suami dan saya sendiri belum pernah ke Museum Pos Indonesia, bahkan lebih tepatnya baru tahu beberapa tahun terakhir. Padahal ternyata si Museum ini udah ada dari Tahun 1931 dengan nama Museum PTT (Pos, Telepon, Telegram), lalu Tahun 1983 berganti nama lagi menjadi Museum Pos dan Giro dan 20 Juni 1995 (Tanggal ulang tahun saya tuh. Lah terus?! abaikan) berganti nama kembali menjadi Museum Pos Indonesia sampai dengan saat ini. Museum ini sendiri terletak di kantor pusat pos indonesia, Jalan Cilaki No 73 – Bandung yang mana masuknya gratis,  kamu hanya perlu mengisi buku tamu. Jam bukanya sendiri di hari Senin – Jum’at buka dari jam 09:00-16:00, Sabtu jam 09:00-13:00 dan Minggu Tutup.

Dibanding beberapa Museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya, Museum Pos Indonesia ini terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Membuat kita nostalgia, mengingat-ngingat masa berkirim surat, mengirim kartu pos atau yang paling diingat adalah mengingat pada masa saling mengirim kartu lebaran, rasanya dulu setiap Ramadhan datang, hal yang paling seru adalah berburu kartu lebaran yang lucu-lucu, kita tulis tangan untuk mereka yang spesial. Kalau sekarang sih tinggal mengirim pesan singkat yang mana kita bisa copy-paste dari ucapan yang kita dapat dari orang lain juga. Dan sejujurnya, semakin tahun, semakin terasa hambar setiap kali ucapan itu datang, seolah hanya basa-basi tidak terasa personal apalagi spesial.

Di sana kami juga mengingat-ngingat barang-barang mana saja yang kita alami dari apa saja yang ditampilkan, seperti salah satu kotak pos yang mengingatkan saya pada jamannya,”Kotak pos ini dulu ada di depan TK Aditya pak, dan dulu ibu suka masukin suratnya disana”. hahaha.. Iya, selain menampilkan berbagai macam koleski perangko Indonesia yang disusun berdasarkan periode, perangko pertama di Dunia, disana juga ada bermacam-macam kotak pos dan peralatan penunjang lainnya seperti timbangan paket, gerobak angkut pos, timbangan surat manual, sampai motor serta tas yang dipergunakan pada masa itu. Namun menurut saya pribadi, tampilannya kurang menarik, terutama bagian macam-macam kotak pos, kotak pos itu berjejer disalah satu lorong museum. Yang mana akan lebih seru kalau setiap kotak pos dipasang dengan suasana tahun kala itu, pasti itu akan menjadi lebih bisa membuat kita kembali ke masa itu. Mungkin kendalanya adalah tempat yang tidak begitu besar, Museumnya itu sendiri terletak di lantai basement Kantor Pusat Pos Indonesia.

Selain itu ketika kami datang, sedang ada kunjungan dari anak SMP Padalarang sekitar 100an orang membuat tempat semakin tidak kondusif untuk menikmati Museumnya. Yang mana mereka ditugaskan mengisi pertanyaan yang disediakan, jadi mereka sibuk berlari sana-sini untuk menjawabnya. Tidak butuh waktu banyak untuk berkeliling Museum itu, dalam waktu 30-60 menit maksimal kamu sudah bisa menikmati seluruh Museum itu sendiri dengan metode jalan santai sambil baca sana-sini dan sambil berfoto tentunya.

Kopo I’m in Love

Dengan ini saya terima segala kelebihan dan kekurangan Kopo, baik dalam suka maupun duka karena dengan segala isi dan cerita perjalanannya, saya jatuh cinta padanya. Kopo.

Berbicara kampung halaman itu berbicara mengenai Kopo. Karena Kopo merupakan satu daerah tersendiri dari Bandung. Iyalah, sebagai orang Bandung dan sekitarnya pasti gak asing ya mendengar kata KOPO. Daerah di jalur selatan yang terkenal dengan jauh dan macetnya, daerah yang tidak pernah sepi. Gimana mau sepi, angkot aja 24 jam Kopo mah, kamu pulang jam berapapun, pasti akan ada mamang-mamang baik hati menanti kita di perempatan Kopo siap mengantarkan kita pulang menggunakan angkotnya. so sweet banget kan..

Kalau ngomongin macetnya Kopo, gak akan ada habisnya kayak macetnya yang gak selesai-selesai. Jadi mari siapkan cemilan sambil menikmati perjalanan kita ke Kopo, SIAP?

