Maaf bila berulang tahun itu salah

9 Februari 2017 ini tepat kamu berusia 29 tahun.

Maaf, saya sedang tidak mengucapkan doa “panjang umur” padamu, karena dulu sebelum kami menikah, kamu pernah bercerita untuk memiliki cita-cita meninggal di usia muda. Alasannya karena di dunia terlalu banyak ketidak idealan, jadi mending di surga. Walaupun kamu juga berkata, “meski mungkin kita harus menikmati siksa neraka dulu sebelum masuk surga, tapi gapapalah”. Tapi katamu cita-citamu berubah setelah memiliki sawaii, kamu ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama kami. Amin untuk apapun Takdir-Nya, karena Dia Maha Mengetahui.

Maaf, sekarang saya jadi takut sama yang namanya ulang tahun, apalagi ulang tahun kamu. Karena kontroversi ulang tahun itu sendiri yang masih dalam bahan diskusi panjang antara kita. Saya sudah sering mendengar berkali-kali mengenai pandangan Islam mengenai ulang tahun dan saya sudah sangat hatam atas apa isi diskusi dan alasan-alasanmu  untuk menghindar dari kata ulang tahun sejak kita berteman baik. Sebenarnya pada dasarnya saya sudah pada tahap sepakat untuk tidak “berulang tahun”, tapi ada hati kecil yang selalu ingin menunjukan bahwa kamu sangat spesial buat saya, saya ingin memperlihatkan itu, saya ingin kamu tahu bahwa kamu sangat berarti dan saya tahu bahwa itu tidak harus di hari ulang tahun.

Maaf, saya sendiri sebenarnya tidak lahir pada keluarga yang suka merayakan ulang tahun, waktu kecil saya bahkan tidak pernah merayakan ulang tahun karena kata papap “ngapain sih ulang tahun-ulang tahun?” tanpa mendapatkan penjelasan lebih, atau sebenarnya dulu papap pernah memberi penjelasan tapi saya skip ya? hahaha.. Oleh karena saya tidak pernah merasakan euforia ulang tahun, saya ingat betul saya yang akhirnya membuatkan ulang tahun untuk papap. Sepulang sekolah waktu SD, saya pernah menghias kamar papap dengan balon, lengkap dengan kertas krep berwarna-warni. Tak lupa saya siapkan hadiah berupa pulpen tinta yang saya beli dari tabungan. Saya lupa sih apa tanggapan papap detailnya, yang pasti memori saya tidak mengingat adanya kemarahan, yang saya ingat hanya ada ucapan terima kasih dan haru saat itu. Setelah itu, saya terbiasa merayakan ulang tahun anggota keluarga lainnya hanya untuk kita-kita kalangan terbatas saja sampai dengan saat ini dan menjadi semacam ritual keluarga.

Maaf, bagi saya hari kelahiran cukup memiliki makna spesial tersendiri. Saat belum ada media sosial, kita akan mengetahui siapa saja yang akan ingat hari spesial kita tanpa diingatkan oleh fitur kalendernya walau hanya memberikan ucapan selamat tanpa ada perayaan apapun. Tapi itu sudah cukup membahagiakan, diingat membuat saya sangat berarti (anaknya teh sudah butuh pengakuan dari kecil). Selain itu, saya suka memberikan resolusi-resolusi disetiap ulang tahun, umur baru seolah memacu saya untuk selalu jadi pribadi yang lebih baik. Seperti saat berulang tahun ke 20 saya memutuskan untuk berkerudung, ataupun pernah beberapa kali ulang tahun saya membuat resolusi MOVE ON pada beberapa nama. LOL. hahaha..

Dan Maaf, kebahagian kecil ini juga yang ingin saya sampaikan pada kamu, kebahagian-kebahagian kecil yang pernah saya berikan pada orang-orang disekililing saya, kini ingin saya berikan kepada kamu, saya tahu ini sangat membuat tidak nyaman untuk kamu. Saya sangat mengerti, tapi bantu saya untuk berproses. Ini tahun ke 3 dia berulang tahun setelah kita menikah, 3 tahun ini kita berhasil melewati tanpa ada kue, tanpa ada lilin, walau masih ada kado-kado kecil atau perlakuan-perlakuan spesial lainnya. Anggap saja hadiah yang saya berikan bukan hadiah ulang tahun, ini rezeki yang kebetulan ada dan bertepatan dengan diskon barang yang kamu inginkan atau butuhkan sebenarnya? Lagian gak dikasih pas tanggal 9 Februari kan ya? hanya bulan Februari. hahaha.. Dan Spaghetti tadi hanya karena sudah lama ibu tidak buat spaghetti buat bapa yang jadwal ngajarnya 2 hari ini padat, ini mah biar semangat aja. Hahaha..

Seperti kata-katamu “aku tidak ingin mendoakanmu hanya dalam satu hari ini saja, tapi 364 hari lainnya”. Sebenarnya di tanggal 9 Februari ini ada seseorang yang ingin saya perlakukan sangat istimewa, tapi nyali saya belum seberani itu. Mamah, iya mamah mertua. Orang yang melahirkan kamu, mempertaruhkan hidup dan mati untuk membawamu ke dunia, orang yang membesarkanmu dengan suka cita, orang yang rela melepaskanmu untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Terima kasih Mamah, engkau telah melahirkan laki-laki yang luar biasa yang kini ada disampingku. Maaf, nyaliku sangat kecil untuk berkata langsung padamu. Maaf, aku belum bisa menjadi isteri yang baik buatnya, ibu yang baik untuk cucumu dan kami belum menjadi anak yang berbakti untukmu. Kami hanya bisa berkata Maaf dan Doakan kami ya mah, karena ridho mu adalah ridho-Nya.

Dan Maaf Spaghettinya sudah habis disaat bila berulang tahun itu salah..

unnamed
#1minggu1cerita dalam Tema FORGIVENESS

 

 

#1bulan1museum : Museum Pos Indonesia

Januari 2017

Dengan datangnya kami ke Museum Pos, itu tanda bahwa kami menerima tantangan #1bulan1museum yang diberikan oleh indri guli di akhir tahun 2016 lalu. Kalau kata bu anil mah, apalah hidup kami mah banyak ekskulnya. Iya, setelah #1minggu1cerita yang sudah berjalan dari pertengahan tahun 2014 sampai dengan saat ini di shellyasmauliyah.wordpress.com ini, #30haribercerita sebuah program selama 30 hari penuh untuk rutin menulis ngeblog di Instagram @asmauliyah di setiap bulan Januari sejak tahun 2016 dan 2017, dan sekarang saya menerima tantangan #1bulan1museum selama Tahun 2017. Hahahaha..

Lalu kenapa saya tertarik menerima #1bulan1museum? Sebenarnya ketika hamil 2 tahun lalu saya dan pak suami pernah menyengaja jalan-jalan ke Museum Geologi, kami fikir ini merupakan alternatif nge-date yang seru dan murah meriah, dulu harga tiketnya Rp. 4.000,- untuk umum, entah sekarang, semoga belum naik lagi ya. Ditambah sebagai orang kabupaten Bandung, kami sendiri belum pernah datang ke semua Museum, bahkan tidak tahu ada Museum apa saja di Bandung. Padahal sejujurnya saya sendiri gak ngerti-ngerti amat tentang sejarah sih atau apa yang ada di dalam Museum itu, bahkan tak jarang saya sering mengkerutkan kening tentang apa yang ada disana seolah berkata “naon sih ini? aku kan anaknya IPA banget”, sudah abaikan. Tapi sebenarnya seru juga loh melihat hal-hal yang ada di Museum itu. Belajar mengenai masa lalu, dan katanya masa lalu bisa mengajarkan kita tentang masa depan. Jadi baik-baiklah sama mantan ya :p Museum bisa menjadi alternatif liburan yang seru, selain jalan-jalan di Ruang Publik yang lagi HITS di Bandung sendiri saat ini. Ditambah saat ini kami tidak lagi berdua, ada Sawaii si anak kumincir berusia 18 bulan, sehingga kami harus lebih selektif lagi dan memilih tempat berlibur bersama dia sekaligus harus memberikan banyak alternatif untuk dia. Jadi begitu Guli mengajak gerakan #1bulan1museum, saya dan pak suami langsung sepakat untuk menerimanya. 

Begitu mengetahui tantangan ini, hal pertama yang dilakukan adalah mencari data Museum apa saja yang ada di Bandung, karena kami membutuhkan 12 Museum selama 1 Tahun ini. Sebenarnya tidak mesti di Bandung/tempat kamu tinggal saat ini, kalau kamu mau datang ke Museum di  Kota lain/di Negara lain untuk berburu Museum juga boleh, tapi berkomitmen untuk menjadikan program ini semudah mungkin, yang paling mudah dan gampang yaudah yang ada di Bandung aja. Kalau nantinya ada rezeki/kerjaan untuk ke Kota/Negara lain ya anggap saja itu bonus yang bisa dipergunakan sekalian berburu Museum. Hahaha.. Amin! Ternyata di Bandung sendiri lumayan ada banyak, dari mulai Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, Museum Sribaduga, Museum Pos Indonesia, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Barli, Museum Zoologi, Gedung Indonesia Menggugat, Museum Pendidikan Nasional UPI, Bandung Planning Galery, Ex-LP Banceuy Bandung dan bahkan di Bandung ada juga Museum Nike Ardila loh. Sebenarnya kalau kita searching katanya ada juga Upside Down World Bandung yang katanya ini termasuk kategori Museum dengan harga tiket Dewasa 100K dan anak 50K. Wow.

Dari semua daftar tersebut, Museum yang pertama kami pilih adalah Museum Pos Indonesia, kenapa Museum Pos? karena Pak Suami dan saya sendiri belum pernah ke Museum Pos Indonesia, bahkan lebih tepatnya baru tahu beberapa tahun terakhir. Padahal ternyata si Museum ini udah ada dari Tahun 1931 dengan nama Museum PTT (Pos, Telepon, Telegram), lalu Tahun 1983 berganti nama lagi menjadi Museum Pos dan Giro dan 20 Juni 1995 (Tanggal ulang tahun saya tuh. Lah terus?! abaikan) berganti nama kembali menjadi Museum Pos Indonesia sampai dengan saat ini. Museum ini sendiri terletak di kantor pusat pos indonesia, Jalan Cilaki No 73 – Bandung yang mana masuknya gratis,  kamu hanya perlu mengisi buku tamu. Jam bukanya sendiri di hari Senin – Jum’at buka dari jam 09:00-16:00, Sabtu jam 09:00-13:00 dan Minggu Tutup.

Dibanding beberapa Museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya, Museum Pos Indonesia ini terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Membuat kita nostalgia, mengingat-ngingat masa berkirim surat, mengirim kartu pos atau yang paling diingat adalah mengingat pada masa saling mengirim kartu lebaran, rasanya dulu setiap Ramadhan datang, hal yang paling seru adalah berburu kartu lebaran yang lucu-lucu, kita tulis tangan untuk mereka yang spesial. Kalau sekarang sih tinggal mengirim pesan singkat yang mana kita bisa copy-paste dari ucapan yang kita dapat dari orang lain juga. Dan sejujurnya, semakin tahun, semakin terasa hambar setiap kali ucapan itu datang, seolah hanya basa-basi tidak terasa personal apalagi spesial.