Waktu kuliah saya pernah terjebak macet Kopo selama hampir 2 jam, macet di Kopo nya doang ya. Kala itu saya berangkat dari rumah jam 7, karena ada ujian jam 9. Entah mengapa kali itu Kopo macet luar biasa, sampai 2 jam saya baru jalan kira-kira 2 KM, sedangkan perjalanan saya ke UPI (Universitas Padahal IKIP). Masih ada belasan kilometer yang harus saya lalui menggunakan angkutan umum, padahal biasanya hanya perlu 1,5 – 2 jam untuk sampai ke UPI dari Kopo. Karena sudah jam 9 juga dan waktu itu saya hanya akan ujian 1 mata kuliah saja, lalu saya pulang lagi lah, percuma juga dilanjutin karena gak akan keburu juga. Ditambah dosennya terkenal kurang ramah terhadap alasan mahasiswa, kalau saya datang hari itu terlambat dan dimarahi, kalau saya datang besok juga tetap dimarahi, jadi saya memilih besok sekalian, sebagai prinsip efisiensi waktu dan perjalanan juga. Lagian udah keburu lelah dijalan juga sih. Lalu besoknya saya menghadap dosen tersebut, minta susulan ujian dan menceritakan alasannya, dan si dosen ngomong “Kalau tau rumahnya daerah Kopo, harusnya berangkat dari rumah setelah adzan shubuh biar gak terlambat datang ke kampus”, terus udah dikometari gitu, diijinkan ujian susulan? Ya enggaklah! You fikir ha? Dia suruh saya ujian susulan setelah keluar nilai ujian yang lain, jadi saya bareng sama yang remed. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali, percayalah gaes~

Selain itu buat para perempuan yang berasal dari Kopo, Kopo itu punya cara tersendiri mengetes seberapa cinta pasangan kamu yang berada diluar Kopo. Sebagai orang Kopo, kita aja males keluar rumah buat macet-macetan, ini pasangan kamu datang menembus panas dan macet atau kadang hujan dan banjir cuma buat menjemput atau mengantar kamu pulang. Atau bahkan perginya dijemput, pulangnya diantar? GILA. kalau gak cinta-cinta banget, udah putus kali kalian karena alesan “sayang, aku udah gak sanggup lagi menghadapi Kopo. Aku bisa tua dijalan kalau kayak gini terus”. Makannya kami para perempuan Kopo sangat menghargai mereka yang mau bertahan menghadapi Kopo bersama-sama, kami mah mudah terenyuh euy kalau ada yang baik mau nganter jemput gitu teh, baperan. Dan karena itu Allah menganugerahkan orang Kopo manis-manis sehingga bikin susah move on. HAHAHAHA..

Kalau buat para laki-laki warga Kopo mah udah pasti setia dan penyabar. Udah tahu Kopo macet, tapi tetap aja tinggal di Kopo, kurang setia apa coba? menghadapi macetnya kopo aja sanggup, apalagi pasangannya? secara setiap hari, orang Kopo mah menghadapi ujian kesabaran.

Sebenarnya saya sendiri lahir dan besar di kopo ke sebelah sananya, lebih tepatnya Komplek Margahayu Permai. Komplek yang membuat saya jatuh cinta skaligus patah hati. Komplek yang menemani saya dari masa alay sampe punya anak alay. Komplek yang menemani perjalanan remaja saya, sampai saya memiliki keluarga kecil. Iya, kalau ngomongin Komplek itu pasti ngomongin sahabat yang luar biasa, teman-teman seperjuangan menghadapi kamecetan Kopo dengan suka cita. Teman yang Siaga memberikan tebengan untuk pulang atau pergi. Pernah saat hujan tiba Kopo macet parah karena banjir dimana-mana, saya dijemput oleh salah satu sahabat (sekomplek) saya yang menyengaja pergi dari rumah, hujan-hujan. Itu juga karena dimintain tolong sih dan di rumah sedang tidak ada papap atau adik. Selain itu, dulu waktu kuliah papap cukup selektif memberikan ijin dengan siapa saya bisa main/sekedar nonton bioskop. Mereka adalah jawaban, kalau sama mereka pasti diijinin, alasannya karena papap tau siapa orang tuanya dan dimana rumahnya. Jadi kalau sama mereka aman hidup gue. hahaha..