Di sana kami juga mengingat-ngingat barang-barang mana saja yang kita alami dari apa saja yang ditampilkan, seperti salah satu kotak pos yang mengingatkan saya pada jamannya,”Kotak pos ini dulu ada di depan TK Aditya pak, dan dulu ibu suka masukin suratnya disana”. hahaha.. Iya, selain menampilkan berbagai macam koleski perangko Indonesia yang disusun berdasarkan periode, perangko pertama di Dunia, disana juga ada bermacam-macam kotak pos dan peralatan penunjang lainnya seperti timbangan paket, gerobak angkut pos, timbangan surat manual, sampai motor serta tas yang dipergunakan pada masa itu. Namun menurut saya pribadi, tampilannya kurang menarik, terutama bagian macam-macam kotak pos, kotak pos itu berjejer disalah satu lorong museum. Yang mana akan lebih seru kalau setiap kotak pos dipasang dengan suasana tahun kala itu, pasti itu akan menjadi lebih bisa membuat kita kembali ke masa itu. Mungkin kendalanya adalah tempat yang tidak begitu besar, Museumnya itu sendiri terletak di lantai basement Kantor Pusat Pos Indonesia.

Selain itu ketika kami datang, sedang ada kunjungan dari anak SMP Padalarang sekitar 100an orang membuat tempat semakin tidak kondusif untuk menikmati Museumnya. Yang mana mereka ditugaskan mengisi pertanyaan yang disediakan, jadi mereka sibuk berlari sana-sini untuk menjawabnya. Tidak butuh waktu banyak untuk berkeliling Museum itu, dalam waktu 30-60 menit maksimal kamu sudah bisa menikmati seluruh Museum itu sendiri dengan metode jalan santai sambil baca sana-sini dan sambil berfoto tentunya.

 

Kopo I’m in Love

Dengan ini saya terima segala kelebihan dan kekurangan Kopo, baik dalam suka maupun duka karena dengan segala isi dan cerita perjalanannya, saya jatuh cinta padanya. Kopo.

Berbicara kampung halaman itu berbicara mengenai Kopo. Karena Kopo merupakan satu daerah tersendiri dari Bandung. Iyalah, sebagai orang Bandung dan sekitarnya pasti gak asing ya mendengar kata KOPO. Daerah di jalur selatan yang terkenal dengan jauh dan macetnya, daerah yang tidak pernah sepi. Gimana mau sepi, angkot aja 24 jam Kopo mah, kamu pulang jam berapapun, pasti akan ada mamang-mamang baik hati menanti kita di perempatan Kopo siap mengantarkan kita pulang menggunakan angkotnya. so sweet banget kan..

Kalau ngomongin macetnya Kopo, gak akan ada habisnya kayak macetnya yang gak selesai-selesai. Jadi mari siapkan cemilan sambil menikmati perjalanan kita ke Kopo, SIAP?

Waktu kuliah saya pernah terjebak macet Kopo selama hampir 2 jam, macet di Kopo nya doang ya. Kala itu saya berangkat dari rumah jam 7, karena ada ujian jam 9. Entah mengapa kali itu Kopo macet luar biasa, sampai 2 jam saya baru jalan kira-kira 2 KM, sedangkan perjalanan saya ke UPI (Universitas Padahal IKIP). Masih ada belasan kilometer yang harus saya lalui menggunakan angkutan umum, padahal biasanya hanya perlu 1,5 – 2 jam untuk sampai ke UPI dari Kopo. Karena sudah jam 9 juga dan waktu itu saya hanya akan ujian 1 mata kuliah saja, lalu saya pulang lagi lah, percuma juga dilanjutin karena gak akan keburu juga. Ditambah dosennya terkenal kurang ramah terhadap alasan mahasiswa, kalau saya datang hari itu terlambat dan dimarahi, kalau saya datang besok juga tetap dimarahi, jadi saya memilih besok sekalian, sebagai prinsip efisiensi waktu dan perjalanan juga. Lagian udah keburu lelah dijalan juga sih. Lalu besoknya saya menghadap dosen tersebut, minta susulan ujian dan menceritakan alasannya, dan si dosen ngomong “Kalau tau rumahnya daerah Kopo, harusnya berangkat dari rumah setelah adzan shubuh biar gak terlambat datang ke kampus”, terus udah dikometari gitu, diijinkan ujian susulan? Ya enggaklah! You fikir ha? Dia suruh saya ujian susulan setelah keluar nilai ujian yang lain, jadi saya bareng sama yang remed. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali, percayalah gaes~

Selain itu buat para perempuan yang berasal dari Kopo, Kopo itu punya cara tersendiri mengetes seberapa cinta pasangan kamu yang berada diluar Kopo. Sebagai orang Kopo, kita aja males keluar rumah buat macet-macetan, ini pasangan kamu datang menembus panas dan macet atau kadang hujan dan banjir cuma buat menjemput atau mengantar kamu pulang. Atau bahkan perginya dijemput, pulangnya diantar? GILA. kalau gak cinta-cinta banget, udah putus kali kalian karena alesan “sayang, aku udah gak sanggup lagi menghadapi Kopo. Aku bisa tua dijalan kalau kayak gini terus”. Makannya kami para perempuan Kopo sangat menghargai mereka yang mau bertahan menghadapi Kopo bersama-sama, kami mah mudah terenyuh euy kalau ada yang baik mau nganter jemput gitu teh, baperan. Dan karena itu Allah menganugerahkan orang Kopo manis-manis sehingga bikin susah move on. HAHAHAHA..

Kalau buat para laki-laki warga Kopo mah udah pasti setia dan penyabar. Udah tahu Kopo macet, tapi tetap aja tinggal di Kopo, kurang setia apa coba? menghadapi macetnya kopo aja sanggup, apalagi pasangannya? secara setiap hari, orang Kopo mah menghadapi ujian kesabaran.

Sebenarnya saya sendiri lahir dan besar di kopo ke sebelah sananya, lebih tepatnya Komplek Margahayu Permai. Komplek yang membuat saya jatuh cinta skaligus patah hati. Komplek yang menemani saya dari masa alay sampe punya anak alay. Komplek yang menemani perjalanan remaja saya, sampai saya memiliki keluarga kecil. Iya, kalau ngomongin Komplek itu pasti ngomongin sahabat yang luar biasa, teman-teman seperjuangan menghadapi kamecetan Kopo dengan suka cita. Teman yang Siaga memberikan tebengan untuk pulang atau pergi. Pernah saat hujan tiba Kopo macet parah karena banjir dimana-mana, saya dijemput oleh salah satu sahabat (sekomplek) saya yang menyengaja pergi dari rumah, hujan-hujan. Itu juga karena dimintain tolong sih dan di rumah sedang tidak ada papap atau adik. Selain itu, dulu waktu kuliah papap cukup selektif memberikan ijin dengan siapa saya bisa main/sekedar nonton bioskop. Mereka adalah jawaban, kalau sama mereka pasti diijinin, alasannya karena papap tau siapa orang tuanya dan dimana rumahnya. Jadi kalau sama mereka aman hidup gue. hahaha..

Karena terlalu aman, dulu sebelum nikah saya suka nongkrong di Kios Rokok depan mesjid  bersama mereka sampai tengah malam. Saya satu-satunya cewek yang hadir diantara mereka, yang mereka jaga atau lebih tepatnya karena mereka gak menganggap saya cewek sih. hahaha.. Bahkan sampai detik-detik stres persiapan pernikahan, saya masih nongkrong sama mereka, menangis tersedu-sedu karena stres. Dan selama saya nangis mereka tetap merokok sambil ngobrol, ya saya mah nangis aja duduk diantara mereka, lalu sesekali tertawa bersama menertawakan tangisan saya. Satu lagi yang membuat saya sangat nyaman bersama mereka, saya bisa bebas menangis tanpa harus cerita apapun pada mereka, walau mereka kepo atau khawatir tapi mereka memberikan saya ruang untuk bebas memilih antara bercerita atau tidak. Mereka sangat tahu, saya pasti akan cerita jika memang bisa diceritakan. Ah rindu rasanya hadir diantara mereka..

Mereka juga yang membuat saya bertahan jomblo sampai umurnya 23 tahun. hahahaha.. Karena hidup saya tidak pernah sepi, status boleh single, tapi selalu ada gandengan yang mana gandengannya pun tergantung suasana hati, mau jalan sama siapa aja bisa, yang penting available. Hahahaha.. Bahkan kadang kami jalan bareng bersama, sekedar nonton bareng, buka puasa bareng atau liburan. Mereka juga tahu, rumah saya selalu terbuka 24 jam. Saat mereka patah hati, butuh teman cerita atau teman tertawa, mereka tahu saya selalu siap mendengarkan dan menertawakan cerita mereka. Atau saat mereka butuh seseorang buat bangunin nonton bola atau kuliah pagi, mereka juga tahu saya akan siap melakukannya walau tetap dengan ngomel-ngomel ya. Bahkan pernah salah satu diantara mereka akan mengikuti ujian penerimaan pekerjaan, dia minta dibangunin jam 6 (artinya saya harus terus menelpon dia dari 1 jam sebelum nonstop, karena doski kebluk parah) dan begitu udah bangun, dia minta dibikinin bekel makan dan disiapkan alat tulisnya coba! Jadi begitu selesai mandi dia akan berangkat dan mampir ke rumah untuk ambil semua perlengkapannya, kurang baik apa saya jadi sahabat mereka? Tapi kalau saya gak melalukan itu, besok-besok yang traktir nonton, coklat, es krim atau jemput malem-malem siapa? Hahahaha.. Iya, saya menganggap mereka seperti kakak laki-laki saya yang menyebalkan.

Sampai akhirnya saya memiliki pasangan, jarak hadir diantara kami walau bukan kami yang membuat jaraknya, saya mungkin memang tidak bisa lagi hadir diantara mereka ketika tengah malam tiba untuk bersenda gurau di Kios. Tapi mereka tahu, saya tetap ada untuk mereka saat matahari bersinar. Satu demi satu diantara kami menikah, dulu rasanya ini hanya sebuah candaan saat kami semua single, tapi kini benar adanya, kini kami sudah memiliki anak (walau belum semua, karena belum semua juga nikah) dan kini persahabatan kami berubah menjadi keluarga, keluarga yang semakin besar. Layaknya keluarga besar, kami tahu kami akan selalu berkumpul saat Lebaran tiba, di salah satu sisi tempat kami biasa janjian dulu, untuk berkumpul sebelum atau setelah sholat ied berlangsung. Kini tak perlu janjian, kami tahu dimana kami akan saling menemukan.

Teringat salah satu candaan malam kami di teras rumah saya beberapa tahun yang lalu.

“Pokokna mun anak urang bobogohan dengan jeung nu ngaran tukangna mahmud, ku urang rek titah putuskeun!” (Kalau anak saya pacaran sama yang nama belakangnya mahmud, sama saya akan disuruh putusin)

“Pah kenalin pacar aku, namanya Roberto Erlangga”, “Nama bapak kamu dilly erlangga?”, “Iya om, om kenal?”, “Sekarang juga kalian putus! tak sudi papah punya besan dia”

Lalu berakhir dengan “Mun anak si shelly kumaha? kan pasti ngaran salakina. Tingali we mun anak awewe, cerewet siga si shelly pasti anakna” (Kalau anaknya si shelly gimana? nanti kan nama belakangnya nama suaminya. Lihat aja kalau anak perempuan cerewet kayak si shelly, itu pasti anaknya) Mereka semua tertawa, kalau saya ya cemberut. hahahaha..