Karena terlalu aman, dulu sebelum nikah saya suka nongkrong di Kios Rokok depan mesjid  bersama mereka sampai tengah malam. Saya satu-satunya cewek yang hadir diantara mereka, yang mereka jaga atau lebih tepatnya karena mereka gak menganggap saya cewek sih. hahaha.. Bahkan sampai detik-detik stres persiapan pernikahan, saya masih nongkrong sama mereka, menangis tersedu-sedu karena stres. Dan selama saya nangis mereka tetap merokok sambil ngobrol, ya saya mah nangis aja duduk diantara mereka, lalu sesekali tertawa bersama menertawakan tangisan saya. Satu lagi yang membuat saya sangat nyaman bersama mereka, saya bisa bebas menangis tanpa harus cerita apapun pada mereka, walau mereka kepo atau khawatir tapi mereka memberikan saya ruang untuk bebas memilih antara bercerita atau tidak. Mereka sangat tahu, saya pasti akan cerita jika memang bisa diceritakan. Ah rindu rasanya hadir diantara mereka..

Mereka juga yang membuat saya bertahan jomblo sampai umurnya 23 tahun. hahahaha.. Karena hidup saya tidak pernah sepi, status boleh single, tapi selalu ada gandengan yang mana gandengannya pun tergantung suasana hati, mau jalan sama siapa aja bisa, yang penting available. Hahahaha.. Bahkan kadang kami jalan bareng bersama, sekedar nonton bareng, buka puasa bareng atau liburan. Mereka juga tahu, rumah saya selalu terbuka 24 jam. Saat mereka patah hati, butuh teman cerita atau teman tertawa, mereka tahu saya selalu siap mendengarkan dan menertawakan cerita mereka. Atau saat mereka butuh seseorang buat bangunin nonton bola atau kuliah pagi, mereka juga tahu saya akan siap melakukannya walau tetap dengan ngomel-ngomel ya. Bahkan pernah salah satu diantara mereka akan mengikuti ujian penerimaan pekerjaan, dia minta dibangunin jam 6 (artinya saya harus terus menelpon dia dari 1 jam sebelum nonstop, karena doski kebluk parah) dan begitu udah bangun, dia minta dibikinin bekel makan dan disiapkan alat tulisnya coba! Jadi begitu selesai mandi dia akan berangkat dan mampir ke rumah untuk ambil semua perlengkapannya, kurang baik apa saya jadi sahabat mereka? Tapi kalau saya gak melalukan itu, besok-besok yang traktir nonton, coklat, es krim atau jemput malem-malem siapa? Hahahaha.. Iya, saya menganggap mereka seperti kakak laki-laki saya yang menyebalkan.

Sampai akhirnya saya memiliki pasangan, jarak hadir diantara kami walau bukan kami yang membuat jaraknya, saya mungkin memang tidak bisa lagi hadir diantara mereka ketika tengah malam tiba untuk bersenda gurau di Kios. Tapi mereka tahu, saya tetap ada untuk mereka saat matahari bersinar. Satu demi satu diantara kami menikah, dulu rasanya ini hanya sebuah candaan saat kami semua single, tapi kini benar adanya, kini kami sudah memiliki anak (walau belum semua, karena belum semua juga nikah) dan kini persahabatan kami berubah menjadi keluarga, keluarga yang semakin besar. Layaknya keluarga besar, kami tahu kami akan selalu berkumpul saat Lebaran tiba, di salah satu sisi tempat kami biasa janjian dulu, untuk berkumpul sebelum atau setelah sholat ied berlangsung. Kini tak perlu janjian, kami tahu dimana kami akan saling menemukan.

Teringat salah satu candaan malam kami di teras rumah saya beberapa tahun yang lalu.

“Pokokna mun anak urang bobogohan dengan jeung nu ngaran tukangna mahmud, ku urang rek titah putuskeun!” (Kalau anak saya pacaran sama yang nama belakangnya mahmud, sama saya akan disuruh putusin)

“Pah kenalin pacar aku, namanya Roberto Erlangga”, “Nama bapak kamu dilly erlangga?”, “Iya om, om kenal?”, “Sekarang juga kalian putus! tak sudi papah punya besan dia”

Lalu berakhir dengan “Mun anak si shelly kumaha? kan pasti ngaran salakina. Tingali we mun anak awewe, cerewet siga si shelly pasti anakna” (Kalau anaknya si shelly gimana? nanti kan nama belakangnya nama suaminya. Lihat aja kalau anak perempuan cerewet kayak si shelly, itu pasti anaknya) Mereka semua tertawa, kalau saya ya cemberut. hahahaha..