Ibu Atas Segala Dramanya

Minggu ini, minggu yang cukup berat saya lalui bersama Sawaii, anak kecil yang kini berusia 15 bulan 2 minggu. Bermula dari Sabtu lalu sepulang kami bertiga lari pagi keliling komplek, kami mampir ke warung yang kami lewati untuk sekedar membeli cemilan yang akan kami makan sebelum pulang kerumah. Ketika saya sedang mengantri untuk membayar, Sawaii tejatuh dari sepedahnya. Dia jatuh dari sepedahnya saat mencoba turun sendiri dan jatuh tepat pada tembok warung. Lalu Bapaknya kemana? ada, disebelahnya. Dalam hitungan detik, saat Bapaknya berbalik badan, seketika itu juga Sawaii jatuh tak tertahan. Kami semua kaget, ditambah ada darah bercucuran dari mulutnya. Saya panik, sangat! Ibu mana yang tidak panik melihat anaknya bercucuran darah. Tapi Bapaknya selalu meyakinkan saya untuk tidak panik, saat orang dewasa disekitarnya terutama ibu bapaknya panik, anak akan lebih panik. Saya panik dalam hati, walau masih terlihat gelagapan tapi saya mencoba cepat mencari solusi, membeli air mineral untuk mencuci lukanya tanpa harus langsung membayar, dan  bapaknya terus mencoba meyakinkan sawaii yang terus menangis “Gak apa-apa wai, gak apa-apa yaa”. Selesai membersihkan dan memberi dia minum, saat itu juga saya langsung menyusuinya di kursi depan warung. Saya kala itu menggunakan kerudung cukup panjang, makannya saya memberanikan diri untuk menyusuinya langsung. Karena itu cara ampuh membuat dia tenang, berdekapan, skin to skin. Saat itu juga dia tenang dan kembali ceria (Anak-anak itu makhluk paling luar biasa, dia bisa nangis kencang dan dalam hitungan detik dia bisa berhenti kemudian bermain dan tertawa seolah tidak ada apa-apa) walaupun masih ada darah yang keluar dari mulutnya. Saat itu kami tidak langsung memeriksa apa yang luka, yang kami fikirkan dia tenang dan kita pulang, dirumah baru kita lihat dan apa yang kita lakukan. Kami pun segera membayar belanjaan kami lalu pulang dengan seolah-olah semua baik-baik saja.

Di rumah kami melakukan aktifitas seperti biasa sambil melihat separah apa dan dimana saja luka Sawaii dengan lebih jelas, kami bersikap biasa saja agar Sawaii tidak panik dan rewel, beruntungnya dia memang tidak rewel. Walaupun setelah kami lihat, Sawaii memiliki 3 luka di bagian dagu terdapat baret seperti jenggot kalau dilihat dari jauh kalau Bapaknya bilang, luka di lidah yang cukup lumayan karena mungkin dia kena gigi atau dalam basa sundanya ticatrok, dan gusi yang robek di sekeliling 2 gigi seri bawah. Rasa khawatir saya saat itu membuat saya tidak bisa menangis. Hanya berfikir apa yang perlu saya lakukan, harus langsung ke IGD dokter kah? ini gimana? gak harus dijahit kah? Tapi langkah awal yang saya lakukan saat itu membeli eskrim, iya Sawaii senang eskrim dan kami butuh es itu untuk membuat pendarahan berhenti. Beruntungnya tidak ada tanda demam, tidak rewel dan semua nampak baik-baik saja, maka kami putuskan untuk tidak membawanya ke dokter, kami akan rawat dirumah, genjot asi, makan buah-buahan dan luka luarnya sesekali kami beri betadine. Dalam waktu 3 hari semua luka membaik, luka dagu mengering bahkan sudah lepas kulit keringnya, luka dilidah sudah mengering dan sobekan gusi sudah tertutup alhamdulilah. Proses pemulihan anak balita dari luka itu cepat banget emang :’)

Baru selesai menghela napas sebentar, selasa malam saya merasa suhu badan Sawaii lebih hangat dari biasanya. Jam 22:35 saya cek suhunya 36,5 °C (ketek kanan) dan 37,4 °C (ketek kiri) – kami menggunakan thermometer manual lewat ketek, klasik dan cukup gak efisien sebenernya. hahaha..- Itu pertanda saya harus siaga, dan bersiap genjot pakai asi lagi. Rabu saya gak cek suhu secara khusus tapi intinya masih hangat, yang akhirnya saya putuskan membalur Sawaii menggunakan parutan bawang merah dicampur minyak zaitun + minyak telon (ini cara tradisional yang selama ini cukup ampuh menurunkan demam Sawaii, saya menghindari memberikan obat demam pada Sawaii karena yang kami tahu demam ada reaksi normal saat tubuhnya sedang melawan virus yang masuk, tapi ada batasan sampai suhu berapa sih), namun sayangnya kali ini tidak terlalu membantu, suhunya tetap panas. Kamis saya cek ternyata sudah sampai 38,6 °C. Untuk pertama kalinya saya putuskan memberi obat panas kepada Sawaii, setelah konsul dengan beberapa ibu di grup whatsapp, saya putuskan memberikan sanmol. Sawaii mulai terlihat rewel, maunya nenen (kalau kata Sawaii mah) terus, tidur pun sambil enen. Kalau sampai saya bangun, dia akan ikut bangun.

img_4667
Ketika dekapan Ibu menjadi tempat paling nyaman buat si kecil

Alhamdulilah setelah diberi obat, dia mau makan, main mulai ceria dan tidur lebih pulas tapi ketika saya cek lagi demamnya makin tinggi.  Jam 20:00 suhunya sudah mencapai 39,2-39,6°C, ini panas tertinggi Sawaii. Saya tetap susui dia, karena dia yang minta, dia ingin tidur sambil nenen. Jum’at jam 02:00 dia terbangun, lagi-lagi muntah namun kali ini muntahnya tidak keluar semua, kesalahan posisi membuat dia menelan lagi sebagian besar muntahannya, sehingga yang keluar hanya sedikit. Kebayangkan ya rasanya gak eneg banget, dan si anak teh gak bisa muntahinnya lagi 😦 itu sedih banget, saya cek suhunya ternyata mulai turun 37-38°C. Suhu tubuh memang secara berangsur mulai turun, tapi ternyata itu terakhir kalinya dia nenen secara sadar. Iya, setelah muntah itu, Sawaii selalu menolak untuk nenen. Pertama-tama saya tidak merasa curiga, sesekali saya tawari dia nenen tapi dia menolak, saya fikir dia gak enak aja karena lagi demam, tapi ekspresinya sedih dan tidak bergairah, dia menolak nenen tapi sesekali dia ngomong seolah minta nenen.

Sampai akhirnya saya merasa ada yang tidak beres, saya merasakan patah hati dan sedih. Iya kali ini saya tidak bisa menahan air mata saya, saya menangis saat bersama Sawaii. Saya takut dia weaning self (menyapih sendiri), saya belum siap dan saya yakin Sawaii juga belum siap, kami belum siap. Saya butuh teman berbagi dengan mereka yang paham betapa sulitnya fase sapih bagi seorang ibu. Saya pun chat mereka, tentunya menulisnya pun dengan berurai air mata.

12 jam Sawaii gak mau nenen dong!!
 Ibu : wai mau nenen?
 Sawaii: na (enggak)

 Ibu : wai mau nenen?
 Sawaii : mmm (manggut-manggut)
 Ibu *buka kutang*
 Sawaii : tutup *sambil tangannya menarik bajuku untuk menutup*

 Ibu : wai nenen?
 Sawaii : na
 Ibu : nenennya buat boboboy aja atuh ya?
 Sawaii : mmm (manggut-manggut)
 lalu dia bawa bonekanya, dia kasiin ke nenenku, dan mengambil boneka lainnya suruh nenen lagi

Terus aku pompalah secara udah mulai bengkak, yang pertama aku simpen ke dalam gelas
 Ibu : enum? (minum)
 Sawaii : mmm (manggut-manggut)
 kemudian dia minum sampe habis, karena habis aku pompa lagi, tapi kali ini kelihatan Sawaii. Beres pompa, aku tawarin lagi, dia malah nolak

Terakhir aku pompa lagi, aku simpen ditempat minumnya, dia mau, tetapi sedikit. Lalu gak mau lagi. Aku merasa ditolak, patah hati!

Tadi aku juga sempat ngomong sama dia,  "wai, maaf kalau kemaren-kemaren Ibu suka ngomong sakit kalau Sawaii enenin (karena dia mulai suka gigit-gigit). Sawaii skrg gamau nenen? kalau mau ngomong ya."

Tapi dia jadi lumayan rungsing, sedikit-sedikit minta gendong. Gimana inih?! dari pas dia jatoh sampe gusi sobek gak nangis, sekarang mah nangis aslinya.

Berbagai tanggapan saya terima dari mereka, berempati dengan menyemangati, memberi doa, ikut menangis dengan memberikan emoticon, bahkan memberi saran. Itu cukup membantu, membantu saya membuat tambah menangis tetapi menjadi lebih tenang, mengetahui bahwa saya tidak sendiri, dan merasa ada yang memahami apa yang saya alami. Kayaknya ini perlu banget bagi seorang ibu baru, berbagi cerita dengan mereka yang tetap membuat kita lebih lega dan dapat menjauhi stres berlebihan.

Malam sepulang bapaknya kerja, kami pergi ke dokter spesialis anak terdekat, kami mengkonsultasikan terkait ini. Ternyata Sawaii terkena radang tenggorokan dan perut kembung, dan akhirnya dia memberikan kami beberapa resep obat. Mengenai menolak menyusu, beliau hanya berkata “Setelah sembuh, ada kemungkinan dia mau menyusu dengan normal kembali, tapi bisa saja tidak karena memang anak 1 tahun itu nutrisinya tidak bisa hanya mengandalkan ASI” sumpahnya ini dokter gak peka, rasanya ingin bilang jawab “TAPI DOK, SAYA GAK BISA DIGINIIN! SAYA BELUM SIAP DOK!” Tapi udahlah, sekarang fokus Sawaii sembuh dulu, mengenai menyusui kita bahas nanti (rencananya).

Faktanya, saya selalu mencoba berbicara pada Sawaii, saya meminta maaf sama Sawaii kalau terakhir2 setelah kejadian dia jatuh saya sering mengeluh sakit saat dia nenen, saya merasa dia jadi lebih sering menggigit saat menyusu yang membuat saya kesal, saya juga memberi tahunya bahwa semua akan baik-baik saja, kita hanya perlu menjalaninya karena cepat atau lambat ini akan terlewati, sawaii akan sembuh dan bisa nenen kembali.

Oia seperti yang saya bilang sebelumnya, Sawaii menolak susu dalam keadaan sadar, saat tidak sadar seperti tidur, dia tetap mau nenen. Tapi sampai tahap dia tidur itu perlu perjuangan karena biasanya dia tidur sambil nenen. Ada drama yang gak kalah kayak sinetron yang sulit tamat dan terus-terusan nambah pemeran. Drama itu membuat kekhawatiran seluruh penghuni rumah (Yaitu kakek dan Neneknya). Tapi percayalah gaes kekhawatiran dan kepanikan yang katanya tanda sayang itu tidak membuat keadaan semakin membaik, yang ada membuat si Ibu makin stres dan ketika Ibu stres, anak jadi makin rewel. So, please gaes kalau kalian ada di sekeliling mereka yang sedang pada fase itu, bantu mereka untuk tidak ikutan riweuh, biarkan mereka menikmati waktu itu untuk menemukan jawabannya sendiri. Karena kadang yang mereka perlukan hanya bertahan, membiarkan mereka menikmati fase itu berlalu dan mereka akan belajar dengan sendirinya. Tuhan aja udah percaya nitipin makhluknya sama orang tuanya, masa kakek neneknya gak percaya. Percayalah sang ibu dan bapak bisa melaluinya, ya kecuali kalau dimintain tolong ya. Kadang inisiatip berlebih dengan maksud baik, gak selalu sampai dengan baik.

Sabtu, demam sudah membaik, nenen secara tidak sadar lancar, sarapan bubur pun lahap, namun dia tak kunjung membaik, semenjak dia menolak nenen secara sadar, dia semakin menjadi rewel, serta galak termasuk kepada bapaknya sendiri padahal biasanya best friends banget sama bapaknya. Maunya digendong, main apapun cepat bosan, semua serba salah. Dan saya tetap mencoba memberi dia enen walau hasilnya di tolak dan tetap diajak ngobrol walau jawabannya tetap “na”

Hari minggu pagi, mulai terlihat bintik merah pada pada tubuh Sawaii bahkan sampai sebagian wajah. Apa ini? Bukan Campak kan? harus ke dokter lagi? Rasanya lelah luar biasa, belum selesai sudah ada lagi yang lain. Alhamdulilah, ternyata bintik itu adalah Roseola Infantum, penyakit infeksi virus yang cukup ringan dan umum terjadi yang biasanya menyerang bayi atau anak-anak usia antara 6 bulan sampai 3 tahun, itu terjadi setelah si anak mengalami demam tinggi.

Saya tahu semua akan berlalu, saya sadar yang saya harus lakukan adalah bertahan dan ikhtiar semampu kita berikhtiar. Yang saya tidak tahu, sampai kapan? Rasanya akan jauh lebih mudah bila kita tahu sampai kapan kita harus bertahan. Beruntungnya, saya memiliki partner yang luar biasa. Iya bapaknya Sawaii, dari jaman sahabatan sampai sekarang, saya tahu dia akan selalu ada, dia akan selalu sabar dan siap bergantian bertahan saat saya kelelahan berjalan untuk terus bertahan. Menemani bangun malam untuk sekedar mengelap muntah Sawaii, menyiapkan air minum hangatnya saat saya harus terus memeluk Sawaii, bergantian bermain bersama Sawaii, menyemangati dan memberikan apresiasi setiap peningkatan dari kondisi Sawaii. Iya saya yakin kita bisa melewatinya dengan baik, ayo bertahan.

Dan dengan segala suka cita atas minggu ini, kami sangat bersyukur. Hari ini saya bisa berkata, semua mulai membaik sedikit demi sedikit. Sawaii mau nenen kembali secara sadar tanpa berkata “na” dengan usaha pendekatan pelan-pelan, menumbuhkan kembali kepercayaannya bahwa dengan mengatakan salah satunya “Sawaii jangan takut, gakan muntah lagi, muntah kemarin karena Sawaii sedang tidak enak badan, perut kembung dan tenggorokannya sakit, sekarang sudah membaik dan Sawaii bisa nenen enak lagi”. Demam sudah hilang, bintik merah mulai memudar, napsu makan baik, yang paling penting dia sudah kembali ceria dan bawel. Alhamdulilah ya Allah. Terima kasih! Kami belajar semakin banyak, sangat banyak bahkan. Dan Terima kasih luar biasa kepada para sahabat yang telah turut mendoakan serta rela diruntahin kegalauan ibu satu anak ini. Baru satu anak aja gini shel, yakin mau banyak? Etapi katanya kalau anaknya makin banyak makin selow sih. Jadi gimana nih? Hahaha..

img_4734
Pagi ini, saat keadaan berangsur-angsur membaik dan pengennya makan sendiri

unnamed

Manusia Penikmat Rindu

 

Kami manusia penikmat rindu, rindu itu hadir karena jarak. Jarak yang sesungguhnya atau jarak secara artifisial. Hati yang berjarak membuat rindu, rindu yang tak terselesaikan membuat rasa tak menentu.

Rindu tak melulu hanya untuk mereka yang seharusnya dirindukan, kadang rindu ada untuk mereka yang ingin kamu tinggalkan bersama kenangannya, bukan berarti dia tak berarti tapi karena kamu tau artinya terlalu besar sehingga kamu perlu membiarkan dia pergi bersama kehidupannya sendiri menjauh dari kehidupanmu.

Rindu yang harusnya tidak pernah ada karena dari dulu memang tidak pernah ada kata KITA dalam perjalanannya. Rindu yang tidak pernah kamu tunggu tapi hadir mengisi hari-harimu. Atau sebenarnya dia yang rindu kamu?

Rindu ini hadir tanpa diminta, dia datang tanpa bicara, dia datang begitu saja dan bersemayam di dalam sebuah kebimbangan, kebimbangan atas apa yang sudah terlewati bersama, dia datang membuka memori lama yang sudah kamu tinggalkan, berdebu atau justru kamu simpan dalam tempat istimewa?

Apakah setiap rindu perlu diselesaikan? atau biarkan dia menikmati caranya sendiri sampai dia lelah dan menguap begitu saja?

Ya, Tuhan selalu pintar membuat kita berdoa, berdoa dan memohon melepaskan rindu dengan cara yang terbaik.

tumblr_mm4femlb7v1qlcjtvo1_500
kamu inget aku gak? aku kangen nih..

unnamed

Berbagi Resep : Chicken Katsu with Cheese

Bahwasannya saya termasuk kaum perempuan yang kalau disuruh masak malesnya mintaaa ampun deh. Tapi semenjak punya suami dan anak, mau gamau harus ke dapur walaupun masih tinggal bareng mamah papap (yang mana artinya makan utama masih nebenglah ya).

Alasan lain kenapa saya males banget masak adalah saya tidak begitu suka diintervensi mamah ketika masak, belum apa-apa udah salah, belum apa-apa udah dikomentarin ini itu, selalu ada aja yang salah gak sesuai. Sekalinya benar, gak dikasih apresiasi. Mungkin karena mamah dulu working mom kali ya, jadi waktu dia gak banyak, sehingga waktu terbatasnya dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbaiki yang salah (mungkin…) atau dia tidak terbiasa mengapresiasi, iya apresiasi itu seperti berkata maaf, terkesan mudah tapi untuk beberapa orang itu sangat sulit sekali. Biasanya mereka yang memiliki kesulitan berkata tersebut memilih untuk menunjukannya lewat sikap. Dan membiarkan ketidakbiasaannya itu menjadi hal yang biasa tanpa mereka sadar mereka tidak hanya membentuk mereka sendiri, tapi membentuk orang lain juga. Tapi biar bagaimanapun, kemarin membentuk saya saat ini, kemarin membuat saya belajar. Belajar mengapresiasi dengan sikap dan kata, belajar berkata maaf kepada siapapun.

Kembali, Saya kini belajar memasak sendiri dengan bermodal search google atau melalui aplikasi resep di handphone yang smart. Menu yang saya pilih tentunya yang mamah belum pernah bikin sebelumnya bukan karena takut diintervensi mamah ya, atau jangan tanpa sadar iya ya? hahaha.. Apapun itu, mari coba berdamai dengan masa lalu dan fokus memasak. Oia, setelah menikah kayaknya ini pertama kalinya saya mencoba masak makanan utama, karena biasanya saya hanya bikin-bikin kue atau cemilan sih. Kali ini saya mencoba membuat Chicken Katsu with Cheese, kenapa saya pilih ini? karena mudahlah. hahahaha..

Bahan :

250 gr           Ayam Fillet

100 gr           Terigu

1 bh                Telur (kocok)

100 gr            Tepung Roti

2 siung          Bawang Putih

Secukupnya  Garam

Secukupnya  Merica

2 bh               Tusuk Gigi

2 lembar        Keju

Cara membuat :

  1. Cuci bersih ayam fillet, lalu tiriskan. Belah ayam tanpa membuatnya putus, Pukul-pukul ayam hingga ketebalan berkurang.
  2. Setelah pipih, simpan pada wadah lalu bumbui dengan bawang putih, garam dan merica yab telah diulek sebelumnya, simpan dalam kulkas. Diamkan semaleman atau beberapa jam agar bumbu meresap. Atau kamu bisa menggunakan bumbu instan sih untuk mengganti bumbu ulekannya 😀
  3. Masukkan satu keju kedalam ayam yang telah diungkep lalu tusuk bagian luarnya menggunakan tusuk gigi, agar saat digoreng tidak lepas-lepas
  4. Celupkan ayam kedalam telur, lalu lumuri terigu, lalu celupkan lagi kedalam telur lalu dilumuri dengan tepung roti, lakukan 2 kali.
  5. Lalu goreng pada minyak mendidih dengan api kecil, menggorengnya bisa menggunakan panci
  6. Setelah warna kecoklatan, angkat dan Chicken Katsu siap disajikan 😀

 

Bagaimana mudahkan? Karena memasak itu ternyata tentang kemauan atau bahasa prancisnya kadaek. Jadi mau coba gak? kalau, ya Selamat mencoba! 😀

 

Berbagi Resep : Donut Kentang

Saya itu tidak pandai memasak, tapi saya suka membuat kue. Saya suka manis, semanis yang selalu mendukung saya membuat kue (eaaa…). Sebagai pecinta donut, roti dan sejenisnya, saya selalu penasaran bagaimana membuatnya. Sudah berkali-kali ‘BERNIAT’ mencoba membuatnya, tapi lapur seiring membaca resepnya. hahaha..

Kali ini, dengan niat yang kuat serta dukungan Reza dan Sawaii yang membutuhkan cemilan maka saya mengumpulkan keberanian dan keyakinan untuk membuat donat. Saya pun melakukan pencarian Resep Donut yang lembut, yang simple dan mudah pembuatannya. Dari sekian banyak resep, saya pun menjatuhkan pilihan pada salah satu resep yang akan saya share ya..

Bahan :

3 gelas*     Tepung Terigu (Segitiga Biru) diayak terlebih dahulu

1 gelas        Susu Full Cream (Ultra 200ml)

1 buah         Kentang direbus dan kemudian dihaluskan

1 buah         Telur

3 sdm          Gula Pasir

1/2 sdt         Garam

1 bungkus   Vanilli

3 sdt             Ragi (Fermipan)

2 sdm          Margarin (Blue Band)

* gelas menggunakan kelas belimbing standart

Cara Membuat :

  1. Masukan Susu Full Cream, Telur, Gula, Garam dan Vanilli aduk menggunakan mixer / kocok sampai menyatu semua bahannya
  2. Tambahkan 3 sdm Tepung Terigu, aduk sampai rata.
  3. Tambahkan 3 sdt ragi, aduk sampai rata
  4. Tambahkan 2 sdm margarin, aduk kembali sampai rata (kenapa dilakukan satu persatu, tidak langsung? supaya raginya bisa mengembang sempurna ya)
  5. Setelah tercampur semua, tambahkan kentang yang telah dihaluskan dengan 2 gelas tepung terigu yang telah diayak sebelumnya. Uleni sampai kalis elatis, jika belum kalis boleh ditambahkan terigu sampai adonan kalis dan elastis ya
  6. Setelah adonan kalis elastis, tutup adonan menggunakan kain serbet yang bersih dan diamkan 30 menit. Adonan akan mengembang 2x lipat.
  7. Setelah adonan mengembang, pukul adonan agar gas didalam adonan keluar
  8. Bagi adonan kira-kira 50 gram, lalu bentuk bulat dan licin disemua bagian. Diamkan kembali 15 menit
  9. Ambil adonan pertama, pipihkan dan ambil tutup botol, lalu lubangi tengahnya. Lakukan untuk semua adonan
  10. Panaskan minyak goreng, setelah panas, kecilkan api lalu masukan adonan donat tersebut.
  11. Setelah selesai berikan toping sesuai selera dan sajikan untuk mereka yang tersayang

Katanya mah, Cooking is love made visible. Jadi kamu mau menyatakan cinta pakai makanan apa?